东京热

东京热 Official Website

Mahasiswa UNAIR Lakukan Edukasi TBC bagi Ibu-Ibu Tenggilis Mejoyo di Surabaya

Mahasiswa UNAIR Lakukan Edukasi TBC bagi Ibu-Ibu Tenggilis Mejoyo di Surabaya (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan masyarakat yang memerlukan perhatian serius, terutama di lingkungan dengan kepadatan penduduk yang tinggi. Upaya pengendalian penyakit ini tidak dapat hanya bergantung pada fasilitas pelayanan kesehatan, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat dalam meningkatkan kesadaran serta perilaku pencegahan. Rendahnya pemahaman mengenai gejala, cara penularan, dan pentingnya pengobatan yang tuntas sering kali menjadi hambatan dalam upaya pengendalian TBC di tingkat komunitas.

Sebagai bentuk kontribusi dalam upaya promotif dan preventif, mahasiswa kedokteran melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) melaksanakan kegiatan edukasi kesehatan mengenai TBC kepada ibu-ibu di kawasan Jalan Tenggilis Mejoyo Utara II Blok B No. 23, Surabaya. Kegiatan yang dilaksanakan pada Minggu (14/12/2025) ini dirancang dengan pendekatan yang sederhana namun efektif, yaitu melalui diskusi interaktif di lingkungan rumah warga. Suasana yang santai dan akrab menjadi faktor penting dalam mendorong partisipasi aktif peserta, sehingga proses penyampaian informasi dapat berlangsung secara dua arah.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa tidak hanya menyampaikan materi secara satu arah, tetapi juga membuka ruang diskusi bagi peserta untuk mengajukan pertanyaan maupun berbagi pengalaman terkait TBC yang ditemui di lingkungan sekitar. Pendekatan ini memungkinkan terjadinya pertukaran informasi yang lebih kontekstual dan relevan dengan kondisi masyarakat. Untuk mendukung pemahaman peserta, materi edukasi juga disampaikan melalui media leaflet yang disusun dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.

Materi yang diberikan mencakup berbagai aspek penting terkait TBC, mulai dari pengertian dasar, mekanisme penularan, gejala klinis, hingga langkah-langkah pencegahan dan pentingnya kepatuhan dalam menjalani pengobatan. Dijelaskan bahwa TBC merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan dapat menular melalui percikan dahak yang keluar saat penderita batuk atau bersin. Gejala yang perlu diwaspadai antara lain batuk berkepanjangan, demam ringan, penurunan berat badan, serta keringat malam. Pengetahuan ini menjadi penting agar masyarakat mampu mengenali tanda awal penyakit dan segera mencari pertolongan medis.

Selain itu, peserta juga dibekali dengan informasi mengenai upaya pencegahan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti menjaga sirkulasi udara di dalam rumah, memanfaatkan pencahayaan alami, serta menerapkan etika batuk yang baik. Peran keluarga ditekankan sebagai pihak terdekat yang memiliki peran strategis dalam mendukung deteksi dini dan keberhasilan pengobatan penderita TBC. Dengan keterlibatan keluarga, diharapkan proses pengobatan dapat berjalan lebih optimal dan risiko penularan dapat ditekan.

Salah satu aspek yang menjadi perhatian utama dalam kegiatan ini adalah kepatuhan terhadap terapi. Mahasiswa menekankan bahwa pengobatan TBC membutuhkan waktu yang relatif panjang dan harus dijalani secara konsisten hingga tuntas, meskipun kondisi pasien sudah menunjukkan perbaikan. Ketidakteraturan dalam mengonsumsi obat dapat menyebabkan resistensi, yang pada akhirnya akan memperumit proses penyembuhan serta meningkatkan risiko penularan di masyarakat.

Kegiatan edukasi ini berlangsung secara aktif dengan antusiasme tinggi dari para peserta. Berbagai pertanyaan yang diajukan menunjukkan adanya ketertarikan serta kepedulian masyarakat terhadap isu kesehatan, khususnya TBC. Diskusi yang berkembang juga mencerminkan bahwa masih terdapat berbagai kesalahpahaman yang perlu diluruskan melalui edukasi yang berkelanjutan.

Secara keseluruhan, kegiatan ini tidak hanya berfokus pada penyampaian informasi, tetapi juga bertujuan untuk memberdayakan masyarakat agar mampu berperan aktif dalam menjaga kesehatan lingkungan. Para ibu sebagai peserta diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang menyebarkan kembali informasi yang telah diperoleh kepada anggota keluarga maupun lingkungan sekitarnya. Dengan demikian, dampak dari kegiatan ini dapat meluas dan berkelanjutan.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa turut berkontribusi dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya dalam aspek peningkatan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Edukasi yang diberikan menjadi bagian dari upaya meningkatkan literasi kesehatan sekaligus memperkuat peran komunitas dalam pencegahan penyakit menular. Langkah sederhana yang dilakukan di lingkungan rumah warga ini diharapkan mampu memberikan dampak nyata dalam meningkatkan kesadaran, mengurangi stigma, serta memperkuat upaya pengendalian TBC secara berkelanjutan.

Penulis: Bariq Pasha

AKSES CEPAT