Kesehatan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh kondisi fisik, tetapi juga oleh kesehatan mental. Dalam beberapa tahun terakhir, masalah psikologis seperti depresi, kecemasan, dan stres semakin menjadi perhatian, terutama setelah pandemi COVID-19. Di sisi lain, keluhan muskuloskeletal seperti nyeri leher, bahu, dan punggung juga menjadi masalah kesehatan yang sering dialami orang dewasa. Penelitian terbaru di Malaysia menunjukkan bahwa kedua masalah tersebut ternyata saling berkaitan.
Penelitian yang melibatkan 391 orang dewasa Malaysia ini menemukan bahwa kecemasan merupakan bentuk gangguan psikologis yang paling banyak dialami responden, dengan prevalensi mencapai 45%. Sementara itu, depresi dialami oleh 36,3% responden dan stres sebesar 22,5%. Meskipun sebagian besar responden masih berada pada kategori normal, angka tersebut menunjukkan bahwa beban kesehatan mental pada masyarakat dewasa masih cukup tinggi.
Dari sisi kesehatan fisik, sebanyak 44,3% responden melaporkan mengalami sedikitnya satu keluhan muskuloskeletal dalam tujuh hari terakhir. Keluhan yang paling sering muncul adalah nyeri pada leher (18,2%), bahu (17,1%), dan punggung bawah (17,1%). Temuan ini mengindikasikan bahwa hampir setengah populasi dewasa mengalami gangguan pada sistem otot dan rangka yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari serta kualitas hidup.
Penelitian ini juga mengungkap adanya perbedaan tingkat depresi, kecemasan, dan stres berdasarkan karakteristik sosial-demografis. Kelompok usia muda (18–39 tahun) menunjukkan tingkat depresi, kecemasan, dan stres yang lebih tinggi dibandingkan kelompok usia yang lebih tua. Selain itu, individu yang belum menikah cenderung memiliki tingkat gangguan psikologis lebih tinggi dibandingkan mereka yang sudah menikah. Faktor pendidikan juga berperan, di mana responden dengan pendidikan tinggi menunjukkan tingkat depresi, kecemasan, dan stres yang relatif lebih tinggi dibandingkan kelompok berpendidikan menengah.
Temuan yang paling menarik dari penelitian ini adalah hubungan antara stres dan masalah muskuloskeletal. Setelah mempertimbangkan faktor usia, etnis, status pernikahan, dan tingkat pendidikan, peneliti menemukan bahwa semakin tinggi tingkat stres seseorang, semakin banyak pula keluhan muskuloskeletal yang dialaminya. Dengan kata lain, stres bukan hanya memengaruhi kondisi psikologis, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan fisik, khususnya sistem otot dan rangka.
Hubungan ini dapat dijelaskan melalui berbagai mekanisme. Individu yang mengalami stres cenderung memiliki pola hidup kurang sehat, seperti kurang berolahraga, duduk terlalu lama, postur tubuh yang buruk, atau kualitas tidur yang rendah. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko munculnya nyeri pada leher, bahu, maupun punggung. Sebaliknya, nyeri kronis yang berlangsung lama juga dapat memperburuk kondisi psikologis seseorang, sehingga menciptakan lingkaran masalah yang saling memperkuat.
Hasil penelitian ini memberikan pesan penting bahwa kesehatan mental dan kesehatan fisik tidak dapat dipisahkan. Upaya pencegahan dan penanganan gangguan muskuloskeletal perlu disertai perhatian terhadap kondisi psikologis individu. Pendekatan pelayanan kesehatan yang terintegrasi antara aspek fisik dan mental menjadi semakin penting untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat di era pascapandemi. Dengan mengelola stres secara efektif, masyarakat tidak hanya dapat menjaga kesehatan mental, tetapi juga mengurangi risiko berbagai keluhan fisik yang menyertainya.
Penulis: Dr. Hariyono, M. Kep Dosen Sekolah Pascasarjana Uniar
Detail tulisan ini dapat dilihat di:





