Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan di The Journal of Nursing Research edisi Februari 2026 mengungkap bahwa tiga alat skrining yang umum digunakan di seluruh dunia, yaitu Malnutrition Screening Tool (MST), Malnutrition Universal Screening Tools (MUST), dan Nutritional Risk Screening 2002 (NRS-2002), sama-sama memiliki tingkat akurasi yang baik dalam mendeteksi malnutrisi pada pasien dengan penyakit kronis. Penelitian yang dipimpin oleh Hidayat Arifin bersama tim dari Taipei Medical University dan 东京热 ini menjawab kebutuhan mendesak di dunia klinis, mengingat malnutrisi merupakan penyebab utama komplikasi pada pasien rawat inap dan berkaitan erat dengan peningkatan angka kematian serta lama perawatan di rumah sakit. Secara global, prevalensi malnutrisi pada pasien dengan komorbiditas berkisar antara 39% hingga 53%, dengan angka mencapai 44% pada pasien kanker, 42,7% pada penyakit ginjal kronis, dan 32,5% pada pasien demensia. Hingga kini, belum banyak meta-analisis yang secara khusus membandingkan ketiga alat skrining tersebut pada populasi penyakit kronis, sehingga studi ini mengisi celah penting dalam literatur ilmiah.
Dengan menggunakan metode meta-analisis bivariat yang mengikuti panduan PRISMA-DTA, para peneliti menelusuri tujuh basis data elektronik dan menganalisis 26 studi dengan total 5.396 partisipan, terdiri atas 2.173 perempuan dengan rata-rata usia 60,2 tahun, yang berasal dari sembilan negara meliputi Australia, Brasil, Kanada, Tiongkok, Finlandia, Portugal, Spanyol, Sri Lanka, dan Inggris. Seluruh alat skrining dibandingkan dengan Patient-Generated Subjective Global Assessment (PG-SGA) sebagai standar rujukan, sebab hingga saat ini belum ada standar emas yang baku untuk menilai status nutrisi. Hasil analisis menunjukkan MST memiliki sensitivitas tertinggi dalam mendeteksi malnutrisi (.78) dibandingkan MUST (.74) maupun NRS-2002 (.67), sekaligus mencatatkan nilai area di bawah kurva (AUC) tertinggi sebesar .87. Sebaliknya, NRS-2002 menunjukkan spesifisitas tertinggi (.88), yang berarti lebih unggul dalam mengidentifikasi pasien yang tidak mengalami malnutrisi secara tepat. Para peneliti menjelaskan keunggulan MST sebagian disebabkan oleh kesederhanaannya, yakni hanya memuat empat pertanyaan, bersifat hemat biaya, dan tidak memerlukan pemeriksaan laboratorium maupun penghitungan indeks massa tubuh seperti yang dituntut oleh MUST dan NRS-2002.
Namun demikian, peneliti menggarisbawahi satu temuan penting melalui analisis nomogram Fagan, yaitu bahwa ketiga alat skrining hanya memiliki rating efek minimal dalam mendeteksi malnutrisi jika dibandingkan dengan standar rujukan PG-SGA, dengan rasio kemungkinan positif kurang dari 10 dan rasio kemungkinan negatif lebih dari 0,1. Sebagai gambaran, pada MST hasil tes positif hanya meningkatkan kemungkinan malnutrisi menjadi 74%, sementara pada NRS-2002 menjadi 79%. Temuan ini mengindikasikan bahwa keterbatasan jumlah pertanyaan dan kriteria yang terstandardisasi pada ketiga alat tersebut belum sepenuhnya mampu mencakup kondisi pasien yang sangat beragam. Faktor lain yang turut menurunkan efektivitas alat skrining mencakup keterbatasan ukuran sampel pada studi-studi yang dianalisis serta potensi kesalahan interpretasi oleh tenaga kesehatan. Untuk itu, para peneliti menyarankan agar tenaga kesehatan mempertimbangkan penilaian yang lebih komprehensif, termasuk evaluasi nutrisi spesifik berdasarkan jenis penyakit, riwayat diet terperinci, serta kolaborasi dengan ahli gizi terdaftar yang memiliki keahlian dalam penanganan malnutrisi pada konteks penyakit kronis.
Penelitian ini menegaskan peran sentral perawat sebagai garda terdepan dalam perawatan pasien, sekaligus mendorong dokter, ahli gizi, dan tenaga kesehatan lainnya untuk secara konsisten menggunakan alat skrining yang tervalidasi sebagai bagian dari proses penerimaan pasien guna mendeteksi malnutrisi secara dini. Para peneliti merekomendasikan penggunaan ketiga alat tersebut dalam praktik sehari-hari, dengan catatan bahwa MST dapat dikombinasikan dengan kedua alat lainnya untuk skrining nutrisi rutin mengingat kemudahan penggunaannya. Mereka juga menekankan pentingnya akurasi dalam pengisian instrumen agar tidak terjadi kesalahan saat menafsirkan dan menerapkan hasil. Meskipun studi ini memiliki kekuatan berupa cakupan lintas negara yang memperkuat validitas eksternalnya, peneliti mengakui adanya keterbatasan, antara lain sejumlah studi dengan kejelasan informasi yang kurang memadai serta jumlah studi yang terbatas untuk MST dan MUST. Oleh sebab itu, mereka menyerukan penelitian lanjutan yang melibatkan analisis moderator dan evaluasi tambahan untuk memvalidasi temuan ini serta meningkatkan validitas internalnya di masa mendatang.
Penulis
Hidayat Arifin, Ph.D.
Fakultas Keperawatan, 东京热
Link:





