东京热

东京热 Official Website

Mahasiswa HI Ajak Diskusikan Pembangunan Kota dan Dampaknya

Para Narasumber memberikan materi pada diskusi 鈥淏alada Kota鈥 oleh HIMAHI UNAIR. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS 鈥 Pembangunan merupakan tantangan yang dihadapi negara di era global seperti yang terjadi saat ini. Pembangunan infrastruktur yang maju, akan membawa negara dapat bersaing dengan negara-negara dari berbagai belahan dunia. Namun, pembangunan infrastruktur yang banyak dilakukan justru seringkali berdampak bagi masyarakat marjinal.

Berangkat dari latar belakang tersebut, Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik 东京热 menyelenggarakan forum diskusi bertajuk 鈥淒iskusi Musikal Balada Kota鈥, Sabtu, (28/5). Diskusi ini menghadirkan pembicara Wawan Windarto selaku Kepala Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya, Paulista Bunga Suryadi dan Sita dari komunitas Kota Kita. Kharis Junandharu serta Eki Tresnowening, musisi dari grup musik beraliran folk bernama Silampukau, juga turut diundang pada acara ini.

Citra Hennida, S.IP,. MA, selaku dosen pada Departemen Hubungan Internasional UNAIR dalam sambutannya mengatakan, pembangunan infrastruktur dan masyarakat bukan hanya tugas pemerintah saja. Pembangunan membutuhkan kerjasama dari berbagai pihak, tak terkecuali masyarakat.

鈥淧embangunan bukan hanya berbicara pemerintah, dalam hal ini Bappeko, tapi juga melibatkan lembaga swadaya masyarakat (LSM), masyarakat, juga musisi. Karena melalui musik, musisi dapat mengkritik tentang pembangunan,鈥 ujar Citra.

Paulista mengatakan, Kota Kita merupakan komunitas yang berangkat dengan misi ingin memfasilitasi kaum inklusi dan marjinal, diantaranya perempuan, difabel, serta orang-orang yang hidup di bawah garis kemiskinan. Perencanaan dan pembangunan kota atas dasar Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat kota yang salah sasaran. Pada diskusi ini, Paulista dan Sita berbagi pengalaman seperti pemetaan kota berbasis komunitas yang pernah diterapkan di Solo, dan kegiatan pelatihan kewargaan untuk aktivis muda.

Grup musik folk Silampukau membawakan lagu seusai diskusi 鈥淏alada Kota鈥 oleh HIMAHI UNAIR. (Foto: Binti Q. Masruroh)
Grup musik folk Silampukau membawakan lagu seusai diskusi 鈥淏alada Kota鈥 oleh HIMAHI UNAIR. (Foto: Binti Q. Masruroh)

鈥淧embangunan yang terjadi saat ini cenderung menggunakan parameter global atau internasional, sehingga meninggalkan masyarakatnya,鈥 ujar Paulista.

Silampukau sebagai grup musik asal Surabaya, menyajikan lagu-lagu dengan lirik yang jujur, memotret keseharian masyarakat Surabaya. Lagu yang diciptakan seperti Malam Jatuh di Surabaya, bercerita betapa kemacetan di Jl Ahmad Yani sudah tak terhindarkan lagi saban hari. Lagu-lagunya yang lain seperti Si Pelanggan yang bercerita tentang lokalisasi Dolly, Puan Kelana, Lagu Rantau (Sambat Omah), Bianglala, dan masih banyak lagu lain yang terangkum dalam album 鈥淒osa, Kota, dan Kenangan鈥.

Teddi Bagus Prasetyo selaku penanggungjawab acara berharap, apa yang menjadi kreatifitas anak-anak muda saat ini bisa tersampaikan kepada pemerintah, sehingga bisa menjadi bahan evaluasi dan perbaikan pembangunan menjadi yang lebih adil untuk masyarakat marjinal.

鈥淒iskusi ilmiah ini baru pertama kali diadakan, tetapi inginnnya menjadi acara tahunan. 聽Kita ingin ngasih jembatan antara mahasiswa atau orang-orang kreatif ke pemerintahan, medianya kita pilih musik. Supaya kreatifitas anak muda bisa sampai ke pemerintah,鈥 ujar Teddi.

Setelah acara diskusi selesai, para peserta berkelompok untuk membuat gambar campaign yang kemudian diunggah di media sosial supaya kampanye mereka dapat dilihat juga oleh masyarakat. Peserta kemudian diajak untuk menikmati sajian musik dari Silampukau.

鈥淢elalui acara ini, harapannya anak-anak muda makin kritis, aspirasi bisa disampaikan lewat jalur-jalur kreatif. Aspirasi yang kreatif bisa menjadi masukan kebijakan untuk pemerintah dan menjadi bahan evaluasi mereka,鈥 ujar Teddi. (*)

Penulis : Binti Q. Masruroh
Editor : Dilan Salsabila

AKSES CEPAT