东京热

东京热 Official Website

Pakar UNAIR Jelaskan Pengelolaan dan Keamanan Donor Darah

Ilustrasi kegiatan donor darah (Foto: Halodoc)
Ilustrasi kegiatan donor darah (Foto: Halodoc)

UNAIR NEWS 鈥 Ketersediaan darah yang aman dan memadai menjadi salah satu penopang utama pelayanan kesehatan, baik untuk penanganan kasus gawat darurat maupun penyakit kronis. Dalam rangka memperingati Hari Donor Darah setiap tanggal 14 Juni, pemahaman mengenai proses donor darah dari sisi klinis dan pengelolaan rumah sakit menjadi penting untuk diketahui masyarakat.聽

Di balik setiap kantong darah, terdapat serangkaian prosedur untuk menjamin keamanan bagi pendonor maupun penerima darah. Pakar Klinis Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi dan Onkologi Medik 东京热 (UNAIR), dr Merlyna Savitri SpPD KHOM FINASIM menjelaskan bahwa rumah sakit rujukan berskala besar umumnya memiliki kemandirian dalam mengelola kebutuhan darah pasien melalui Instalasi Transfusi Darah (ITD).

Sosok Pakar Klinis Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi dan Onkologi Medik 东京热 (UNAIR), dr Merlyna Savitri SpPD KHOM FINASIM (Foto: Istimewa)
Kemandirian Instalasi Transfusi Darah

Berbeda dengan fasilitas kesehatan pada umumnya yang sangat bergantung pada suplai dari Palang Merah Indonesia (PMI) pusat, rumah sakit rujukan utama seperti RSUD Dr. Soetomo telah memiliki sistem manajemen darah terpadu. 鈥淒i Rumah Sakit Dr. Soetomo itu punya unit transfusi darah sendiri, jadi punya Instalasi Transfusi Darah atau ITD sendiri. Jadi bisa mengambil donor darah sendiri, bisa mengolah sendiri, dan bisa mendistribusikan sendiri,鈥 jelas dr Merlyna.

Kemandirian tersebut mendapat dukungan partisipasi aktif tenaga kesehatan, pegawai rumah sakit, maupun masyarakat umum yang secara rutin mendonorkan darahnya. Meski demikian, kondisi tertentu dapat memengaruhi ketersediaan stok darah. 鈥淜ekurangan darah jarang, tapi ada kalanya. Biasanya bila kebutuhan meningkat atau saat bulan puasa karena orang jarang donor darah. Saat seperti itu, biasanya minta support dari PMI pusat,鈥 imbuhnya.

Seleksi Ketat untuk Menjamin Keamanan

Menurut dr Merlyna, donor darah tidak dapat berlangsung secara sembarangan. Setiap calon pendonor harus memenuhi sejumlah persyaratan kesehatan dan menjalani proses skrining untuk memastikan darah tersebut aman. 鈥淧endonor darah itu kan hanya boleh 3 bulan sekali, karena pembentukan sel darah merah itu siklusnya 120 hari,鈥 ujarnya.

Selain memperhatikan interval donor, petugas juga melakukan pemeriksaan terhadap kondisi kesehatan umum pendonor, termasuk berat badan dan riwayat penyakit tertentu. Darah yang terkumpul kemudian melalui proses penyaringan untuk mendeteksi penyakit menular, seperti hepatitis, sebelum sampai kepada pasien yang membutuhkan.

Tromboferesis Tingkatkan Keamanan Pasien

Perkembangan teknologi di bidang hematologi turut menghadirkan metode yang lebih spesifik dalam pengambilan komponen darah. Salah satunya adalah tromboferesis, yaitu prosedur pengambilan trombosit yang berasal dari satu orang donor. 

Menurut dr Merlyna, metode ini memiliki keunggulan daripada trombosit konsentrat (TC) yang diperoleh dari gabungan beberapa donor. Melalui penerapan teknologi tersebut, risiko reaksi imun pada pasien penerima transfusi dapat berkurang drastis sehingga keamanan dan efektivitas terapi transfusi darah menjadi lebih optimal.聽

鈥淭eknologi yang terbaru itu namanya trombopheresis. Dia mendapatkan dari satu orang donor saja. Nah, ini reaksi alloimmunization atau alo-antibodinya itu lebih rendah dibandingkan TC yang didapat dari 10 donor berbeda yang dicampur jadi satu,鈥 paparnya.

Penulis: Putri Andini

Editor: Ragil Kukuh Imanto

AKSES CEPAT