Almarhum Jendral TNI DR. H. Abdul Haris Nasution Pada tahun 1965, Jenderal Abdul Haris Nasution yang tahun itu menjabat sebagai Menteri Koordinator (Menko) Pertahanan Keamanan/Kepala Staf Angkatan Bersenjata 鈥� dalam bukunya yang berjudul 鈥淒ari Kup 1 Oktober 1965 ke Sidang Istimewa MPRS 1967鈥� mengisahkan panjang lebar tentang kejadian-kejadian sebelum dan sesudah Gerakan 30 September nya Partai Komunis Indonesia (PKI) termasuk kesaksiannya beliau atas upaya penculikan dan pembunuhan pada dirinya oleh pasukan Tjakrabirawa. Buku beliau itu buku lama dan ditulis dengan ejaan lama menggunakan mesin ketik jaman dulu yang disana sini ada typo dan sulit dibaca bagi orang seperti saya yang usianya sudah 74 tahun.
Jendral Nasution pada tanggal 30 September 1965 itu tidak memiliki firasat yang jelek karena itu beliau ke Universitas Muhammadyah Kebayoran Baru jam 1900 malam hadir di acara Upgrading Pemuda Muhammadyah. Beliau didampingi Kolonel TNI Muhdar Amin da Letkol TNI. Isa Idris. Acara berakhir pukul 22.00 malam,
Pada tanggal 1 Oktober 1965 jam 3.45 pagi terbangun karena kamarnya banyak nyamuk. Istri beliau dengan anaknya Ade Irma Suryani Nasution berada satu kamar. Sebelum jam 0400 pagi pak Jendral Nasution mendengar banyak deru kendaraan diluar rumah, lalu ada orang-orang yang memaksa masuk ke rumah dan ruang kerja beliau. Istri pak Nasution memberi info bahwa ada anggota Tjakrabirawa yang melarangnya keluar. Pak Nasution tidak percaya akan info itu dan berusaha keras untuk menemui pasukan Tjakra itu.
Pak Nas meskipun dilarang istrinya, tapi tetap membuka pintu kamar dengan maksud bicara dengan pasuka Tjakra, namun begitu pintu dibuka rentetan tembakan mengarah ke dirinya, dan pak Nas masuk kamar dan menguncinya dengan susah payah. Para tentara Tjakra itu berusaha mendobrak pintu dengan cara mendobrak pintu kamar dengan senjata mereka sampai pintu itu retak-retak. Naasnya adiknya Pak Nas yang bernama Mardiah dengan menggendong si kecil Ade membuka pintu dengan gugup lalu 鈥渄or.. dor鈥︹�� pasukan Tjakra menembak berkali 鈥� kali dan mengenai Ade (yang akhirnya gugur).
Pak Nas mengisahkan lagi bahwa pasukan Tjakra terus memuntahkan peluru nya dan ada yang mengenai kepala dan dada istri pak Nas, untungya hanya luka ringan. Istri Pak Nas mengajaknya keluar kamar lewat gang depan WC , beliau lari kesamping rumah dengan memanjat tembok 鈥� dan ketika berada diatas tembok itu beliau menoleh dan melihat putrinya terkena tembakan di punggungnya. Pak Nas berniat kembali untuk menemui pasukan Tjakra tapi dilarang istrinya agar saya tetap menyelamatkan diri.聽 Pak Nas lalu meloncat dari tembok kerumah sebelah dan beliau mendengar tembakan kearahnya, tapi untungnya beliau terlindung oleh tanaman didekat dinding. Beliau mendengar ada pasukan yang berteriak 鈥淎da orang nih kesebelah, tidak kena, pelurunya kurang kebawah鈥�. Pak Nas terus bersembunyi di belakang drum air yang ada di halaman Kedutaan Besar Irak di Jalan Teuku Umar nomor 38 Jakarta. Beliau juga mengisahkan bahwa ajudan beliau Piere Tendean keluar kamar dengan membawa senjata.
Sambil bersembunyi di Pekarangan Kedubes Irak itu Pak Nas berfikir dan betanya pada dirinya sendiri: 鈥淜enapa Tjakrabirawa menggrebek dan mau membunuh saya, sedangkan pasukan Tjakrabirawa adalah pasukan Pengawal Kehormatan Istana/Presiden dan apa sebab Istana/Presiden memerintahkan mereka untuk membunuh saya. Apakah Presiden sudah kena fitnah dan memerintahkan pasukan Tjakrabirawa untuk menembak mati saya dirumah saya sendiri 鈥渮onder vorm van process?鈥�.
Setelah pasukan-pasukan Tjakrabirawa itu meninggalkan tempat beliau mendengar ada tiga konvoi kendaraan datang dan menurut istri beliau konvoi itu adalah rombongan Jendral Umar Wirahadikusuma, KKO dan CPM. Beliau tidak keluar dari persembunyian karena masih ragu siapa lawan siapa kawan. Sekitar jam 06.30, beliau diambil oleh Letkol CPM Hidayat Wirasondjaja Komandan Detasemen Markas Staff Angkatan Bersenjata.
Beliau masih waspada karena setelah insiden penyerbuan dan penembakan itu beliau curiga masih ada pihak-pihak yang akan membunuhnya dan dilapori ada anggota Tjakra dari AKRI聽 (Angkatan Kepolisian RI) menanyakan tentang keselamatan Pak Nas, ada juga anggota Tjakrabirawa namanya Letkol Ali Ebrana seorang Kepala Bagian Intelijen Tjakrabirawa yang mengaku diperintah Presiden Sukarno menanyakan keberadaan Pak Nas dimana dan adanya laporan dari Jendral Umar Wirahadikusuma tentang adanya orang-orang berpakaian preman dan memegang senjata berada didekat kediaman Pak Nas.
Saya tidak bisa meneruskan kisah nyata yang dialami Jendral Nasution itu karena saking panjangnya. Namun minimal generasi muda mengetahui sejarah kelam pemberontakan G 30 S PKI itu.





