东京热

东京热 Official Website

Padu Vegetasi dan Topografi: Strategi Cerdas Mitigasi Tsunami di Pesisir Selatan Banyuwangi

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Pesisir selatan Banyuwangi berada tepat di zona subduksi Indo-Australia鈥揈urasia, kawasan yang pernah dilanda tsunami besar pada tahun 1994 dengan tinggi gelombang mencapai 14 meter. Tingginya risiko ini mendorong perlunya kajian mitigasi yang komprehensif, memadukan simulasi numerik dengan pemetaan spasial guna memahami sejauh mana penghalang alami maupun buatan mampu meredam kekuatan gelombang tsunami sebelum mencapai permukiman warga.

Penelitian ini menggunakan model numerik CADMAS-SURF 2D yang berbasis persamaan Navier鈥揝tokes untuk mensimulasikan interaksi gelombang tsunami dengan dua jenis penghalang, yaitu sabuk vegetasi pantai berupa perkebunan kelapa, dan modifikasi topografi berupa parit serta tanggul. Simulasi dijalankan pada model flume sepanjang 650 meter, dengan tiga titik pengukuran pada jarak 100 m, 350 m, dan 600 m dari sumber gelombang untuk merekam perubahan tinggi dan kecepatan gelombang seiring perjalanannya ke daratan.

Hasil simulasi pada skenario pertama, dengan sabuk vegetasi, menunjukkan bahwa gelombang setinggi sekitar 6 meter di titik terdekat mampu diredam hingga sekitar 2 meter pada jarak 600 meter dari garis pantai. Vegetasi terbukti efektif memperlambat kecepatan aliran air melalui gesekan batang dan akar pohon, sekaligus membantu menyerap sebagian energi gelombang sebelum mencapai kawasan permukiman.

Sementara itu, skenario kedua dengan kombinasi parit dan tanggul menunjukkan hasil peredaman yang lebih kuat, dengan tinggi gelombang di titik 600 meter turun hingga hanya sekitar 0,5 meter. Meski begitu, kecepatan aliran air pada skenario ini justru berfluktuasi tidak menentu akibat efek pantulan gelombang di dalam parit, yang menunjukkan bahwa penghalang topografi bekerja dengan mekanisme berbeda dibanding vegetasi.

Analisis spasial menggunakan ArcGIS terhadap wilayah pesisir Banyuwangi mengidentifikasi seluas 4,68 km虏 (22,50%) area terbangun berada pada zona risiko tinggi (merah), sementara 9,02 km虏 (43,35%) berada pada zona risiko sedang (kuning). Temuan ini menegaskan pentingnya strategi mitigasi hibrida yang memadukan pendekatan berbasis alam, seperti vegetasi pantai, dengan struktur rekayasa berupa modifikasi topografi, guna memperkuat ketahanan wilayah pesisir terhadap ancaman tsunami di masa mendatang.

Artikel selengkapnya dapat diakses di:

Ditulis oleh: Fadly Usman; Keisuke Murakami; Tri Mulyani Sunarharum; Meutia Aisyah Nabila; Atrida Hadianti; Hijrah Saputra; Suparto Wijoyo

Corresponding Author: Fadly Usman

Email: hijrah.saputra@pasca.unair.ac.id

AKSES CEPAT