东京热

东京热 Official Website

Dampak Bencana dan Kesiapsiagaan Infrastruktur Berbasis IoT di Kawasan Perkotaan

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Bencana alam yang semakin sering terjadi dan semakin parah, seperti gempa bumi, banjir, dan kebakaran hutan, telah mengungkap kerentanan kritis pada sistem infrastruktur dan mekanisme respons bencana di seluruh dunia. Peristiwa seperti gempa Wenchuan (2008), banjir Jakarta (2020), dan ledakan pelabuhan Beirut (2020) menunjukkan bagaimana kerapuhan infrastruktur, keterlambatan respons, dan sistem data yang terfragmentasi dapat memperparah dampak bencana. Kegagalan ini menyoroti kebutuhan mendesak akan pendekatan terintegrasi dan berbasis data untuk memperkuat ketahanan infrastruktur dan kesiapsiagaan bencana.

Internet of Things (IoT) telah muncul sebagai solusi transformatif di bidang ini. Teknologi ini memungkinkan pemantauan real-time, analitik prediktif, dan interoperabilitas sistem lintas skala spasial dan temporal. Namun, penelitian yang ada masih terfragmentasi. Banyak studi hanya berfokus pada inovasi tingkat perangkat, optimalisasi algoritma, atau pemodelan simulasi, tanpa membahas hubungan sistemik antara teknologi, tipologi infrastruktur, dan kategori bencana. Meskipun beberapa upaya telah mencoba mengintegrasikan IoT dengan GIS, penginderaan jauh, atau kerangka kelembagaan, upaya tersebut sering kali kurang memiliki kohesi konseptual dan reproduktifitas.

Penelitian ini bertujuan untuk melakukan tinjauan literatur sistematis (SLR) terhadap 794 artikel peer-reviewed yang diterbitkan antara tahun 2015 dan 2025, yang diambil dari Scopus dan Web of Science. Proses seleksi mengikuti pedoman PRISMA untuk memastikan transparansi dan reproduktifitas metodologis. Studi yang disertakan mencakup berbagai domain bahaya鈥攇empa bumi, banjir, kebakaran hutan, dan kecelakaan industry dan berfokus pada aplikasi IoT dalam konteks ketahanan infrastruktur dan kesiapsiagaan bencana.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun aplikasi IoT dalam konteks bencana semakin berkembang, sebagian besar masih terfragmentasi dan kurang terintegrasi dengan dimensi spasial, kelembagaan, atau keberlanjutan. Analisis awal mengungkapkan bahwa sensor lingkungan dan alat penginderaan udara tak berawak (UAV) tetap menjadi teknologi yang paling sering digunakan, terutama dalam konteks banjir dan pemantauan infrastruktur. Namun, adopsi teknologi integratif lanjutan seperti digital twins, Building Information Modeling (BIM), dan blockchain masih terbatas dan sebagian besar bersifat eksperimental. Bias spasial juga terlihat, dengan kurangnya representasi wilayah Global Selatan dan minimnya pelaporan geografis yang eksplisit. Secara metodologis, desain sistem dan eksperimen berbasis perangkat mendominasi, sementara pendekatan partisipatif, berbasis pengguna akhir, dan berorientasi kebijakan sangat jarang ditemukan.

Rekomendasi dari studi ini mencakup pentingnya mengatasi kesenjangan tersebut melalui pengembangan arsitektur IoT yang adaptif, pendekatan partisipatif dan kontekstual, serta kerangka evaluasi yang mempertimbangkan indikator spasial, sosial, dan kelembagaan. Sebagai kontribusi intinya, studi ini memperkenalkan kerangka konseptual integratif yang memetakan keterkaitan sistemik antara tipologi bencana, target infrastruktur, teknologi IoT, aplikasi fungsional, dan hasil yang diharapkan, sambil secara eksplisit memasukkan lapisan lintas sektoral dan faktor kerentanan multidimensi. Dengan menjembatani kesenjangan antara inovasi teknis dan praktik sistem kebencanaan, artikel ini berkontribusi pada pengembangan aplikasi IoT yang inklusif, adil, dan sensitif terhadap konteks untuk tantangan bencana di masa depan, terutama di wilayah yang kurang terwakili dan berisiko tinggi.

Artikel selengkapnya dapat diakses di:

Ditulis oleh: Hijrah Saputra, Rabab Alayham Abbas Helmi, Mimi Diana Ghazali, Wa Ode Sumartini

AKSES CEPAT