Pentingnya Diagnosis Tuberkulosis yang Cepat dan Akurat
Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu penyakit infeksi yang memiliki beban kesehatan yang besar di Indonesia. Penegakan diagnosis secara cepat dan akurat merupakan bagian penting dalam pengendalian penyakit, karena keterlambatan diagnosis dapat menyebabkan keterlambatan pemberian terapi serta meningkatkan risiko penularan di masyarakat.
Pemeriksaan laboratorium memiliki peranan utama dalam mengonfirmasi keberadaan Mycobacterium tuberculosis (MTB). Kultur masih digunakan sebagai salah satu metode rujukan karena mampu mengidentifikasi pertumbuhan bakteri. Namun, metode ini memiliki keterbatasan berupa waktu pemeriksaan yang relatif lama. Kultur pada media padat dapat membutuhkan waktu hingga beberapa minggu, sehingga hasil pemeriksaan tidak selalu tersedia dalam waktu yang sesuai dengan kebutuhan pengambilan keputusan klinis.
Pemeriksaan mikroskopis basil tahan asam (BTA) merupakan metode yang lebih sederhana, cepat, dan ekonomis. Akan tetapi, sensitivitas pemeriksaan ini dapat menurun pada kondisi dengan jumlah bakteri yang rendah. Selain itu, pemeriksaan BTA tidak dapat membedakan Mycobacterium tuberculosis dari kelompok Non-Tuberculous Mycobacteria (NTM). Kondisi tersebut mendorong penggunaan metode diagnostik molekuler yang mampu memberikan hasil lebih cepat dan mendeteksi materi genetik bakteri secara lebih spesifik.
Perkembangan Pemeriksaan GeneXpert
GeneXpert MTB/RIF merupakan pemeriksaan berbasis real-time polymerase chain reaction (RT-PCR) yang digunakan untuk mendeteksi keberadaan DNA Mycobacterium tuberculosis sekaligus mengidentifikasi kemungkinan resistensi terhadap rifampisin. Metode ini direkomendasikan sebagai salah satu alternatif diagnostik molekuler untuk mengatasi keterbatasan pemeriksaan mikroskopis.
Generasi berikutnya, yaitu GeneXpert MTB/RIF Ultra, dikembangkan dengan kemampuan deteksi yang lebih sensitif. GeneXpert MTB/RIF memiliki batas deteksi sekitar 116 colony forming units (CFU)/mL, sedangkan GeneXpert MTB/RIF Ultra memiliki batas deteksi sekitar 15,6–16 CFU/mL. Peningkatan kemampuan tersebut diperoleh melalui penambahan target sekuens multicopy IS6110 dan IS1810, selain evaluasi gen rpoB yang berhubungan dengan resistensi rifampisin.
Selain peningkatan sensitivitas, waktu pemeriksaan GeneXpert MTB/RIF Ultra juga lebih singkat. GeneXpert MTB/RIF memerlukan waktu sekitar dua jam, sedangkan Ultra dapat memberikan hasil dalam waktu kurang lebih 60 menit. Kemampuan tersebut memberikan keuntungan dalam mendukung diagnosis TB secara lebih cepat, terutama pada kondisi dengan jumlah bakteri yang rendah.
Evaluasi Kesesuaian Dua Metode Molekuler
Evaluasi dilakukan terhadap 72 sampel dahak dari pasien dengan dugaan atau diagnosis TB paru. Sampel diperiksa menggunakan GeneXpert MTB/RIF, GeneXpert MTB/RIF Ultra, pemeriksaan BTA, dan kultur Lowenstein-Jensen sebagai pembanding.
Subjek berusia antara 15 hingga 79 tahun dengan median usia 48 tahun. Sebagian besar merupakan laki-laki, yaitu 45 orang atau 62,5%. Keluhan klinis yang paling sering ditemukan adalah batuk dan sesak napas. Sebagian subjek juga memiliki penyakit penyerta, dengan diabetes melitus sebagai komorbid yang paling banyak ditemukan.
Dari 72 sampel yang diperiksa, kultur menunjukkan 42 sampel positif Mycobacterium tuberculosis dan 30 sampel negatif. Lima sampel menunjukkan keberadaan NTM dan dikategorikan sebagai hasil negatif untuk MTB.
Hasil GeneXpert MTB/RIF menunjukkan 58 sampel positif dan 14 sampel tidak terdeteksi. Sementara itu, GeneXpert MTB/RIF Ultra memberikan hasil positif pada 61 sampel dan negatif pada 11 sampel. Hasil positif pada kedua metode juga diklasifikasikan berdasarkan tingkat jumlah materi genetik yang terdeteksi, mulai dari kategori tinggi hingga sangat rendah atau trace.
Kesesuaian yang Sangat Kuat antara GeneXpert MTB/RIF dan Ultra
Salah satu temuan utama adalah adanya kesesuaian yang sangat kuat antara GeneXpert MTB/RIF dan GeneXpert MTB/RIF Ultra dalam mendeteksi Mycobacterium tuberculosis. Nilai koefisien Kappa untuk kesesuaian kedua metode dalam deteksi MTB mencapai 1, yang menunjukkan kesesuaian yang sangat kuat.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa kedua metode memberikan keselarasan yang tinggi dalam mendeteksi keberadaan MTB pada sampel yang diperiksa. Dengan demikian, penggunaan GeneXpert MTB/RIF Ultra sebagai pengembangan teknologi diagnostik molekuler tetap menunjukkan konsistensi yang baik dengan metode GeneXpert MTB/RIF sebelumnya.
GeneXpert MTB/RIF Ultra memiliki keunggulan berupa kemampuan mendeteksi jumlah DNA MTB yang lebih rendah. Karakteristik ini berpotensi memberikan manfaat terutama pada kondisi dengan jumlah bakteri yang sedikit, seperti pada pasien dengan hasil BTA negatif, pasien dengan gangguan sistem imun, maupun kelompok tertentu yang memiliki karakteristik paucibacillary.
Namun, peningkatan sensitivitas juga dapat diikuti oleh tantangan dalam interpretasi hasil. Pada beberapa sampel, GeneXpert Ultra menunjukkan hasil positif, sedangkan kultur tidak menunjukkan pertumbuhan MTB. Perbedaan tersebut dapat berkaitan dengan kemampuan Ultra mendeteksi materi genetik bakteri dalam jumlah yang sangat rendah. Selain itu, DNA dari infeksi sebelumnya juga berpotensi tetap terdeteksi meskipun tidak terdapat pertumbuhan bakteri pada kultur.
Deteksi Resistensi Rifampisin
Selain mendeteksi keberadaan MTB, GeneXpert juga memiliki peranan penting dalam mengidentifikasi resistensi terhadap rifampisin. Rifampisin merupakan salah satu obat utama dalam pengobatan TB, sehingga identifikasi resistensi menjadi bagian penting dalam menentukan pendekatan terapi.
Kesesuaian GeneXpert MTB/RIF Ultra dalam mendeteksi resistensi rifampisin dibandingkan dengan pemeriksaan sensitivitas antimikroba menunjukkan nilai koefisien Kappa sebesar 0,905. Nilai tersebut menunjukkan tingkat kesesuaian yang sangat kuat. Sensitivitas GeneXpert MTB/RIF Ultra untuk deteksi resistensi rifampisin tercatat sebesar 95,2%.
GeneXpert MTB/RIF juga menunjukkan kesesuaian yang tinggi dalam identifikasi resistensi rifampisin, dengan nilai Kappa sebesar 0,810. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kedua metode molekuler memiliki kemampuan yang baik dalam mendukung deteksi awal resistensi rifampisin.
Meskipun demikian, perbedaan hasil masih dapat ditemukan pada sebagian kecil sampel. Hal tersebut dapat terjadi karena kedua metode memiliki dasar deteksi yang berbeda. Pemeriksaan sensitivitas antimikroba menilai respons berdasarkan pertumbuhan bakteri, sedangkan GeneXpert mendeteksi perubahan genetik tertentu yang berhubungan dengan resistensi. Mutasi yang jumlahnya sangat rendah atau berada di luar area target pemeriksaan dapat memengaruhi hasil deteksi.
Posisi Pemeriksaan BTA dalam Diagnosis TB
Pemeriksaan mikroskopis BTA masih memiliki peranan dalam diagnosis TB karena mudah dilakukan dan relatif cepat. Dari 72 sampel yang diperiksa, sebanyak 31 sampel menunjukkan hasil BTA positif, sedangkan 41 sampel lainnya negatif.
Dibandingkan dengan kultur, pemeriksaan BTA menunjukkan sensitivitas sebesar 59,5% dan nilai prediksi positif sebesar 92,6%. Nilai tersebut menunjukkan bahwa hasil BTA positif memiliki hubungan yang kuat dengan keberadaan MTB pada kultur, tetapi pemeriksaan BTA dapat melewatkan sejumlah kasus yang memiliki jumlah bakteri rendah.
Oleh karena itu, metode molekuler seperti GeneXpert memberikan nilai tambah dalam proses diagnostik, terutama untuk mendeteksi MTB pada kondisi ketika pemeriksaan mikroskopis belum mampu menunjukkan keberadaan bakteri secara optimal.
Implikasi bagi Pelayanan Diagnosis Tuberkulosis
Kemajuan teknologi diagnostik molekuler memberikan peluang untuk mempercepat identifikasi TB dan resistensi obat. GeneXpert MTB/RIF Ultra menawarkan peningkatan sensitivitas dengan batas deteksi yang lebih rendah serta waktu pemeriksaan yang lebih singkat dibandingkan generasi sebelumnya.
Kesesuaian yang kuat antara GeneXpert MTB/RIF dan GeneXpert MTB/RIF Ultra dalam mendeteksi MTB menunjukkan bahwa kedua metode memiliki konsistensi diagnostik yang baik. Ultra memiliki keunggulan khusus dalam mendeteksi jumlah materi genetik MTB yang sangat rendah, tetapi hasil pemeriksaan tetap perlu diinterpretasikan bersama dengan kondisi klinis pasien, riwayat penyakit, dan hasil pemeriksaan laboratorium lainnya.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena hasil molekuler positif tidak selalu memiliki arti yang sama dengan pertumbuhan bakteri pada kultur. Setiap hasil pemeriksaan perlu ditempatkan dalam konteks klinis yang tepat agar keputusan diagnosis dan tata laksana dapat dilakukan secara optimal.
Penutup
GeneXpert MTB/RIF dan GeneXpert MTB/RIF Ultra menunjukkan kesesuaian yang sangat kuat dalam mendeteksi Mycobacterium tuberculosis dan resistensi terhadap rifampisin. GeneXpert MTB/RIF Ultra memiliki kemampuan deteksi yang lebih sensitif karena mampu mengidentifikasi jumlah DNA MTB yang lebih rendah serta memberikan hasil dalam waktu yang lebih singkat.
Penerapan teknologi molekuler tersebut dapat mendukung percepatan diagnosis TB, terutama pada kondisi dengan jumlah bakteri yang rendah. Meskipun demikian, peningkatan sensitivitas perlu disertai dengan interpretasi hasil yang komprehensif karena dapat ditemukan perbedaan antara hasil pemeriksaan molekuler dan kultur.
Dengan mengintegrasikan informasi klinis, pemeriksaan mikroskopis, kultur, dan pemeriksaan molekuler, diagnosis tuberkulosis dapat dilakukan secara lebih komprehensif. Ketersediaan GeneXpert MTB/RIF Ultra menjadi salah satu perkembangan penting dalam laboratorium diagnostik yang berpotensi memperkuat upaya deteksi dini TB dan identifikasi resistensi rifampisin.
Artikel ini bersumber dari : Indonesian Journal of Clinical Pathology and Medical Laboratory
Bisa di akses melalui link :
Penulis :
Nadia Sadriani , Tutik Kusmiati , Puspa Wardhani





