东京热

东京热 Official Website

Epigallocatechin-3-Gallate sebagai Modulator Koordinasi Motorik, Perilaku Repetitif, dan Fungsi Sensorik pada Gangguan Spektrum Autisme

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan salah satu gangguan neuro-developmental yang mengganggu interaksi sosial dan komunikasi sosial disertai pola perilaku yang terbatas dan repetitif, banyak anak dengan autisme memiliki keterlambatan kognitif berdasarkan DSM-5. Autisme adalah diagnosis klinis berdasarkan gejala perilaku, yaitu kesulitan perkembangan awal dalam domain komunikasi sosial dan perilaku stereotipik yang terbatas. Angka kejadian Autisme (ASD) meningkat dari waktu ke waktu, dan banyak kasus tetap tidak dikenali oleh layanan kesehatan. Sebuah studi di AS menunjukkan bahwa tingkat diagnosis ASD tertinggi tercatat pada anak-anak berusia 5-8 tahun dan meningkat sebesar 175%, dari 2,3 per 1000 pada tahun 2011 menjadi 6,3 per 1000 pada tahun 2022. Kondisi ini tetap menjadi tantangan global, karena penyebab serta pengobatannya sebagian besar masih diperlukan penelitian lebih lanjut. Penyebab ASD masih belum diketahui secara pasti, tetapi beberapa faktor risiko genetik dan non-genetik telah diidentifikasi, baik secara terpisah maupun dalam kombinasi. Faktor risiko lingkungan yang telah ditemukan meliputi usia ibu yang lanjut, komplikasi terkait kehamilan, nutrisi ibu, penggunaan antidepresan antenatal, faktor psikososial, dan lain-lain. Identifikasi dini gangguan spektrum autisme (ASD) berpotensi meningkatkan hasil perkembangan dengan intervensi berbasis bukti yang lebih awal. Mekanisme bagaimana terjadinya ASD sampai saat ini juga belum diketahui secara pasti. Disregulasi sistem imun mungkin berperan dalam patogenesis ASD,  aktivasi imun maternal memicu aktivasi mikroglia, stres oksidatif, dan disfungsi mitokondria yang dapat merusak otak, sehingga menyebabkan neuroinflamasi dan gangguan perkembangan saraf. Peningkatan kadar sitokin inflamasi juga dikaitkan dengan skor perilaku yang lebih buruk dan peningkatan perilaku stereotip, yang secara signifikan berhubungan dengan kadar Interleukin-6 (IL-6).

         Saat ini masih terbatas pengobatan ASD yang berhasil secara klinis untuk menurunkan gejala utama ASD, sebuah studi pendahuluan yang menggunakan senyawa antioksidan dan antiinflamasi alami melaporkan keuntungan yang signifikan secara statistik. Epigallocatechin-3-gallate (EGCG), adalah polifenol yang umum ditemukan dalam ekstrak teh hijau (GTE), memiliki potensi untuk terapi medis. Senyawa ini mencegah kerusakan akibat peradangan oleh lipopolisakarida (LPS) dan berpartisipasi dalam keseimbangan sistem kekebalan tubuh. EGCG telah dipelajari dan terbukti memberikan manfaat untuk penyakit Alzheimer, senyawa ini memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi. Proses neuroinflamasi dan stres oksidatif diduga sebagai penyebab gangguan spektrum autisme (ASD). Kami meneliti efek pemberian epigallocatechin-3-gallate (EGCG) terhadap koordinasi motorik, perilaku repetitif, dan fungsi sensorik pada model hewan autisme. Penelitian ini merupakan studi eksperimental menggunakan mencit bunting yang diinjeksi asam valproat secara intraperitoneal dengan dosis 600 mg/kg berat badan (BB). Subjek penelitian dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu kelompok kontrol negatif tanpa induksi asam valproat, kelompok kontrol positif dengan induksi asam valproat, serta 3 kelompok perlakuan yang diberi EGCG dengan dosis 2 mg/kg BB, 20 mg/kg BB, dan 200 mg/kg BB. Didapatkan perbedaan yang signifikan pada uji respon bagian tubuh terhadap gaya gravitasi bumi (geotropisme) hari ke-19 antar-kelompok. Hasil pada kelompok kontrol negatif tidak berbeda dengan kelompok perlakuan yang diberi EGCG dosis 20 mg/kg BB dan 200 mg/kg BB. Uji penilaian terhadap kemampuan untuk melakukan perawatan diri (self-grooming) pada hari ke-21 menunjukkan perbaikan gejala self-grooming yang repetitif dan hasil yang serupa dengan kontrol negatif pada kelompok yang diberi EGCG dosis 20 mg/kg BB dan 200 mg/kg BB. Hasil uji untuk menilai sensitivitas nyeri (hot plate) pada hari ke-39 menunjukkan perbaikan signifikan pada kelompok yang diberi EGCG dosis 200 mg/kg BB. Kesimpulan: Pemberian EGCG dengan dosis 20 mg/kg BB dan 200 mg/kg BB selama masa kebuntingan mencit dapat memperbaiki koordinasi motorik, perilaku repetitif, dan fungsi sensorik pada model hewan autisme.

Disarikan dari artikel dengan judul: 鈥Epigallocatechin-3-gallate as a modulator of motor coordination, repetitive behavior, and sensory function in autism spectrum disorder鈥 yang diterbitkan bulan Juli 2026 di  Journal of Neurosciences in Rural Practice,  Vol. 17 No. 2, Halaman: 258-62. Link:

Penulis:

Prof. Dr Irwanto,dr SpA(K)

Scopus ID 59912681400

Departemen Ilmu Kesehatan Anak

Fakultas Kedokteran 东京热

AKSES CEPAT