¶«¾©ÈÈ

¶«¾©ÈÈ Official Website

Mahasiswa FIB Raih Juara I Lomba Esai Nasional, Ulas Konsep Keambiguan Budaya Jepang

Lovelia Yuriko Zahida menunjukkan bakatnya dalam final presentasi Lomba Esai Bahasa Jepang ASPBJI 2026 (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Lovelia Yuriko Zahida, mahasiswa , (FIB), ¶«¾©ÈÈ (UNAIR), sukses menyabet Juara I dalam Lomba Menulis dan Presentasi Esai Bahasa Jepang Tingkat Nasional. Puncak lomba yang dihelat Asosiasi Studi Pendidikan Bahasa Jepang Indonesia (ASPBJI) Wilayah Bali-Nusa Tenggara itu berlangsung pada Jumat (28/8/2026). Kemenangan mahasiswa yang akrab disapa Iko tersebut sekaligus menunjukkan konsistensi UNAIR dalam mempertahankan gelar juara selama dua tahun berturut-turut.

Partisipasi Iko bermula dari ajakan para dosen serta pendampingan intensif dari native Jepang yang ikut membantu mengajar di FIB UNAIR. Dalam ajang ini ia berhasil menulis esai di atas lembar genkouyoushi atau kertas naskah asal Jepang khusus untuk menuliskan karangan dalam waktu kurang dari seminggu.

Kompetisi berlangsung dalam dua tahapan, yaitu seleksi naskah dan babak final yang mana Iko berhasil lolos bersama wakil dari dua perguruan tinggi lainnya. Di babak final tersebut, Iko mempresentasikan karya esainya serta menjalani sesi tanya jawab mendalam bersama para dewan juri yang terdiri atas native Jepang dan dosen bahasa Jepang di Indonesia. Berdasarkan peroleh skor, Iko sebagai delegasi UNAIR berhasil mengumpulkan skor tertinggi dan menyabet gelar Juara I.

Dalam budaya bertutur masyarakat Jepang, terdapat strategi komunikasi bernama aimaisa, yaitu keambiguan yang disengaja untuk menjaga keharmonisan sosial sekaligus menghormati lawan bicara. Gagasan inilah yang diusung Iko dalam esainya berjudul Aimaisa ga Hagukumu Tabunka Shakai (Masyarakat Multikultural yang Ditumbuhkan oleh Keambiguan).

Dalam presentasinya, Iko memaparkan bahwa meski sepintas terlihat seperti hambatan dalam berkomunikasi, aimaisa justru melatih empati sosial dan meningkatkan kepekaan antarindividu. Kebiasaan untuk saling memahami tanpa menghakimi tersebut dinilai menjadi fondasi utama dalam membangun masyarakat multikultural yang inklusif dan harmonis.

Langkah ini sejalan dengan komitmen Program Studi Bahasa dan Sastra Jepang FIB UNAIR dalam mendorong minat serta bakat mahasiswa di berbagai kompetisi. Dukungan tersebut menjadi wujud nyata implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4, yakni Pendidikan Berkualitas (Quality Education). 

Penulis: Arkana Raisa Nayaka & Dhaniswari Ananta Ayu, M.Hum.

Editor: Yulia Rohmawati

AKSES CEPAT