UNAIR NEWS – Program Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) terus berupaya mengurangi timbunan sampah organik sekaligus mendukung pengendalian gas rumah kaca serta penyakit berbasis sampah. Upaya kali ini terlaksana melalui kolaborasi 东京热 (UNAIR) bersama Bank Sampah Pattuh Muammalat, Bank Sampah Anggrek, Gerakan PKK Desa Larangan Kecamatan Candi. Kolaborasi tersebut juga mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah daerah Sidoarjo.聽Skema PMKI ini melibatkan UNAIR sebagai (Host) bersama Universitas Hasanuddin (Co-Host) dan Universitas Sriwijaya (Co-Host). Kolaborasi ini sebagai bentuk sinergi lintas perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan yang dapat diterapkan secara langsung oleh masyarakat.
Pengabdian masyarakat yang terlaksana dari bulan Juni hingga September di Desa Larangan, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur ini melahirkan inovasi alat modifikasi komposting sampah organik skala rumah tangga. Host PMKI, Assoc Prof Dr R Azizah SH MKes menyebut bahwa UNAIR bergerak secara tersistematis mulai dari skala rumah tangga hingga TPS3R.
鈥淏ulan Juli aksi nyata dilakukan di TPS3R sebagai post AgroTechZyme yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Kabupaten Sidoarjo. Di Bulan Agustus berlanjut aksi di dua bank sampah. Pattuh Muammalat dan Anggrek, yang menjadi lokasi praktek Komposter Dua Ruang AgroTechZymee Berkelanjutan. Di hari Minggu, 6 September 2026 yang bertempat di pendopo desa bersama Pemerintahan Desa Bapak Kepala Desa Larangan dan Ketua Tim Penggerak PKK Desa Larangan, Kecamatan Candi Ketua PKK RW 7,鈥 ujarnya.
Hadirkan Teknologi Komposter Dua Ruang
Dalam program tersebut, tim UNAIR memperkenalkan Komposter 2 Ruang bersama AgroTechZymee yang merupakan temuan riset Prof Dr Ni Nyoman Tri Puspaningsih MSi selaku Ketua Teaching Industri Excelzyme dan Anggota grup research Proteomik, Pusat Riset Rekayasa Molekul Hayati (BIOME). Teknologi ini dirancang dengan dua ruang yang memiliki fungsi berbeda.
Komposter merupakan alat atau wadah yang dirancang untuk mempercepat dan mengoptimalkan proses dekomposisi sampah organik menjadi kompos. Baik dalam bentuk padat maupun cair. Sistem dua ruang tersebut memungkinkan pemisahan produk padat dan cair sehingga proses pengolahan menjadi lebih tertata.
Ketua Tim Penggerak PKK Desa Larangan, Mariyah Ulfah ST menilai bahwa inovasi berkelanjutan tersebut selaras dengan mars PKK untuk menjaga lingkungan dan membangun keluarga sejahtera. Selain itu, ia mengapresiasi karena penggunaan komposter dilakukan dengan memanfaatkan bahan organik rumah tangga, seperti sisa sayuran dan buah-buahan.
鈥淜eterlibatan Pemerintah Desa Larangan menjadi bagian penting dalam hilirisasi teknologi. Agar inovasi pengolahan sampah tidak berhenti pada pengenalan alat, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat. Sementara itu, keterlibatan akademisi dan tenaga ahli mendukung penerapan teknologi komposting berbasis pengetahuan dan prosedur yang tepat. Kegiatan ini berdampak pada lingkungan bersih. Komposnya untuk pupuk tanaman dilanjut menanam berbagai macam tanaman untuk ketahanan pangan keluarga,鈥 ungkapnya.
Sejalan dengan Mariyah, Kades Desa Larangan, Agus Siswanto SPd MM berharap agar kegiatan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memilah dan mengolah sampah organik menjadi kompos padat dan kompos cair yang bermanfaat bagi lingkungan.
Selain itu, kolaborasi yang terjadi harapannya dapat mengurangi sampah, mencegah pencemaran, mendukung penurunan emisi gas rumah kaca, serta mewujudkan desa yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. 鈥淒ari sampah menjadi berkah, komposkan hari ini untuk masa depan yang lebih hijau. Sehatkan Bumi, Maka Bumi Sehatkan Kita,鈥 ucapnya.
Pengabdian masyarakat ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 3, 11, 12, 13, dan 17.
Penulis: Putri Andini
Editor: Yulia Rohmawati





