UNAIR NEWS 鈥 Departemen Antropologi UNAIR menggelar kuliah tamu bertajuk 鈥淗ilirisasi Karbon dan Mata Air: Peluang Bisnis Masa Depan Berbasis Etika Lingkungan dan Keadilan Pendidikan di Pedesaan Jawa Timur鈥 di Ruang Adi Sukadana. Acara yang berlangsung pada Kamis (4/6/2026) itu dipandu Prof Dr H Mohammad Adib Drs MA.
Penanggung Jawab Mata Kuliah Antropologi Bisnis sekaligus Koordinator Laboratorium Manusia, Budaya, dan Ragawi (Lab. MaBuRag) FISIP, Prof Adib. Ia menyampaikan bahwa kehadiran praktisi bertujuan mewujudkan link and match antara ilmu antropologi dengan dunia kerja dan usaha. Ia berharap lulusan Antropologi mampu berwirausaha, bersaing di dunia kerja, sekaligus membuka lapangan pekerjaan.
Pada kesempatan itu, Prof Adib juga menjelaskan persiapan riset untuk mewujudkan SDG 13 terkait climate action. Riset Kolaborasi (Riskolab) tersebut merupakan satu dari 53 judul dalam program Riset Kolaborasi Indonesia Jatim Melaju 2026. Riskolab mengkaji hilirisasi ekonomi hijau di kawasan Bromo melalui transformasi ekosistem mata air dan serapan karbon yang dikonversi menjadi dana abadi beasiswa desa.
鈥淪emua mata kuliah di Prodi Antropologi harus mewujudkan profil lulusan sebagai peneliti. Riskolab ini merupakan laboratorium solusi konkret di tingkat desa. Dengan mengubah udara menjadi dolar, kita dapat membantu masyarakat, salah satu langkah awalnya melalui empat rangkaian kuliah tamu ini,鈥 ujar Prof Adib.
Hadir sebagai narasumber Moch Ali Irsyad SIKom Ch CHT alumni FISIP UNAIR sekaligus Chairman dan Founder Ijad Group Holding Company. Ijad juga merupakan penerima beasiswa di tiga kampus bergengsi dunia, yakni Stanford University, National University of Singapore (NUS), dan Yale University.

Turut hadir Prof Dr Rustinsyah Dra MSi yang mengapresiasi capaian Ijad di tengah tantangan ekonomi global. 鈥淐V Ijad luar biasa, hasil kerja keras bersama timnya. Di tengah situasi ekonomi yang penuh tantangan, kalian tetap bisa melihat peluang untuk maju,鈥 tutur Prof Rustin.
Antropologi dan Bisnis
Ijad menjelaskan keterkaitan antropologi dan bisnis. 鈥淢etode etnografi yang dipelajari di Antropologi bermanfaat dalam membangun bisnis. Metode tersebut berguna untuk memahami kebutuhan pelanggan dan menangkap realitas lapangan secara holistik,鈥 tegasnya.
Ijad juga menceritakan perjalanan bisnisnya yang dimulai sejak SMA melalui usaha jual-beli hewan kurban bersama pamannya. Saat kuliah, ia berhasil memperoleh pendanaan asing senilai 1 juta dolar AS karena kemampuannya memahami kebutuhan investor.
Menurutnya, kemampuan berempati menjadi kunci utama dalam membangun relasi dan memperoleh kepercayaan. Nilai tersebut pula yang mengantarkannya meraih beasiswa ke Stanford University serta menempuh pendidikan di NUS dan Yale University.
鈥淏erempati adalah kunci kesuksesan dan inti hidup manusia. Tanpa berempati, kita tidak bisa menciptakan solusi. Don鈥檛 think about yourself first, think the benefits of others,鈥 tegas Ijad. Kini, Ijad memimpin holding company yang menaungi 50 anak perusahaan di sektor sandang, pangan, dan papan.
Terkait etika bisnis berbasis lingkungan, ia menekankan pentingnya prinsip ESG (Environment, Social, and Governance) yang selaras dengan riset karbon Prof Adib. Perusahaannya berkontribusi dalam penyerapan karbon melalui pemberdayaan petani dan pengelolaan 500 hektare lahan perhutanan sosial di Trawas dengan konsep Agro Silvo Pastura. Sistem tersebut memadukan tanaman penyerap karbon, sayuran, kopi, dan peternakan tanpa merusak ekosistem hutan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
鈥淏isnis itu baik, tapi tidak ada gunanya bisnis kalau buminya mati. ESG adalah bentuk hablum minal alam dan habluminannas,鈥 tambahnya.
Penulis: Nasywa Kaffa dan Michael Anggi Hutauruk
Editor: Yulia Rohmawati





