Di era modern yang serba cepat, banyak orang merasa harus terus bergerak maju. Kita mengejar barang yang lebih baru, pencapaian yang lebih tinggi, karier yang lebih baik, bahkan hubungan yang dianggap lebih ideal. Di balik semua usaha tersebut terdapat keyakinan yang sering kali tidak kita sadari: jika suatu saat kita berhasil mendapatkan apa yang kita inginkan, maka kita akan merasa puas dan bahagia untuk waktu yang lama.
Namun, kenyataannya sering berbeda. Barang yang dulu sangat diidamkan akhirnya terasa biasa. Target akademik yang berhasil dicapai cepat digantikan oleh target berikutnya. Bahkan dalam hubungan asmara, perasaan euforia pada awal hubungan perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih tenang dan tidak lagi terasa istimewa seperti sebelumnya. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting: apakah masalahnya terletak pada apa yang kita kejar, atau pada cara kita memahami kebahagiaan itu sendiri?
Salah satu penjelasan datang dari konsep hedonic adaptation atau adaptasi hedonis. Penelitian menunjukkan bahwa manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk beradaptasi terhadap perubahan dalam hidupnya. Ketika memperoleh sesuatu yang diinginkan, tingkat kebahagiaan memang meningkat, tetapi hanya sementara. Seiring waktu, kondisi baru tersebut menjadi normal dan tidak lagi memberikan dampak emosional yang sama. Akibatnya, kita mulai mencari tujuan baru untuk memperoleh kembali perasaan puas yang pernah dirasakan.
Proses ini tidak hanya terjadi pada kepemilikan material. Dalam dunia pendidikan, mahasiswa mungkin berpikir bahwa masuk universitas impian akan membuat mereka bahagia. Setelah berhasil masuk, fokus berpindah pada IPK, organisasi, magang, atau pekerjaan pertama. Dalam karier, seseorang mungkin mengejar promosi jabatan, tetapi setelah mencapainya, muncul target yang lebih tinggi lagi. Bahkan dalam hubungan romantis, banyak orang mengira kebahagiaan akan tercapai ketika menemukan pasangan yang tepat, padahal setelah hubungan terbentuk, tantangan dan ekspektasi baru pasti akan muncul.
Dari sudut pandang evolusi, kecenderungan ini sebenarnya masuk akal. Nenek moyang manusia yang terus mencari sumber daya baru memiliki peluang bertahan hidup yang lebih besar. Sistem dopamin di otak juga dirancang untuk memberikan dorongan terhadap kemungkinan memperoleh keuntungan baru. Akan tetapi, di lingkungan modern yang penuh kelimpahan, mekanisme yang sama dapat membuat manusia terus merasa kurang meskipun kebutuhan dasarnya telah terpenuhi.
Selain itu, budaya konsumen modern sering memperkuat keyakinan bahwa kebahagiaan berada satu langkah di depan kita. Media sosial menampilkan pencapaian orang lain, iklan menawarkan kehidupan yang lebih baik melalui produk tertentu, dan berbagai pilihan yang tersedia membuat kita terus membandingkan apa yang kita miliki dengan apa yang belum kita miliki. Akibatnya, perhatian kita lebih sering tertuju pada kekurangan daripada pada apa yang sudah dimiliki.
Namun, kesimpulan yang dapat diambil bukanlah bahwa manusia harus berhenti memiliki ambisi atau tujuan. Justru keinginan untuk berkembang merupakan bagian penting dari kehidupan yang sehat. Masalah muncul ketika kebahagiaan sepenuhnya ditempatkan pada hasil akhir. Jika seseorang percaya bahwa kebahagiaan hanya akan datang setelah mendapatkan suatu barang, pencapaian, atau hubungan tertentu, maka ia akan terus menundanya ke masa depan.
Perspektif lain adalah melihat kebahagiaan sebagai sesuatu yang juga ditemukan dalam proses, bukan hanya pada tujuan. Pencapaian akademik menjadi lebih bermakna ketika seseorang menikmati proses belajar. Karier menjadi lebih memuaskan ketika pekerjaan yang dilakukan selaras dengan nilai pribadi. Hubungan asmara menjadi lebih kuat ketika pasangan terus bertumbuh bersama, bukan hanya mengandalkan rasa menggebu-gebu saat awal jatuh cinta.
Dengan demikian, mengejar lebih banyak tidak selalu membuat kita tidak bahagia. Yang sering membuat kita kecewa adalah keyakinan bahwa pencapaian berikutnya akan memberikan kepuasan yang permanen. Padahal manusia secara alami akan beradaptasi terhadap hampir semua hal yang diperolehnya. Kebahagiaan yang tahan lama akan muncul ketika kita mampu menghargai apa yang sudah dimiliki, menikmati proses, dan memahami bahwa konsep “cukup” bukanlah tujuan akhir yang suatu hari akan ditemukan, melainkan cara pandang yang perlu dibangun sepanjang perjalanan.
Penulis: I Gede Kevin Christiano Ariawan (Mahasiswa Program Studi Sistem Informasi, Fakultas Sains dan Teknologi, 东京热)





