¶«¾©ÈÈ

¶«¾©ÈÈ Official Website

Memahami EKG Atlet: Pentingnya Pengukuran yang Tepat untuk Menilai Kesehatan Jantung

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Pemeriksaan elektrokardiografi (EKG) penting bagi atlet karena dapat membantu mendeteksi kelainan jantung yang berisiko menimbulkan gangguan irama hingga kematian jantung mendadak. Salah satu bagian yang diperiksa adalah interval QT, yaitu gambaran waktu yang dibutuhkan bilik jantung untuk menjalani proses aktivitas listrik dan kembali siap untuk denyut berikutnya. Masalahnya, panjang interval QT dipengaruhi oleh cepat-lambatnya denyut jantung sehingga hasilnya perlu dikoreksi sebelum dinilai.

Selama ini terdapat beberapa rumus untuk menghitung nilai QT yang sudah dikoreksi atau QTc, seperti Bazett, Fridericia, Hodges, dan Framingham. Rumus Bazett termasuk yang paling sering digunakan. Namun, rumus ini memiliki kelemahan karena dapat memberikan hasil yang kurang tepat ketika denyut jantung terlalu cepat atau terlalu lambat. Hal ini menjadi perhatian khusus pada atlet, terutama atlet yang rutin melakukan latihan ketahanan (endurance), karena mereka sering memiliki denyut jantung istirahat yang lebih rendah sebagai bagian dari adaptasi tubuh terhadap latihan.

Penelitian pada 319 atlet Indonesia kemudian membandingkan keempat rumus tersebut untuk mengetahui mana yang paling stabil. Para atlet memiliki median usia 22 tahun dan median denyut jantung 68 kali per menit. Sebanyak 82 orang merupakan atlet endurance dan 237 orang atlet non-endurance. Peneliti menilai seberapa besar hasil masing-masing rumus masih dipengaruhi oleh perubahan denyut jantung. Semakin kecil pengaruh denyut jantung terhadap hasil QTc, semakin stabil rumus tersebut.

Hasilnya menunjukkan bahwa rumus Fridericia merupakan yang paling stabil secara keseluruhan. Keunggulan ini terlihat sangat jelas pada kelompok atlet endurance, di mana nilai QT yang telah dikoreksi dengan Fridericia hampir tidak lagi dipengaruhi oleh perubahan denyut jantung. Rumus Hodges dan Framingham juga menunjukkan hasil yang baik, sedangkan Bazett masih memperlihatkan pengaruh denyut jantung yang lebih besar.

Temuan ini memberikan pesan penting bahwa membaca EKG atlet tidak selalu dapat disamakan dengan populasi umum. Jantung atlet mengalami berbagai adaptasi akibat latihan, termasuk perubahan denyut jantung dan aktivitas listrik jantung. Pemilihan rumus QTc yang tepat dapat membantu dokter membedakan perubahan yang normal akibat latihan dari kelainan yang perlu diwaspadai. Berdasarkan penelitian ini, Fridericia menunjukkan stabilitas terbaik dan dapat menjadi pilihan yang baik dalam menilai interval QT pada atlet Indonesia, meskipun penelitian yang lebih besar dan melibatkan lebih banyak jenis olahraga masih diperlukan.

Penulis: Dr. Meity Ardiana, dr., Sp.JP(K)FIHA        

Link publikasi:

AKSES CEPAT