UNAIR NEWS – Himpunan Mahasiswa Magister Kajian Sastra dan Budaya (HIMA MKSB) UNAIR menggelar Roundtable Discussion bertajuk Trauma Discourse in Southeast Asia: Philippines and Indonesia. Kegiatan tersebut berlangsung pada Rabu (10/6/2026) di Ruang 301, Gedung ), Kampus B Dharmawangsa UNAIR.
Kegiatan itu menghadirkan tiga pembicara. Di antaranya, Ilham Baskoro, Rench Supan, dan Athaya Prita Belia. Diskusi tersebut mengulas trauma dari berbagai perspektif keilmuan, mulai dari sosiologi, kajian budaya, hingga sejarah.聽
Trauma sebagai Pengalaman Kolektif
Supan menjelaskan bahwa trauma tidak hanya dipahami sebagai rasa sakit psikologis, namun juga sebagai pengalaman sosial yang memengaruhi kelompok masyarakat. Menurutnya, peristiwa historis seperti rezim darurat militer di Filipina meninggalkan jejak trauma yang dampaknya masih terasa hingga kini.
“Dalam sosiologi, trauma tidak hanya dipahami sebagai pengalaman individu, tetapi juga harus dilihat dalam kaitannya dengan orang lain dan pengalaman sejarah yang membentuk suatu komunitas. Faktor sosial dan struktural dapat menjadi bagian dari solusi untuk mengatasi trauma, baik yang bersifat personal maupun kolektif,” jelasnya.
Melanjutkan pembahasan tersebut, Athaya menyoroti ekspresi trauma melalui praktik budaya. Ia menjelaskan bahwa musik dan berbagai praktik subkultural tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga ruang bagi individu maupun kelompok untuk mengartikulasikan pengalaman traumatis.
“Musik, pertunjukan, dan praktik subkultural menciptakan bahasa dan ruang bagi individu untuk mengekspresikan dan menegosiasikan pengalaman sejarah. Hal tersebut menunjukkan bahwa trauma dapat diubah menjadi bentuk agensi dan ekspresi budaya,” ungkapnya.

Menilik Trauma dari Lensa Sejarah
Sementara itu, Ilham menekankan pentingnya mengangkat kembali berbagai narasi tragedi masa lalu yang kerap terabaikan. Ia menilai bahwa trauma historis tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga mempengaruhi kehidupan masyarakat secara kolektif hingga saat ini.
“Trauma historis bukan hanya tentang penderitaan individu, melainkan pengalaman kolektif yang sering kali terabaikan secara sistematis. Melalui kajian sejarah, kita dapat kembali melihat suara yang selama ini terlupakan dan memahami bagaimana tragedi masa lalu masih mempengaruhi masyarakat saat ini,” tuturnya.
Melalui diskusi ini, peserta diajak untuk memahami trauma sebagai persoalan yang tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial, budaya, dan sejarah. Kegiatan ini juga menjadi ruang refleksi mengenai pentingnya menghadirkan perspektif yang lebih kritis dalam memahami pengalaman traumatis masyarakat Asia Tenggara.
Penulis : Maulya Afifah Zahra
Editor : Khefti Al Mawalia





