Layanan Online Food Delivery (OFD) mengalami pertumbuhan yang sangat pesat seiring perkembangan teknologi informasi dan meningkatnya penggunaan internet serta smartphone. Model bisnis ini menghubungkan pelanggan, restoran, pengemudi, dan platform digital dalam satu ekosistem layanan yang kompleks. Di Indonesia, layanan seperti GoFood dan GrabFood menjadi contoh utama penerapan OFD yang melibatkan berbagai keputusan operasional, seperti penentuan pengemudi, pengelolaan pesanan, dan efisiensi pengiriman. Kompleksitas interaksi antar entitas tersebut menyebabkan pendekatan matematis konvensional sering kali kurang mampu menggambarkan dinamika sistem secara menyeluruh. Oleh karena itu, penelitian ini mengusulkan penggunaan Agent-Based Modeling and Simulation (ABMS) yang diintegrasikan dengan Geographic Information System (GIS) untuk mengevaluasi kinerja layanan OFD secara lebih realistis.
Penelitian ini bertujuan merancang model simulasi yang mampu merepresentasikan proses operasional layanan OFD dan mengevaluasi berbagai indikator kinerja yang penting bagi perusahaan maupun mitra pengemudi. Model dikembangkan dengan mengadopsi mekanisme layanan yang umum digunakan oleh GoFood dan GrabFood di Indonesia. Integrasi GIS dilakukan untuk menghadirkan kondisi spasial yang lebih mendekati dunia nyata, terutama dalam representasi jaringan jalan dan pergerakan pengemudi selama proses pengantaran.
Model yang dikembangkan melibatkan tiga agen utama, yaitu pelanggan, merchant, dan pengemudi. Pelanggan melakukan pemesanan makanan melalui platform, merchant menerima dan memproses pesanan menggunakan aturan FIFO (First In First Out), sedangkan pengemudi bertugas mengambil pesanan dari merchant dan mengantarkannya kepada pelanggan. Platform tidak dimodelkan sebagai agen tersendiri, tetapi direpresentasikan melalui atribut global yang mengatur proses pencocokan atau penugasan pengemudi dan pencatatan informasi sistem. Beberapa asumsi digunakan untuk menyederhanakan model, antara lain makanan selalu tersedia, waktu pemrosesan pesanan konstan, kecepatan pengemudi relatif tetap, serta permintaan pesanan mengikuti distribusi eksponensial.
Implementasi model dilakukan menggunakan perangkat lunak NetLogo dengan dukungan ekstensi GIS dan Network (NW). Lingkungan simulasi dibangun berdasarkan data jaringan jalan utama di wilayah Sukolilo, Surabaya, yang diperoleh dari OpenStreetMap dan diolah menggunakan QGIS. Area simulasi mencakup sekitar 16,8 km虏 dengan 1.366 titik simpul dan 1.483 ruas jalan. Model menggunakan 11 merchant, 10 pengemudi, serta parameter operasional yang disesuaikan dengan kondisi layanan OFD di Indonesia, termasuk tarif dasar, biaya per kilometer, harga bahan bakar, dan kecepatan rata-rata pengemudi sebesar 20 km/jam.
Kinerja sistem dievaluasi menggunakan empat indikator utama, yaitu rasio ETA/ATA, dispatch distance, jumlah pesanan yang dilayani, dan pendapatan pengemudi. ETA (Estimated Time of Arrival) menunjukkan estimasi waktu kedatangan, sedangkan ATA (Actual Time of Arrival) menunjukkan waktu aktual yang dibutuhkan sejak pesanan dibuat hingga diterima pelanggan. Simulasi dilakukan selama empat jam yang merepresentasikan satu periode makan siang atau makan malam. Sebanyak 18 skenario diuji dengan mengombinasikan tiga radius pencarian pengemudi (1 km, 2 km, dan 3 km), serta enam tingkat kedatangan pelanggan (5, 10, 15, 20, 25, dan 30 pelanggan per jam). Untuk meningkatkan reliabilitas hasil, setiap skenario direplikasi sebanyak 100 kali.
Hasil simulasi menunjukkan bahwa peningkatan tingkat kedatangan pelanggan cenderung menurunkan rasio ETA/ATA, yang mengindikasikan meningkatnya tekanan terhadap sistem layanan. Di sisi lain, peningkatan tingkat kedatangan pelanggan menyebabkan meningkatnya dispatch distance, jumlah pesanan yang berhasil dilayani, serta pendapatan pengemudi. Temuan lain menunjukkan bahwa perbedaan kinerja antara radius pencarian 2 km dan 3 km relatif kecil pada sebagian besar indikator. Hal ini mengindikasikan bahwa peningkatan radius pencarian tidak selalu memberikan perubahan yang berrati. sehingga peningkatan radius pencarian tidak selalu menghasilkan peningkatan performa yang signifikan. Dengan demikian, radius layanan merupakan parameter operasional penting yang perlu dipertimbangkan dalam pengelolaan OFD karena mempengaruhi efisiensi layanan dan produktivitas pengemudi.
Penelitian ini berkontribusi dalam menyediakan kerangka evaluasi layanan OFD berbasis ABMS-GIS yang mampu merepresentasikan interaksi antar aktor dan kondisi spasial dibandingkan pendekatan analitis yang sederhana. Model yang dikembangkan berpotensi digunakan sebagai alat pendukung pengambilan keputusan operasional bagi perusahaan penyedia layanan OFD. Meskipun demikian, penelitian masih memiliki beberapa keterbatasan, antara lain penggunaan wilayah simulasi yang relatif kecil, asumsi tingkat permintaan merchant yang seragam, tidak mempertimbangkan kondisi lalu lintas dan antrean offline pada merchant, serta belum melalui proses validasi yang memadai terhadap kondisi operasional nyata. Oleh karena itu, penelitian lanjutan diperlukan untuk meningkatkan akurasi model melalui penggunaan data empiris yang lebih lengkap, cakupan wilayah yang lebih luas, serta integrasi faktor-faktor operasional yang lebih kompleks.
Penulis: Dyah Herawatie





