鈥Kita tak lagi bisa kembali ke masa itu.鈥
Saat itu, usia mereka belum bisa dibilang matang. Sebagai sebuah tahap pendewasaan, siapapun bisa saja bertengkar pada hal sepele.
鈥淟oh, kok kamu malah pengin ke masa lalu to?鈥
鈥淚ya. Aku sebenarnya pengin sekali waktu itu sudah cukup paham seperti sekarang ini. Dan, tak perlu menunggu sampai selama ini untuk paham tentang hal itu.鈥
Menyesali adalah tabiat yang baik, menandakan bahwa siapapun yang merasa benar ternyata bisa salah. Yang dikira persis salah, tidak harus kita berngotot ria untuk membenarkan. Sebab, toh siapa sih kita ini?
鈥淪udahlah, saya sudah memafkanmu kok. Toh kita bisa bersahabat kembali sampai sekarang.鈥
鈥淏enar, tapi butuh waktu lama juga ternyata. Orang dengan amat singkat merusak hubungan persahabatan. Tapi sangat tak singkat untuk memperbaiki hubungan yang telah retak, meski gara-gara masalah berbeda pikiran.鈥
鈥沦别辫别濒别.鈥
Salah satu yang paling berperan mengendalikan diri kita adalah pikiran dan ego. Kejernihan yang melahirkan kebijaksanaan, memang sesuatu yang mahal dan hanya bisa dipelajari jika kita berhadapan dengan kenyataan-kenyataan yang nyata di dalam kehidupan. Tidak bisa dipelajari lewat buku-buku semata.
鈥淜amu tahu nggak, apa dulu yang saya paling sukai kalau diajak berdiskusi?鈥
鈥淎辫补?鈥
鈥淒alam emosi jiwaku saat itu, saya amat suka berdebat. Berdebat dan berdiskusi tentang topik-topik agama. Topik tentang kebenaran menuju jalan surga.鈥
Si teman tersenyum manis.
鈥淎ku bahkan merasa bahwa apa yang aku sampaikan tentang pengetahuan agamaku kepada temanku adalah suatu kebenaran mutlak yang harus diterima. Dan, kamu memang harus mafhum juga, ketika aku merasa ada jurang pemisah antara kita. Sebenarnya aku khawatir dengan agamamu. Tapi, justru cara-caraku cenderung membuat aku makin curiga kepadamu, dan makin merasa bahwa kamu tidak lagi sahabatku.鈥
Sekali lagi temannya tersenyum dan membalasnya.
鈥淜amu tidak salah pada waktu itu, kamu hanya salah faham.鈥
鈥淶akir Naik idoalaku. Tapi kaliberku jauh dari dia.鈥
Mereka berdua, masih berjalan pelan sambil melepas kerinduan. Lapangan luas alun-alun ini memang tidak akan cepat dilalui, terutama jika ingin meringkas waktu yang memisahkan perjumpaan keduanya.
鈥淟antas, apa yang kau rasakan ketika kita dulu pernah berdebat soal keyakinan kita masing-masing di sudut danau kampus. Apa kau masih ingat ?鈥
鈥淭ernyata kau tidak mudah melupakan momen itu ya?鈥
鈥淎ku ingin melupakannya, tapi ingatanku lebih suka berdiam menghantuiku.鈥
鈥淎ku tentu tidak nyaman waktu itu. Aku merasa kamu berubah total. Waktu itu, rasanya kamu sedang benar-benar berubah menjadi iblis yang justru membawaku pada imajinasi tentang agamamu yang identik dengan pemaksaan, kekerasan, perang, dan bom bunuh diri. Aku rasa itu adalah hal yang amat buruk jika kau dengar waktu itu.鈥
(Bersambung ke bagian II)





