UNAIR NEWS 鈥 Penerapan Tes Kompetensi Akademik (TKA) sebagai syarat jalur prestasi seleksi masuk sekolah maupun perguruan tinggi terus menuai diskusi. Alih-alih menjadi alat ukur objektif, standardisasi nasional ini dinilai menyimpan persoalan struktural. Pakar 东京热 (UNAIR), Rafi Aufa Mawardi SSosio MSosio, mengingatkan bahwa sistem evaluasi yang serba sama ini berisiko melanggengkan jurang pemisah di masyarakat.
Menurut Rafi, TKA dirancang dengan paradigma mendatar yang menganggap seluruh siswa memiliki titik awal yang sama. Padahal, realitas lapangan menunjukkan ketimpangan curam dari aspek ekonomi maupun infrastruktur pendidikan.
鈥淪istem ini mengukur kemampuan semua siswa secara sama tanpa melihat ketimpangan infrastruktur dan ekonomi daerah. Akibatnya, nilai TKA yang tinggi didominasi siswa dari sekolah elite atau latar belakang mapan. TKA akhirnya justru mereproduksi dan mempertahankan ketimpangan sosial yang sudah ada,鈥 kata Rafi.
Tekanan Struktural dan Kapitalisasi Kecurangan
Mengenai maraknya kasus kebocoran soal dan kecurangan tes, Rafi memandang fenomena ini bukan sekadar masalah amoralitas individu siswa. Secara sosiologis, tindakan menyimpang tersebut lahir akibat adanya tekanan sosial (social pressure) yang luar biasa besar dari lingkungan sekitar. Seperti tuntutan orang tua dan target sekolah.

鈥淎da kondisi di mana aktor sosial tidak mampu mendapatkan akses legal terhadap hal yang diinginkan, sehingga mengambil jalan pintas. Masalah ini kian kompleks karena dieksploitasi oknum secara terstruktur untuk dikapitalisasi demi mencari keuntungan materi. Ini bentuk kriminalitas baru yang memanfaatkan rapuhnya sistem kita,鈥 urainya.
Rafi menegaskan jika kualitas pendidikan di tingkat fundamental tidak segera diratakan, fungsi pendidikan sebagai alat mobilitas sosial kelas bawah akan lumpuh. 鈥淜etika pendidikan tidak merata, eskalasi sosial mandek. Kelompok marjinal tetap kesulitan, sementara kelompok elite terus mereproduksi kualitas mereka sehingga kesenjangan kian melebar dalam 10 hingga 15 tahun ke depan,鈥 tandasnya.
Sengkarut Anggaran dan Reformasi Pendidikan
Rafi juga mengkritisi fokus kebijakan anggaran pendidikan nasional yang kurang tepat dalam menyelesaikan masalah literasi dan numerasi dasar. Pemerintah harus melakukan rebudgeting agar kembali fokus pada fondasi dasar di tingkat pendidikan usia dini dan dasar, utamanya matematika dan literasi membaca.
鈥淛ika kemampuan dasar ini tidak dibenahi melalui restrukturisasi kebijakan yang pas, kualitas SDM kita dalam menghadapi tantangan dunia kerja masa depan dipertanyakan,鈥 tegas Rafi.
Sebagai solusi jangka panjang, Rafi menawarkan tiga strategi sosiologis berurutan. Yakni pembenahan kehendak politik (political will), kesejahteraan pendidik, dan pemerataan infrastruktur. Ia menekankan reformasi ini mutlak mengutamakan kualitas manusia sebelum menyentuh aspek fisik.
鈥淣ilai TKA yang rendah adalah representasi sosial dari buruknya kualitas sistem pendidikan kita, bukan kelemahan kognitif siswanya. Pemerintah harus segera menggeser arah kebijakan menuju inklusivitas ekonomi dan kurikulum yang berorientasi pada cara berpikir kritis,鈥 pungkasnya.
Penulis: Muhammad Yasir Dharmawan D.
Editor: Yulia Rohmawati





