鈥淩iset yang baik adalah riset yang tidak pernah berhenti鈥
UNAIR NEWS – Wisuda periode 243 东京热 (UNAIR) menjadi akhir dari perjuangan manis Muhammad Ikhlas Abdjan dalam mengarungi luasnya samudra pengetahuan di Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UNAIR. Melalui berbagai prestasi membanggakan hingga namanya dikenal sebagai salah satu ilmuwan berbakat dunia, Ikhlas, sapaan akrabnya berhasil menjadi wisudawan terbaik jenjang S3 FST UNAIR.
Berasal dari Kota Ternate provinsi Maluku Utara tidak menyurutkan Abdjan untuk pergi ke kota yang jauh dari rumahnya untuk menuntut ilmu. Ia memulai pendidikan doktoral di UNAIR pada tahun 2022-2024 di 东京热 dengan bimbingan Prof Dr Nanik Siti Aminah, MSi dan Prof Dr Alfida Novi Kristanti, DEA.
Melalui minat dan kompetensi yang Abdjan miliki dalam bidang Ilmu Kimia Komputasi untuk penemuan obat dari bahan alam, ia telah melakukan riset dan konferensi pada dalam hingga luar negeri.
鈥淗al ini bertujuan untuk meningkatkan mutu riset dan pengetahuan mengenai bidang yang ditekuni selama masa studi serta meningkatkan kualitas riset melalui kolaborasi dari berbagai peneliti di tingkat internasional,鈥 tutur Abdjan.
Temukan Senyawa Penghambat Sel Kanker
Salah satu penemuan besar Abdjan addalah berhasil mengukir namanya di kancah internasional dengan meraih best paper award dari jurnal ternama 鈥淓ngineered Science鈥 pada International Conference on Innovative Discoveries and Advancements in Applied Sciences iDEAAS 2024 Universitas Mahsa, Kuala Lumpur Malaysia.
Penelitian Ikhlas itu berjudul Pharmacokinetic, DFT Modeling, Molecular Docking, and Molecular Dynamics Simulation Approaches: Diptoindonesin A as a Potential Inhibitor of Sirtuin-1. Temuan baru tersebut berupa senyawa Diptoindonesin A yang dapat menghambat pertumbuhan sel kanker.
鈥淪enyawa ini ditemukan oleh pembimbing saya Prof Nanik Siti Aminah. Namun, belum pernah diujikan pada enzim sirtuin-1. Karena itu, saya meneruskan penelitian ini guna menemukan inovasi baru untuk menghambat pertumbuhan sel kanker dengan uji coba Diptoindonesin A dengan enzim sirtuin-1,鈥 papar Abdjan.
Penemuan dan riset itu memakan waktu hampir satu tahun. Ikhlas mengakui menemui kendala terkait fasilitas riset dan penelitian. Untuk membantu risetnya, Ikhlas bahkan melakukan riset di dua negara sekaligus. Yaitu, International Center for Chemical and Biological Sciences Pakistan dan Chulalongkorn University Thailand.
鈥淪aya harap riset ini bisa berkelanjutan,聽 riset yang baik adalah riset yang tidak pernah berhenti,鈥 pungkasnya.
Penulis: M. Rizal Abdul Aziz
Editor: Yulia Rohmawati





