Sirih hitam (Piper betle L. var. Nigra) dikenal sebagai salah satu tanaman herbal yang memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tanaman ini mengandung metabolit sekunder, terutama flavonoid, yang berperan sebagai antioksidan alami. Antioksidan sangat penting karena mampu menangkal radikal bebas yang dapat memicu berbagai penyakit degeneratif, seperti penyakit jantung, diabetes, hingga kanker. Namun, isolasi metabolit sekunder dari tanaman sering kali terkendala oleh pertumbuhan tanaman yang lambat, kondisi lingkungan, serta ketersediaan bahan baku yang terbatas.
Salah satu solusi yang kini banyak dikembangkan adalah kultur kalus, yaitu teknik menumbuhkan massa sel tanaman yang belum berkembang menjadi organ tertentu pada media nutrisi steril di laboratorium. Melalui teknik ini, senyawa bioaktif dapat diproduksi secara lebih terkendali tanpa harus bergantung pada musim maupun kondisi alam. Akan tetapi, produksi metabolit sekunder dalam kultur kalus tidak selalu tinggi sehingga diperlukan suatu perlakuan untuk merangsang pembentukannya.
Salah satu metode yang digunakan adalah elisitasi menggunakan kitosan. Kitosan merupakan senyawa alami yang berasal dari kitin, bahan penyusun cangkang udang, kepiting, dan hewan laut lainnya. Dalam kultur jaringan tanaman, kitosan berperan sebagai elisitor, yaitu zat yang mampu memicu respons pertahanan tanaman sehingga produksi metabolit sekunder meningkat. Dengan kata lain, tanaman “merasa” sedang menghadapi tekanan sehingga menghasilkan lebih banyak senyawa pelindung yang bermanfaat bagi kesehatan manusia.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kitosan terhadap pertumbuhan kalus sirih hitam, kandungan flavonoid, serta aktivitas antioksidannya. Kalus diperoleh dari eksplan daun yang ditumbuhkan pada media Murashige dan Skoog (MS) dengan penambahan zat pengatur tumbuh BAP dan 2,4-D. Setelah kalus terbentuk, dilakukan perlakuan elisitasi menggunakan beberapa konsentrasi kitosan selama empat hari sebelum dianalisis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kitosan memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan dan kualitas kalus. Konsentrasi kitosan 1,5 mg/L menghasilkan biomassa terbaik dengan berat segar mencapai 1,22 gram dan berat kering sebesar 0,81 gram. Selain meningkatkan pertumbuhan, perlakuan ini juga menghasilkan kandungan total flavonoid tertinggi, yaitu sebesar 9,52 µg QE/g. Temuan tersebut menunjukkan bahwa konsentrasi kitosan yang tepat mampu merangsang pembentukan senyawa bioaktif secara optimal.
Menariknya, hasil yang sedikit berbeda ditemukan pada aktivitas antioksidan. Kalus yang diberi perlakuan kitosan 2 mg/L menunjukkan kemampuan antioksidan paling tinggi dengan nilai IC50 sebesar 53,60 mg/L. Semakin kecil nilai IC50, semakin kuat kemampuan suatu ekstrak dalam menangkal radikal bebas. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan kadar flavonoid tidak selalu berbanding lurus dengan aktivitas antioksidan karena kemungkinan terdapat senyawa bioaktif lain yang juga berkontribusi terhadap kemampuan antioksidan ekstrak sirih hitam.
Penelitian ini membuktikan bahwa penggunaan kitosan sebagai elisitor merupakan strategi yang efektif untuk meningkatkan kualitas kultur kalus sirih hitam. Konsentrasi 1,5 mg/L merupakan kondisi terbaik untuk meningkatkan biomassa dan kandungan flavonoid, sedangkan konsentrasi 2 mg/L memberikan aktivitas antioksidan yang paling kuat.
Temuan ini membuka peluang besar bagi pengembangan produksi bahan baku obat herbal, suplemen kesehatan, dan produk farmasi berbasis kultur jaringan tanaman. Dengan memanfaatkan teknologi kultur kalus dan elisitasi kitosan, produksi senyawa bioaktif dapat dilakukan secara berkelanjutan, lebih efisien, serta tidak bergantung pada ketersediaan tanaman di alam. Inovasi ini menjadi langkah penting dalam mendukung pemanfaatan kekayaan hayati Indonesia sebagai sumber bahan alam bernilai tinggi untuk bidang kesehatan dan industri.
Penulis:
Junairiah
Edy Setiti Wida Utami
Link:





