Peternakan ruminansia seperti sapi, kambing, dan domba memegang peranan penting dalam penyediaan pangan asal hewan. Namun, di balik potensi besar sektor peternakan, terdapat ancaman yang sering kali kurang mendapat perhatian, yaitu penyakit parasit. Penyakit ini tidak hanya menurunkan kesehatan ternak, tetapi juga menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan akibat penurunan produksi susu, pertumbuhan yang lambat, gangguan reproduksi, hingga kematian ternak.
Wilayah tropis seperti Indonesia memiliki kondisi lingkungan yang sangat mendukung perkembangan berbagai jenis parasit. Suhu yang hangat, kelembapan tinggi, dan curah hujan yang cukup menciptakan habitat ideal bagi parasit untuk berkembang biak dan menyebar. Akibatnya, ternak berisiko terpapar infeksi secara terus-menerus melalui pakan, air minum, maupun lingkungan kandang yang terkontaminasi.
Secara umum, penyakit parasit pada ruminansia dapat dibagi menjadi tiga kelompok utama, yaitu ektoparasit, parasit saluran pencernaan, dan protozoa darah. Ektoparasit seperti tungau penyebab kudis (scabies) dan larva lalat penyebab myiasis menyerang permukaan tubuh ternak. Infestasi ini menyebabkan rasa gatal hebat, kerusakan kulit, penurunan nafsu makan, dan stres yang berdampak pada penurunan performa produksi. Pada kasus yang berat, luka akibat ektoparasit dapat menjadi pintu masuk infeksi bakteri sekunder yang memperparah kondisi ternak.
Selain ektoparasit, cacing saluran pencernaan masih menjadi masalah utama di berbagai peternakan. Salah satu yang paling berbahaya adalah Haemonchus contortus, cacing pengisap darah yang hidup di abomasum atau lambung sejati ruminansia. Parasit ini menyebabkan anemia, diare, kekurangan protein, edema, hingga kondisi yang dikenal sebagai “bottle jaw” atau pembengkakan di bawah rahang. Ternak yang terinfeksi berat biasanya mengalami penurunan berat badan dan pertumbuhan yang terhambat.
Ancaman lain yang tidak kalah penting adalah penyakit protozoa darah seperti babesiosis, theileriosis, dan trypanosomiasis. Penyakit-penyakit ini ditularkan melalui vektor seperti caplak dan lalat pengisap darah. Gejala yang muncul antara lain demam, anemia, kelemahan, gangguan organ dalam, bahkan kematian pada kasus yang parah. Babesiosis, misalnya, dapat menyebabkan kerusakan hati, limpa, paru-paru, dan ginjal akibat penghancuran sel darah merah secara masif.
Tidak hanya memengaruhi kesehatan individu ternak, beberapa parasit juga berdampak pada sistem reproduksi. Infeksi Toxoplasma gondii dan Neospora caninum diketahui menjadi penyebab penting abortus pada sapi, kambing, dan domba. Kehilangan kebuntingan tentu menimbulkan kerugian ekonomi yang besar karena menurunkan efisiensi reproduksi dan produktivitas peternakan.
Kemajuan ilmu kedokteran hewan telah memberikan berbagai alat untuk mendeteksi penyakit parasit secara lebih akurat. Jika sebelumnya diagnosis hanya mengandalkan pemeriksaan feses, apusan darah, atau kerokan kulit, kini teknologi molekuler seperti Polymerase Chain Reaction (PCR) dan quantitative PCR (qPCR) mampu mendeteksi infeksi dengan sensitivitas yang jauh lebih tinggi. Teknologi ini memungkinkan identifikasi parasit bahkan pada infeksi subklinis yang belum menunjukkan gejala nyata.
Selain diagnosis, ilmu patologi veteriner juga berperan penting dalam memahami dampak infeksi parasit terhadap jaringan tubuh. Melalui pemeriksaan histopatologi, dokter hewan dapat mengamati kerusakan jaringan secara mikroskopis, seperti peradangan, nekrosis, perdarahan, atrofi vili usus, maupun degenerasi organ. Informasi ini sangat berharga untuk memahami mekanisme penyakit serta mengevaluasi efektivitas pengobatan dan program pengendalian yang diterapkan.
Meskipun berbagai obat antiparasit telah tersedia, tantangan baru terus muncul. Salah satu yang paling mengkhawatirkan adalah resistensi antiparasit. Penggunaan obat cacing secara berlebihan dan tidak terkontrol telah menyebabkan banyak jenis cacing menjadi kebal terhadap obat yang umum digunakan. Selain itu, perubahan iklim turut memengaruhi pola penyebaran parasit dan vektornya sehingga meningkatkan risiko munculnya penyakit di wilayah yang sebelumnya bebas infeksi.
Oleh karena itu, pengendalian penyakit parasit tidak dapat hanya mengandalkan pengobatan. Diperlukan pendekatan terpadu yang mencakup sanitasi lingkungan, manajemen padang penggembalaan, pengendalian vektor, pemberian nutrisi yang baik, biosekuriti, pemantauan kesehatan secara rutin, serta pemanfaatan teknologi diagnostik modern. Pendekatan ini dikenal sebagai Integrated Parasite Management (IPM) dan menjadi strategi yang semakin direkomendasikan untuk mendukung peternakan yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, penyakit parasit bukan sekadar masalah kesehatan hewan, melainkan juga tantangan ekonomi dan ketahanan pangan. Dengan penerapan teknologi modern, peningkatan manajemen peternakan, dan kolaborasi antara peternak, dokter hewan, serta peneliti, dampak penyakit parasit dapat diminimalkan sehingga produktivitas ternak dan kesejahteraan peternak dapat terus meningkat.
Penulis: Lita Rakhma Yustinasari, der., M.Vet., Ph.D., AHVet.
Tautan artikel: https://www.deepdyve.com/lp/unpaywall/histopathological-and-molecular-perspectives-of-major-parasitic-jDmZ8USjQQ





