Meningkatnya angka harapan hidup di berbagai negara menyebabkan bertambahnya populasi lanjut usia secara global. Kondisi ini diikuti dengan meningkatnya prevalensi penyakit degeneratif, termasuk demensia. Demensia merupakan sindrom penurunan fungsi kognitif yang memengaruhi memori, kemampuan berpikir, perilaku, dan aktivitas sehari-hari. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kualitas hidup pasien, tetapi juga menimbulkan tantangan dalam pelayanan kesehatan, termasuk pelayanan kesehatan gigi dan mulut.
Dalam praktik kedokteran gigi, pasien dengan demensia sering mengalami kesulitan dalam menjaga kebersihan rongga mulut akibat penurunan kemampuan motorik dan fungsi kognitif. Selain itu, gangguan komunikasi dan perubahan perilaku pada pasien demensia dapat menyulitkan proses pemeriksaan maupun perawatan gigi. Oleh karena itu, tenaga kesehatan gigi perlu memiliki pengetahuan yang memadai serta sikap yang positif terhadap pasien demensia agar pelayanan yang diberikan tetap optimal.
Berangkat dari latar belakang tersebut, sebuah penelitian dilakukan oleh drg. Aulia Ramadhani dari Divisi Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat, FKG Unair yang bekerjasama dengan Niigata University, Jepang, untuk membandingkan pengetahuan serta sikap mahasiswa kedokteran gigi di Jepang dan Indonesia terhadap pasien demensia. Penelitian ini melibatkan 189 mahasiswa kedokteran gigi dari dua Universitas melalui survei daring menggunakan instrumen Dementia Knowledge Assessment Scale (DKAS) dan Dementia Attitude Scale (DAS).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik mahasiswa Jepang dan Indonesia keduanya memiliki tingkat pengetahuan yang cukup baik terhadap pasien demensia. Namun, kategori tingkat pengetahuan yang tinggi lebih banyak didapatkan pada mahasiswa Jepang. Hal ini kemungkinan berkaitan dengan integrasi materi mengenai demensia dalam kurikulum pendidikan kedokteran gigi di Jepang, serta tingginya paparan masyarakat Jepang terhadap isu demensia melalui berbagai kampanye kesehatan masyarakat. Jepang sebagai negara dengan populasi lansia yang tinggi telah mengembangkan berbagai kebijakan dan program nasional terkait demensia dalam beberapa dekade terakhir.
Sebaliknya, mahasiswa Indonesia menunjukkan sikap yang lebih positif terhadap pasien demensia dibandingkan mahasiswa Jepang. Berdasarkan hasil tersebut, peneliti menunjukkan bahwa pembentukan sikap tidak hanya dipengaruhi oleh pendidikan formal, tetapi juga oleh faktor sosial, budaya, dan pengalaman personal. Meskipun faktor-faktor pendukung lainnya seperti sosiodemografi, ekonomi, dan lainnya tidak diteliti, namun beberapa artikel yang telah dipublikasikan sebelumnya menguatkan hasil penelitian ini. Di Indonesia, budaya hidup bersama dalam keluarga multigenerasi masih cukup umum dijumpai. Interaksi yang lebih dekat dengan anggota keluarga lanjut usia diduga dapat meningkatkan empati dan penerimaan terhadap kondisi penuaan maupun demensia.
Penelitian ini memberikan implikasi penting bagi institusi pendidikan tenaga kesehatan, khususnya pendidikan kedokteran gigi. Pelayanan kesehatan yang berkualitas tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik dan pengetahuan klinis, tetapi juga oleh sikap profesional, empati, dan kemampuan memahami kondisi pasien secara holistik. Pengetahuan dan sikap yang seimbang akan menjadi fondasi penting dalam mewujudkan pelayanan kesehatan gigi yang inklusif bagi pasien demensia.
Artikel ilmiah ini telah dipublikasikan di Journal of International Society of Preventive and Community Dentistry, tahun 2026.
Penulis: drg. Aulia Ramadhani, M.Kes
Judul: Knowledge and Attitudes about Dementia Patients: A Comparative Study between Japanese and Indonesian Dental Students
Link:





