Gambar Poster Ucapan Selamat dari FIB UNAIR untuk Malika Nur Kamila Salmuddin (dok. FIB UNAIR)
FIB NEWS – Kanji merupakan sistem penulisan dalam Bahasa Jepang yang kerap dianggap sulit bagi sebagian pelajarnya. Hal serupa turut dirasakan oleh Malika Nur Kamila Salmuddin, mahasiswa program studi Bahasa dan Sastra Jepang, 东京热 (UNAIR).
Namun, berkat kegigihan serta dukungan dari lingkungan sekitarnya mengantarkan Malika memperoleh juara 1 pada Lomba Kanji Isshoni Tanoshimimashou 2026 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Sastra Jepang Universitas Brawijaya. Pengalamannya setelah menyaksikan perlombaan Kanji Cup ke-20 di Universitas Negeri Surabaya (UNESA) pada Oktober 2025 turut mengubah pandangannya terhadap bidang tersebut.
鈥淪ejujurnya, saat saya pertama kali belajar bahasa Jepang pun, saya tidak tertarik untuk mempelajari kanji karena bagi saya sangat sulit dan rumit. Tapi pandangan saya berubah ketika menonton perlombaan kanji cup ke 20 di UNESA pada bulan Oktober 2025. Dari sana, muncul perasaan ingin menjadi salah satu mahasiswa yang mengikuti lomba kanji cup,鈥 ungkapnya.
Mengatasi Keraguan dan Pentingnya Penguasaan Kanji
Lebih lanjut, Malika mengungkapkan bahwa tantangan dalam mempelajari hadir melalui rasa kepercayaan dirinya. Ia kerap merasa ragu akan keberhasilannya dalam menguasai kanji.
鈥淭antangannya ada pada kepercayaan diri saya sendiri, terkadang saya sering merasa ragu akan diri saya sendiri hanya karena kesalahan sepele selama latihan yang padahal itu hal yang normal. Namun, setelah saya merenungkan terkait permasalahan dan berdiskusi dengan dosen dan kating saya, saya menyadari bahwa sebenarnya saya hanya perlu untuk terus mencoba tanpa mengkhawatirkan banyak hal yang tidak perlu,鈥 ujarnya.
Bagi Malika, mempelajari kanji merupakan sebuah keharusan mahasiswa program studi Bahasa dan Sastra Jepang. Menurutnya, meski kanji tidak digunakan dalam komunikasi lisan sehari-hari namun penguasaan kanji sangat penting untuk memahami berbagai karya tulis berbahasa Jepang, seperti novel, sastra, maupun teks akademik.
Selain itu, ia turut menyoroti platform penerjemah bahasa Jepang yang seringkali digunakan oleh masyarakat luas, terkhusus kecerdasan buatan (AI), yang menurutnya belum mampu menggantikan nuansa pemaknaan dalam kanji. Hal ini karena keterkaitan bahasa bukan sekadar terjemahan kata per kata, namun makna, emosi, serta konteks penggunaannya juga harus diperhatikan.
Menetapkan Tujuan sebagai Kunci Konsistensi
Menutup sesi wawancara, Malika menegaskan bahwa dalam mempelajari bahasa asing diperlukan adanya tujuan yang jelas. Menurutnya, proses dalam mempelajari suatu bahasa tidaklah mudah. Oleh karena itu, motivasi dan tujuan menjadi latar belakang untuk mewujudkan konsistensi.
鈥溾仩Mempelajari bahasa asing merupakan suatu tantangan besar. Karena itu kita harus menetapkan apa tujuan kita belajar, karena sebagai manusia pun kita mudah sekali merasa goyah ketika motivasi kita hilang, sehingga yang menjadi 鈥榮upport system鈥 utama kita adalah tujuan kita sendiri,鈥 pungkasnya.
Penulis: Amelia Farah P.I
Editor: Putri Andini




