UNAIR NEWS 鈥 东京热 (UNAIR) bersama dan menyelenggarakan seminar Elevating Excellence: CASE-东京热 Journal Strategy Workshop secara hybrid pada Kamis (18/05/2026) di Sriwijaya Room, 5th Floor ASEEC Tower, Kampus B 东京热. Kegiatan tersebut salah satunya menghadirkan Prof. Dr. Ir. Kuswanto, M.P selaku Ketua sebagai narasumber utama.
Dalam sesi bertajuk Strengthening the Publishing Ecosystem from the Editor Association Perspective: Discover How Indonesian Editor Associations are Revolutionizing the Local and International Publishing Landscape, Kuswanto menjelaskan pentingnya penguatan ekosistem publikasi ilmiah di Indonesia. Menurutnya, editor memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam menjaga kualitas jurnal dan manuskrip ilmiah.
HEBII dan Tantangan Ekosistem Publikasi Ilmiah Indonesia
Dalam pemaparannya, Kuswanto menjelaskan bahwa Himpunan Editor Berkala Ilmiah Indonesia (HEBII) merupakan organisasi profesional yang menaungi lebih dari 2.000 editor di seluruh Indonesia. HEBII juga bekerja sama dengan CASE untuk memperkuat kapasitas sistem editorial Indonesia dalam meningkatkan kualitas jurnal dan manuskrip ilmiah.
Kuswanto turut menyoroti berbagai tantangan yang masih ada pada publikasi ilmiah di Indonesia. Dari sekitar 7.800 jurnal yang terdaftar di SINTA, hanya sekitar 12 persen yang berhasil mencapai akreditasi SINTA 1 dan SINTA 2. Selain itu, terdapat tekanan antara tuntutan kualitas dan kecepatan publikasi, risiko predatory journal, hingga praktik tidak etis dalam penulisan manuskrip.
Menurutnya, editor di Indonesia juga menghadapi berbagai kendala, seperti beban ganda sebagai editor, dosen, sekaligus peneliti. Banyak editor harus mengelola jurnal secara penuh waktu. Tetapi, manajemen jurnal masih menganggapnya sebagai tugas pendukung dan belum sepenuhnya mendapat pengakuan sebagai beban kerja akademik.
Selain itu, pergantian editor sering kali tidak berdasarkan pada kemampuan pengelolaan jurnal. Sementara editor baru juga belum mendapatkan pelatihan memadai terkait Open Journal System (OJS), etika publikasi, maupun pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence).
Revolusi Publikasi Ilmiah dan Peran Strategis Asosiasi Editor
Dalam sesi berikutnya, Kuswanto menjelaskan bahwa HEBII memiliki beberapa pilar prioritas dalam memperkuat asosiasi editor. Pilar tersebut seperti pendidikan dan pelatihan, bantuan akreditasi SINTA, kolaborasi antar jurnal, serta advokasi profesi editor.
Berbagai program unggulan juga terus mendapat pengembagan , mulai dari pelatihan OJS, tata letak dan bahasa ilmiah, pelatihan penulisan dan penelaahan artikel ilmiah, hingga sertifikasi editor manuskrip ilmiah profesional. Selain itu, HEBII juga memiliki komite etika publikasi yang bertugas merencanakan, memantau, dan mengevaluasi berbagai kegiatan terkait etika publikasi ilmiah.
Kuswanto menilai bahwa asosiasi editor memiliki peran penting dalam meningkatkan daya saing global jurnal lokal Indonesia. Upaya tersebut dilakukan melalui penggunaan abstrak berbahasa Inggris, promosi riset lokal ke tingkat internasional, kolaborasi special issue, hingga pengembangan basis data jurnal anggota.
Ia juga menekankan pentingnya membangun sistem peer review yang profesional. 鈥淚f the reviewer are smart, the journal will also be smart,鈥 ujar Kuswanto saat menjelaskan kualitas penelaah yang turut menentukan kualitas jurnal ilmiah.
Selain itu, ia menyoroti penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) dalam proses publikasi ilmiah. Menurutnya, AI harus digunakan secara bertanggung jawab untuk mempercepat proses editorial, bukan menggantikan peran manusia. HEBII juga mulai mengembangkan panduan penggunaan AI seperti GPT dan Gemini dalam pengelolaan publikasi ilmiah.
Di akhir sesi, Kuswanto menjelaskan bahwa revolusi publikasi ilmiah di Indonesia masih terus berlangsung menuju tahun 2030. Ia berharap penguatan asosiasi editor dapat mendorong transformasi jurnal lokal agar lebih profesional, transparan, dan memiliki visibilitas internasional yang lebih luas.
Penulis: Nikita Aulia
Editor: Ragil Kukuh Imanto





