UNAIR NEWS 鈥 Muhammad Razif Arsyad, mahasiswa Program Studi D4 Destinasi Pariwisata Fakultas Vokasi (FV) UNAIR, berhasil meraih Juara 1 Lomba Video Kreatif bertema pengelolaan sampah persembahan dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya pada 2026. Kompetisi berskala nasional dan bersifat umum tersebut terbuka bagi peserta dari seluruh daerah di Indonesia, dengan pusat penjurian dan penghargaaan di Surabaya. Penghargaan diberikan kepada delapan pemenang dengan kategori Juara 1, Juara 2, Juara 3, serta lima Juara Favorit. Atas pencapaiannya, mahasiswa asal Jepara tersebut menerima piagam penghargaan dari Walikota Surabaya pada (Selasa, 07/07).
Mengemas Isu Sampah Lewat Storytelling Cinematic
Kunci keberhasilan Razif terletak pada konsep video yang ia rancang dengan pendekatan storytelling cinematic. Disusun secara runtut agar pesan tersampaikan dengan kuat kepada penonton. Video bermula dengan menampilkan kondisi Kota Surabaya yang bersih dari sampah sebelum berlanjut ke gambaran kontras ketika lingkungan tercemar dan sampah menumpuk beserta sungai yang kotor. Alur berlanjut ke dampak apabila sampah tidak terolah dengan baik seperti pencemaran air, potensi kontaminasi bakteri dan kuman ke makanan masyarakat hingga gangguan aktivitas publik seperti sampah plastik yang berterbangan.聽
Pada bagian selanjutnya, video menghadirkan edukasi cara pemilahan sampah yang benar seperti pemisahan antara sampah organik, anorganik, dan sampah B3 (Bahan Beracun Berbahaya). Sebagai penutup, Razif turut menekankan perilaku ramah lingkungan pada kehidupan sehari-hari seperti membawa tumbler, membawa kantong ulang pakai, dan paling sederhana membuang sampah pada tempatnya. Melalui rangkaian video tersebut, Razif berpesan bahwa menjaga lingkungan dan menerapkan gaya hidup ramah lingkungan adalah kunci kehidupan.
Proses Panjang di Balik Karya
Di balik hasil video tersebut, Razif mengaku tidak sedikit tantangan yang harus ia Lalui. Kesulitan pertama datang pada pencarian properti dan titik pengambilan gambar yang tergolong rumit hingga membutuhkan pengambilan gambar berulang kali. Tantangan kedua timbul ketika pengambilan video menggunakan drone, Ia mengaku baru mempelajari teknik pengoperasian drone. Tantangan terakhir timbul ketika proses penyuntingan hasil video dan proses voice over. Dengan kendala teknik berupa perangkat penyuntingan mengalami lag, sehingga memperlambat proses penyelesaian karya. Pada tahap voice over, Razif harus mencermati agar sesuai dengan scene yang ingin disampaikan. Berbagai hambatan tersebut berhasil ia lewati hingga menjadi pemenang.
Razif berpesan kepada mahasiswa yang ingin berprestasi di bidang videografi untuk tidak menunggu memiliki alat profesional untuk berkarya. 鈥淢anfaatkan apa yang ada, pelajari teknik dasar, dan terus latih kemampuan melalui berbagai proyek kecil. Setiap proses pengambilan gambar, penyuntingan video, hingga menerima kritik adalah bagian penting untuk berkembang kedepannya,鈥 ujarnya. Kisah Razif membuktikan bahwa kendala alat operasional tidak boleh menyurutkan langkah dalam berprestasi.
Penulis: Yongli Eka Cahya
Editor: Ragil Kukuh Imanto





