UNAIR NEWS 鈥 Stunting tidak hanya berkaitan dengan kecukupan gizi, tetapi juga dipengaruhi pola asuh serta cara orang tua memberikan makanan kepada anak. Berangkat dari persoalan tersebut, tim pengabdian kepada masyarakat (pengmas) yang melibatkan 东京热 (UNAIR) memberikan pelatihan parental dan maternal feeding kepada ibu-ibu di Kecamatan Muncar, Banyuwangi.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya melengkapi berbagai intervensi penanganan stunting yang selama ini banyak berfokus pada pemenuhan dan pengawasan asupan nutrisi. Melalui pelatihan, para ibu dibekali pemahaman mengenai stunting, pola pengasuhan positif, serta strategi pemberian makan yang tepat bagi anak.
Guru Besar Psikologi UNAIR, Prof Dr Suryanto, MSi Psikolog mengatakan bahwa urgensi program itu terlihat dari kondisi stunting di Kecamatan Muncar. Berdasarkan data yang digunakan tim pengmas, tercatat 105 balita mengalami stunting pada Mei 2024. Angka tersebut meningkat menjadi 121 balita pada Juni 2024.
Pola Asuh dan Cara Memberi Makan Ikut Berperan
Menurutnya, persoalan stunting perlu ditangani secara komprehensif. Sebab, stunting merupakan persoalan multifaktor dan tidak semata-mata berkaitan dengan kemiskinan maupun kekurangan gizi.
Praktik pemberian makan menjadi salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian. Anak usia dini masih sangat bergantung pada orang tua, khususnya ibu, dalam pembentukan pola dan kebiasaan makan.
鈥淜arena itu, cara ibu merencanakan, menyiapkan, serta memberikan makanan dapat memengaruhi perilaku makan anak,鈥 ungkapnya.
Salah satu pendekatan yang diperkenalkan kepada peserta adalah pemberian makan secara responsif atau responsive feeding. Pendekatan tersebut menekankan interaksi positif antara ibu dan anak selama proses makan, termasuk memberikan makanan secara perlahan, menghindari paksaan, serta membangun pengalaman makan yang positif.
Prof Suryanto berharap edukasi tersebut dapat membantu para ibu tidak hanya memahami kebutuhan nutrisi anak, tetapi juga memperhatikan bagaimana makanan diberikan dan bagaimana hubungan orang tua-anak terbentuk selama proses makan.
Libatkan 43 Ibu
Pelatihan diikuti oleh 43 ibu yang memiliki anak balita. Dalam pelaksanaannya, peserta memperoleh materi mengenai stunting, pengasuhan anak, serta cara memberikan asupan makanan yang tepat.
Selain penyampaian materi, proses pembelajaran juga berlangsung melalui diskusi dan tanya jawab. Pendekatan itu memberi ruang bagi peserta untuk menghubungkan materi pelatihan dengan pengalaman sehari-hari ketika mengasuh dan memberi makan anak.
Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta setelah mengikuti pelatihan. Analisis dilakukan terhadap 28 data pre-test dan post-test yang telah melalui proses pembersihan data.
Hasil uji statistik menunjukkan nilai uji-t sebesar -2,360 dengan nilai p = 0,026. Hasil tersebut menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara pengetahuan peserta sebelum dan setelah mengikuti pelatihan.
Secara kualitatif, peserta juga menunjukkan pemahaman yang baik terhadap materi. Hal itu terlihat selama proses diskusi dan tanya jawab, termasuk ketika peserta mempraktikkan secara sederhana proses pengasuhan yang telah dipelajari.
Dorong Pencegahan Stunting Berkelanjutan
Dosen Psikologi UNAIR itu mengatakan, pelatihan parental dan maternal feeding menunjukkan bahwa upaya penanggulangan stunting dapat diperkuat melalui peningkatan kapasitas orang tua. Tidak hanya memastikan makanan yang diberikan memenuhi kebutuhan gizi, orang tua juga perlu memahami pola pengasuhan dan strategi pemberian makan yang mendukung tumbuh kembang anak.
Program tersebut sekaligus menjadi pelengkap pendekatan penanganan stunting yang telah dijalankan pemerintah. Jika intervensi gizi berfokus pada pemenuhan kebutuhan nutrisi dan kesehatan ibu-anak, edukasi mengenai perilaku pengasuhan dan pemberian makan dapat memperkuat perubahan dari lingkungan keluarga.
Melalui peningkatan pengetahuan dan perubahan sikap ibu, pelatihan ini diharapkan dapat memperkuat kesadaran masyarakat mengenai pentingnya peran orang tua dalam membentuk pola makan anak. Dengan demikian, pencegahan stunting tidak berhenti pada pemberian nutrisi, tetapi berkembang menjadi upaya berkelanjutan yang dimulai dari praktik pengasuhan sehari-hari di dalam keluarga.
Penulis: Prof Dr Suryanto, MSi Psikolog / Khefti Al Mawalia





