¶«¾©ÈÈ

¶«¾©ÈÈ Official Website

Mekanisme Molekuler Ekstrak Jahe Merah (Zingiber officinale) Berbasis Struktur Kimia dalam Mengatasi Stres Oksidatif dan Inflamasi pada Sindrom Ovarium Polikistik

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Latar belakang dan tujuan

Polycystic ovary syndrome (PCOS) merupakan gangguan endokrin dan reproduksi yang ditandai oleh hiperandrogenisme, gangguan folikulogenesis, stres oksidatif, inflamasi kronis, dan dapat menyebabkan infertilitas anovulatorik. Dalam patogenesis PCOS, peningkatan reactive oxygen species (ROS) dapat menurunkan mekanisme pertahanan antioksidan, khususnya jalur NRF2–SOD, sementara aktivasi NF-κB meningkatkan mediator inflamasi seperti TNF-α dan IL-6.

Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kemampuan ekstrak etanol jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum) dalam memperbaiki gangguan ovarium pada model PCOS melalui dua mekanisme utama, yaitu meningkatkan pertahanan antioksidan NRF2–SOD dan menekan jalur inflamasi NF-κB–TNF-α–IL-6, serta mengevaluasi perbaikan struktur folikel ovarium.

Metode penelitian

Ekstrak jahe merah dibuat melalui metode maserasi menggunakan etanol 96% dengan rasio bahan:pelarut 1:10 selama 72 jam. Filtrat kemudian diuapkan pada suhu 40–45 °C menggunakan rotary evaporator. Pendekatan tersebut diposisikan sebagai metode ekstraksi berbasis green chemistry.

Penelitian menggunakan model tikus betina Rattus norvegicus yang diinduksi PCOS dengan testosterone propionate 100 mg/kg BB. Hewan dibagi menjadi lima kelompok: kontrol normal, kontrol PCOS, serta tiga kelompok PCOS yang mendapat ekstrak jahe merah masing-masing 200, 400, dan 800 mg/kg BB.

Evaluasi penelitian meliputi skrining fitokimia; aktivitas antioksidan dengan metode DPPH; aktivitas antiinflamasi melalui penghambatan denaturasi albumin; ekspresi NRF2, SOD, dan NF-κB menggunakan flow cytometry; kadar TNF-α dan IL-6 menggunakan ELISA; serta pemeriksaan histopatologi ovarium menggunakan pewarnaan H&E.

Hasil Penelitian

Skrining fitokimia menunjukkan ekstrak jahe merah mengandung berbagai senyawa bioaktif, terutama flavonoid dan fenolik, disertai alkaloid, saponin, dan tanin, sedangkan steroid tidak terdeteksi atau berada pada kadar sangat rendah.

Secara in vitro, ekstrak menunjukkan aktivitas antioksidan yang meningkat seiring peningkatan konsentrasi, dengan IC₅₀ DPPH sebesar 206,31 µg/mL. Aktivitas antiinflamasi melalui penghambatan denaturasi albumin juga bersifat konsentrasi-dependen dengan IC₅₀ sebesar 143,6 µg/mL.

Induksi PCOS menyebabkan penurunan nyata ekspresi NRF2 dan SOD, menunjukkan melemahnya sistem pertahanan antioksidan ovarium. Pemberian ekstrak jahe merah meningkatkan kembali ekspresi kedua marker tersebut secara dose-dependent. Efek paling kuat ditemukan pada dosis 800 mg/kg BB, dengan ekspresi NRF2 dan SOD mendekati kondisi kelompok kontrol normal.

Sebaliknya, pada tikus PCOS terjadi peningkatan NF-κB, menunjukkan aktivasi jalur inflamasi. Ekstrak jahe merah menekan ekspresi NF-κB secara bertahap sesuai dosis, dengan efek paling kuat pada 800 mg/kg BB, di mana ekspresi NF-κB mendekati tingkat normal.

Hal yang sama ditemukan pada sitokin proinflamasi. Kelompok PCOS mengalami peningkatan TNF-α dan IL-6, sementara pemberian ekstrak jahe merah menurunkan kedua sitokin tersebut secara dose-dependent. Penurunan yang paling nyata dan signifikan terjadi pada dosis 800 mg/kg BB.

Secara histologis, ovarium tikus PCOS menunjukkan berbagai karakteristik patologis berupa folikel kistik berukuran besar, lapisan sel granulosa yang menipis, gangguan theca interna, berkurangnya folikel yang sedang berkembang, serta corpus luteum yang sedikit atau tidak ditemukan. Kondisi tersebut konsisten dengan gangguan ovulasi pada PCOS.

Pemberian ekstrak jahe merah menghasilkan perbaikan struktur ovarium secara dose-dependent. Dosis 200 mg/kg hanya memberikan pemulihan parsial, dosis 400 mg/kg memperlihatkan peningkatan folikel sekunder dan Graaf serta mulai munculnya corpus luteum, sedangkan dosis 800 mg/kg BB memberikan perbaikan paling baik, dengan morfologi ovarium mendekati normal, peningkatan folikel sehat, terbentuknya corpus luteum, serta berkurangnya folikel kistik.

Kesimpulan

Penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum) memberikan efek protektif yang signifikan terhadap disfungsi ovarium pada model tikus PCOS yang diinduksi testosteron propionat. Ekstrak Zingiber officinale secara efektif meningkatkan sistem pertahanan antioksidan melalui peningkatan ekspresi NRF2 dan aktivitas SOD, serta secara bersamaan menekan mediator inflamasi utama, yaitu NF-κB, TNF-α, dan IL-6.

Perbaikan pada tingkat molekuler tersebut disertai dengan pemulihan struktur folikel ovarium menuju kondisi normal serta berkurangnya perubahan kistik pada ovarium. Kandungan fitokimia yang teridentifikasi dalam ekstrak Zingiber officinale, bersama dengan aktivitas antioksidan dan antiinflamasi yang kuat secara in vitro, mendukung efek biologis yang diamati secara in vivo.

Respons yang bersifat bergantung pada dosis (dose-dependent), dengan dosis tertinggi menghasilkan efek yang paling nyata, semakin memperkuat potensi terapeutik Zingiber officinale dalam mengurangi gangguan stres oksidatif dan inflamasi yang merupakan bagian penting dari patogenesis PCOS.

Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jahe merah berpotensi menjadi intervensi alami yang menjanjikan untuk mengatasi gangguan fungsi ovarium terkait PCOS melalui modulasi terpadu jalur stres oksidatif dan inflamasi. Penelitian lebih lanjut, termasuk evaluasi klinis dan optimalisasi formulasi, masih diperlukan untuk mendukung pengembangannya sebagai pilihan terapi komplementer.

Penulis: Sri Agus Sudjarwo

Link:

Informasi detil dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di  Siti Mudrikatin, Reny I’tishom, Rochmah Kurnijasanti, Jusak Nugraha, Mohammad Rais Mustafa, dan Sri Agus Sudjarwo. Green Chemistry-Based Molecular Mechanisms of Red Ginger (Zingiber officinale) Extract in Counteracting Oxidative Stress and Inflammation in Polycystic Ovary Syndrome. Asian Journal of Green Chemistry, Vol. 10, 2026, hlm. 933–949. DOI: 10.48309/ajgc.2026.575182.1935

AKSES CEPAT