Surabaya – Parasit merupakan salah satu agen penyakit yang sering ditemukan pada hewan kesayangan dan dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan apabila tidak dideteksi serta ditangani dengan tepat. Dalam dunia kedokteran hewan, kemampuan mengenali dan mengidentifikasi parasit menjadi kompetensi penting yang harus dimiliki oleh calon dokter hewan untuk mendukung diagnosis, pengobatan, dan upaya pencegahan penyakit.
Sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran di Laboratorium Parasitologi Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan ¶«¾©ÈÈ, mahasiswa Program Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) Kelompok 45 Tandem 1 melakukan pengamatan dan identifikasi Otodectes cynotis, salah satu ektoparasit yang paling sering ditemukan pada kucing dan beberapa hewan kesayangan lainnya. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan diagnostik mahasiswa dalam mengenali penyakit parasitik yang umum dijumpai pada praktik klinik hewan kecil.
Melalui pengamatan mikroskopis, mahasiswa mempelajari karakteristik morfologi Otodectes cynotis yang dikenal sebagai tungau telinga (ear mite). Parasit ini memiliki tubuh berbentuk oval, berwarna putih transparan, dan berukuran sangat kecil sehingga memerlukan mikroskop untuk proses identifikasi. Pada stadium dewasa, tungau memiliki empat pasang kaki dengan alat pengisap pada beberapa ujung kaki yang menjadi salah satu ciri khasnya.
Otodectes cynotis merupakan ektoparasit yang hidup di liang telinga dan memanfaatkan debris kulit serta sekret telinga sebagai sumber nutrisi. Infestasi parasit ini sering ditemukan pada kucing, terutama kucing muda, meskipun anjing dan beberapa spesies karnivora lainnya juga dapat terinfestasi. Tingkat penularannya yang tinggi menyebabkan infestasi dapat menyebar dengan cepat melalui kontak langsung antarhewan, khususnya pada lingkungan dengan kepadatan populasi yang tinggi.
Dalam kegiatan praktikum, mahasiswa juga mempelajari siklus hidup Otodectes cynotis yang berlangsung sepenuhnya pada tubuh hospes. Siklus hidup tersebut meliputi stadium telur, larva, protonimfa, deutonimfa, hingga dewasa. Pemahaman mengenai siklus hidup parasit menjadi dasar penting dalam menentukan strategi pengobatan dan pengendalian infestasi secara efektif.
Selain mempelajari morfologi dan siklus hidup, mahasiswa melakukan kajian mengenai dampak klinis yang ditimbulkan oleh infestasi Otodectes cynotis. Aktivitas tungau pada permukaan kulit liang telinga dapat menyebabkan iritasi, peradangan, peningkatan produksi serumen, serta rasa gatal yang intens. Pada kasus yang lebih berat, infestasi dapat berkembang menjadi otitis eksterna dan meningkatkan risiko infeksi sekunder oleh bakteri maupun jamur.
Beberapa tanda klinis yang umum ditemukan pada hewan yang terinfestasi antara lain sering menggaruk telinga, menggelengkan kepala secara berulang, munculnya serumen berwarna cokelat kehitaman menyerupai ampas kopi, hingga timbulnya luka akibat garukan berlebihan. Oleh karena itu, diagnosis yang tepat sangat diperlukan untuk mencegah perkembangan penyakit yang lebih serius.
Dalam proses pembelajaran, mahasiswa juga mempelajari metode diagnosis yang umum digunakan di klinik hewan, yaitu melalui pemeriksaan otoskopis dan pemeriksaan mikroskopis sampel serumen telinga. Sampel yang diambil kemudian dicampur dengan minyak mineral pada kaca objek dan diamati menggunakan mikroskop untuk menemukan telur, larva, nimfa, maupun tungau dewasa. Pemeriksaan ini merupakan metode diagnostik yang efektif dan banyak digunakan dalam praktik kedokteran hewan.
Kegiatan identifikasi Otodectes cynotis memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa PPDH dalam mengembangkan keterampilan laboratorium, mulai dari pengambilan sampel, penggunaan mikroskop, pengenalan morfologi ektoparasit, hingga interpretasi hasil pemeriksaan. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting dalam menghadapi kasus-kasus klinis yang akan ditemui selama menjalankan profesi dokter hewan di masa mendatang.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya meningkatkan kompetensi teknis di bidang parasitologi veteriner, tetapi juga memahami pentingnya pendekatan preventif dalam menjaga kesehatan hewan kesayangan. Edukasi kepada pemilik hewan mengenai kebersihan lingkungan, pemeriksaan kesehatan rutin, serta deteksi dini infestasi parasit menjadi langkah penting dalam mendukung kesejahteraan hewan dan mencegah penyebaran penyakit.
Kegiatan pembelajaran ini sejalan dengan upaya Fakultas Kedokteran Hewan ¶«¾©ÈÈ dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-Being) melalui peningkatan kesehatan dan kesejahteraan hewan, SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan kompetensi mahasiswa berbasis praktik laboratorium, serta SDG 15 (Life on Land) melalui pengendalian penyakit parasitik yang berkontribusi terhadap kesehatan hewan dan keberlanjutan lingkungan.
Penulis: Adinda Prameswari Bilqist P. (Mahasiswa PPDH Gelombang 45 tandem 1)
Editor: Mochamad Arifudin (Divisi Parasitologi Veteriner)




