东京热

东京热 Official Website

Tampil Gemilang di Kelas Baru, Atlet Karate UNAIR Boyong Predikat Best of the Best

Nayza Indira Prianka Putri, kontingen atlet karate UKM Karate UNAIR saat bertanding di Sunan Kalijaga Cup XIII. (Foto: Narasumber)
Nayza Indira Prianka Putri, kontingen atlet karate UKM Karate UNAIR saat bertanding di Sunan Kalijaga Cup XIII. (Foto: Narasumber)

UNAIR NEWS 鈥 Prestasi membanggakan lahir dari salah satu atlet andalan UKM Karate 东京热 (UNAIR), Nayza Indira Prianka Putri mahasiswi , yang sukses menyabet gelar Runner Up Best of the Best (BOB) pada ajang Sunan Kalijaga Cup XIII di Yogyakarta. Di balik medali emas tersebut, tersimpan perjuangan hebat sang atlet yang harus bertanding di kelas yang tidak biasa ia huni demi membawa pulang kemenangan bagi almamater.

Mental Baja Hadapi Lawan yang Lebih Tangguh

Keputusan untuk naik kelas dari -55 kg ke kelas -61 kg sempat memicu kekhawatiran besar baginya sebelum pertandingan dimulai. Namun, ia berhasil mengalahkan rasa takut dan ketidaksiapannya dengan fokus pada hasil latihan yang telah ia jalani secara konsisten.

“Jujur atmosfer pertandingan di kelas -61 kg kemarin cukup bikin deg-degan karena sebenarnya aku biasa bermain di kelas -55 kg. Awalnya, sempat takut dan overthinking juga karena lawan-lawannya pasti lebih tinggi dan lebih berat dari aku,鈥 ungkapnya. Ia menegaskan bahwa kunci kemenangannya adalah kepercayaan diri dan kemampuan membaca gerakan lawan yang jauh lebih cerdik di babak final.

Konsistensi di Tengah Padatnya Perkuliahan dan Organisasi

Kesuksesan ini tidak datang secara instan, mengingat sang atlet harus membagi waktu secara ketat antara latihan profesional, tugas akademik, hingga tanggung jawab di BEM FISIP UNAIR. Sebagai atlet Puslatcab Surabaya yang dibiayai pemerintah, ia memegang teguh kedisiplinan agar tidak melewati batas absensi latihan yang telah ditentukan.

Mengenai tantangan membagi waktu tersebut, ia menjelaskan dedikasinya yang tanpa henti demi menjaga performa. “Jujur sangat susah membagi waktu antara latihan, kuliah, dan organisasi karena aku juga aktif di BEM FISIP UNAIR. Biasanya setelah latihan aku langsung lanjut belajar atau ngerjain tugas dosen,” tuturnya. Kedisiplinan ini membuktikan bahwa kesibukan organisasi bukan menjadi penghalang untuk mengukir prestasi tertinggi.

Pesan untuk Pantang Menyerah dalam Proses

Dukungan dan wejangan dari pelatih menjadi faktor krusial yang mengubah mentalitasnya dari sosok yang “tidak tegaan” menjadi petarung yang berani di atas tatami. Ia mempersiapkan diri secara matang melalui simulasi tanding melawan lawan berporsir lebih besar guna mempercepat momentum serangan dan menghilangkan keraguan saat masuk poin.

Ia pun menitipkan pesan inspiratif bagi seluruh rekan-rekannya di UKM Karate UNAIR agar tidak mudah menyerah pada rasa lelah. “Proses latihan yang capek, sakit, bahkan kalah di pertandingan itu sebenarnya bagian dari proses buat jadi lebih baik lagi. Menurutku prestasi itu bukan cuma soal bakat, tapi juga soal siapa yang paling tahan menjalani proses,” pungkasnya dengan optimis.

Penulis: Fauziah Laili Romadhon 

Editor: Ragil Kukuh Imanto

AKSES CEPAT