UNAIR NEWS 鈥 Fakultas Ilmu Budaya 东京热 (UNAIR) gelar kuliah tamu bertajuk Sriwijaya and Southeast Asia membahas perkembangan peradaban Sriwijaya serta jaringan maritim Asia Tenggara. Kegiatan ini berlangsung pada Senin (11/05/2026) secara daring. FIB secara eksklusif menghadirkan Asst. Prof. Dr. Pipad Krajaejun dari sebagai narasumber utama.
Dalam pemaparannya, Pipad menjelaskan bahwa Sriwijaya berkembang sebagai pusat maritim penting yang menghubungkan berbagai wilayah seperti Sumatra, Semenanjung Melayu, Thailand Selatan, hingga India dan Cina. Jalur perdagangan tersebut tidak hanya menjadi sarana pertukaran barang, tetapi juga pertukaran budaya dan ajaran agama, khususnya Buddhisme Mahayana.
Sriwijaya sebagai Pusat Jaringan Maritim dan Perdagangan Asia Tenggara
Pada sesi awal, Pipad menyoroti posisi geografis Palembang yang dinilai strategis karena menguasai akses Selat Malaka dan Selat Sunda. Kondisi tersebut menjadikan Sriwijaya mampu berkembang sebagai pusat perdagangan sekaligus pusat penyebaran agama Buddha di Asia Tenggara.
Selain itu, berbagai peninggalan arkeologis seperti prasasti Talang Tuwo, arca Buddha, hingga kompleks percandian di Sumatra dan Semenanjung Melayu menunjukkan besarnya pengaruh Sriwijaya pada masa itu. Hubungan internasional juga terlihat melalui ditemukannya keramik Persia, Cina, serta artefak dari India di sejumlah situs bersejarah.
Pipad turut menjelaskan bahwa jaringan maritim Sriwijaya memperlihatkan adanya hubungan erat antardaerah di Asia Tenggara. Kawasan seperti Jambi, Barus, Kedah, hingga Pattani berkembang sebagai pusat perdagangan dan kebudayaan yang saling terhubung melalui jalur laut.
Pengaruh Buddhisme Mahayana dan Pertukaran Budaya di Kawasan Regional
Dalam sesi berikutnya, Pipad menekankan bahwa Sriwijaya memiliki peran besar dalam perkembangan Buddhisme Mahayana. Banyak biksu dari berbagai negara datang untuk mempelajari ajaran Buddha di wilayah tersebut, termasuk Atisha, seorang biksu asal India yang belajar di Sriwijaya selama bertahun-tahun sebelum menyebarkan ajaran Buddhisme ke Tibet.
Selain sebagai pusat keagamaan, Sriwijaya juga menjadi ruang terjadinya pertukaran budaya. Hal itu tercermin dari kemiripan seni, arsitektur, dan peninggalan arkeologis yang ditemukan di Indonesia, Malaysia, hingga Thailand Selatan. Keberagaman pengaruh budaya tersebut menunjukkan bahwa kawasan Asia Tenggara telah memiliki hubungan internasional yang kuat sejak berabad-abad lalu.
鈥淭his shows that Sriwijaya played an important role in the history of global Buddhism,鈥 jelas Pipad saat menjelaskan hubungan Sriwijaya dengan perkembangan Buddhisme Mahayana dan jaringan budaya di Asia Tenggara.聽
Penulis: Nikita Aulia
Editor: Ragil Kukuh Imanto





