¶«¾©ÈÈ

¶«¾©ÈÈ Official Website

Menguji Ketepatan Metode Estimasi Usia Demirjian, Al Qahtani, dan Blenkin-Evans pada Anak di Surabaya

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Ketika bencana alam skala besar, kecelakaan massal, atau situasi darurat forensik terjadi, salah satu tantangan terbesar bagi pihak berwenang dan tim medis adalah mengidentifikasi identitas para korban. Dalam kondisi krisis yang serba terbatas, dokumen identitas resmi seperti akta kelahiran, Kartu Keluarga, maupun paspor sering kali rusak atau hilang. Di sinilah ilmu odontologi forensik—cabang ilmu kedokteran gigi yang berfokus pada kepentingan hukum dan peradilan—memegang peranan yang sangat krusial.

Di antara berbagai organ tubuh manusia, gigi dikenal sebagai “saksi bisu” yang paling tangguh dan tahan banting. Struktur enamel gigi yang sangat padat menjadikan gigi sebagai bagian tubuh paling keras, yang mampu bertahan dari paparan suhu panas yang ekstrem, benturan fisik yang keras, hingga proses pembusukan alami. Selain dapat digunakan untuk mencocokkan rekam medis gigi, pertumbuhannya juga menyimpan “jam biologis” yang sangat akurat untuk memperkirakan usia seseorang.

Namun, timbul sebuah pertanyaan penting di dunia sains forensik: apakah metode estimasi usia gigi yang dikembangkan oleh para ahli di luar negeri memiliki tingkat akurasi yang sama tingginya ketika diterapkan pada anak-anak di Indonesia, khususnya di wilayah Kota Surabaya?

Menjawab tantangan tersebut, sebuah tim peneliti dari ¶«¾©ÈÈ dan Universitas Hang Tuah Surabaya merilis hasil studi ilmiah terbaru yang membandingkan tingkat akurasi tiga metode estimasi usia gigi populer pada anak-anak. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal internasional Bulletin of the International Association for Paleodontology ini menguji dan mengevaluasi metode estimasi usia yang diperkenalkan oleh Demirjian, Al Qahtani, serta Blenkin-Evans.

Penelitian observational ini menggunakan sampel berupa radiografi panoramik dari 129 anak berusia 3 hingga 16 tahun yang berobat di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Nala Husada, Surabaya. Sampel tersebut terbagi atas 65 anak laki-laki dan 64 anak perempuan. Melalui gambaran radiografi panoramik ini, para peneliti membandingkan antara usia kronologis (usia sebenarnya berdasarkan tanggal lahir) dengan usia dental (usia yang dihitung berdasarkan tahap perkembangan dan kalsifikasi gigi).

Hasil penelitian memperlihatkan temuan yang sangat menarik: tidak ada satu metode tunggal yang sempurna untuk semua anak. Tingkat akurasi dari setiap metode sangat dipengaruhi oleh faktor jenis kelamin dan rentang kelompok usia anak.

Blenkin-Evans vs Demirjian vs Al Qahtani: Mana yang Unggul?

Dalam standar ilmu forensik, sebuah metode estimasi usia dianggap sangat andal dan presisi apabila selisih antara usia kronologis dan usia gigi berada di bawah rentang satu tahun. Dari ketiga metode yang diuji, metode Blenkin-Evans dan Demirjian menunjukkan performa yang sangat memuaskan, sedangkan metode Al Qahtani tercatat memiliki deviasi paling tinggi.

Secara spesifik, untuk kelompok anak perempuan, metode Blenkin-Evans muncul sebagai metode dengan tingkat presisi paling tinggi. Rata-rata selisih antara usia kronologis dan usia gigi anak perempuan menggunakan metode ini hanya sebesar 0,08 tahun (atau kurang dari satu bulan saja) dengan kecenderungan sedikit underestimation (memperkirakan usia sedikit lebih muda dari usia asli).

Sementara itu, untuk kelompok anak laki-laki, metode Demirjian terbukti menjadi metode yang paling akurat. Metode ini mencatatkan rata-rata perbedaan usia sebesar 0,38 tahun (sekitar 4,5 bulan) dari usia sebenarnya.

Sebaliknya, metode Al Qahtani menunjukkan kecenderungan yang konsisten untuk memperkirakan usia lebih tua dari usia sebenarnya (overestimation) pada semua kelompok umur. Pada anak laki-laki, metode Al Qahtani memperkirakan usia rata-rata 0,55 tahun lebih tua, sementara pada anak perempuan perbedaannya membengkak hingga 1,09 tahun lebih tua. Angka ini menjadikan Al Qahtani sebagai metode dengan tingkat kesalahan terbesar di antara ketiga metode yang diteliti pada populasi anak Surabaya.

Perbedaan performa antar-metode ini dapat dijelaskan melalui pendekatan teknis yang digunakan oleh masing-masing sistem. Metode Demirjian dan Blenkin-Evans merupakan metode berbasis penilaian kalsifikasi (scoring system). Metode Demirjian yang diperkenalkan sejak tahun 1973 menilai delapan tahap pembentukan gigi pada tujuh gigi rahang bawah sebelah kiri. Metode Blenkin-Evans merupakan bentuk modifikasi dari metode Demirjian yang diterapkan pada tujuh gigi rahang bawah sebelah kanan dengan formula kalkulasi yang telah disederhanakan. Keunggulan utama dari kedua metode ini adalah adanya pemisahan formula dan tabel nilai antara anak laki-laki dan anak perempuan.

Pemisahan variabel jenis kelamin ini sangat penting secara biologis. Pembentukan mineral dan pematangan gigi pada anak perempuan secara umum berlangsung lebih cepat dibandingkan anak laki-laki, terutama ketika memasuki masa pembentukan akar gigi hingga fase pubertas.

Di sisi lain, metode Al Qahtani merupakan metode yang berbasis atlas (atlas-based method). Metode ini menggunakan diagram bergambar untuk membandingkan tahap erupsi dan pertumbuhan gigi pasien dengan grafik standar perkembangan gigi dari usia janin hingga dewasa. Meskipun metode atlas relatif lebih cepat dan mudah digunakan dalam praktik klinis sehari-hari, metode Al Qahtani memiliki keterbatasan karena tidak membedakan grafik pertumbuhan antara laki-laki dan perempuan. Selain itu, metode atlas lebih rentan terhadap variasi penilaian subjektif antar-pengamat, yang berpotensi meningkatkan margin kesalahan.

Temuan dalam penelitian di Surabaya ini juga menegaskan pentingnya faktor etnografi dalam ilmu forensik. Laju pertumbuhan dan perkembangan gigi manusia tidak hanya ditentukan oleh faktor internal seperti genetik dan hormon, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti gizi, status nutrisi, dan kondisi lingkungan tempat anak tumbuh.

Metode estimasi usia gigi yang dirancang menggunakan sampel populasi Eropa atau Barat sering kali tidak bisa langsung diterapkan begitu saja pada populasi Asia atau Indonesia tanpa adanya pengujian dan penyesuaian lokal. Oleh sebab itu, penelitian lokal seperti yang dilakukan pada anak-anak di Surabaya ini memiliki nilai strategis yang sangat tinggi untuk membangun basis data forensik nasional yang relevan.

Satu hal yang tidak kalah penting dalam pelaksanaan penelitian ini adalah pemenuhan standar etika kedokteran. Mengingat subjek penelitian adalah anak-anak dan pemeriksaan menggunakan sinar-X mengandung risiko paparan radiasi pengion, para peneliti tidak melakukan pengambilan rontgen baru secara sengaja.

Penelitian ini memanfaatkan rekam medis sekunder berupa rontgen panoramik yang sebelumnya telah diambil untuk keperluan diagnosis dan perawatan medis anak di klinik spesialis kedokteran gigi anak maupun ortodonti. Dengan pendekatan ini, tujuan ilmiah dapat dicapai secara optimal tanpa memberikan beban risiko radiasi tambahan kepada pasien anak.

Secara keseluruhan, hasil penelitian ini memberikan panduan praktis dan rekomendasi yang sangat jelas bagi para ahli odontologi forensik, dokter gigi, maupun aparat penegak hukum di Indonesia.

Penggunaan metode estimasi usia gigi tidak boleh dilakukan secara asal atau seragam untuk semua pasien. Pemilihan metode harus disesuaikan secara cermat berdasarkan jenis kelamin dan latar belakang populasi. Dalam kasus identifikasi anak perempuan di Surabaya, metode Blenkin-Evans merupakan pilihan utama yang paling direkomendasikan. Sedangkan untuk anak laki-laki, metode Demirjian menawarkan tingkat akurasi yang lebih tinggi.

Dengan pemanfaatan metode yang tepat dan berbasis bukti ilmiah lokal, proses identifikasi korban bencana, penentuan usia untuk kepentingan hukum anak, hingga perencanaan perawatan medis kedokteran gigi dapat dilakukan dengan jauh lebih presisi, cepat, dan terpercaya.

Ditulis oleh: Arofi Kurniawan, drg., Ph.D

Dikutip dari artikel jurnal berjudul: Accuracy of dental age estimation using the Demirjian, Al Qahtani, and Blenkin-Evans methods in children from Surabaya, Indonesia

Artikel telah dipublikasikan pada jurnal Bulletin of the International Association for Paleodontology

AKSES CEPAT