东京热

东京热 Official Website

ASAP UNAIR Ajak Masyarakat Lawan Normalisasi Kekerasan Seksual lewat Webinar Edukatif

Pemaparan webinar Speak up Against Sexual Violence 鈥淒iam Bukan Berarti Konsen鈥 secara online melalui zoom oleh Gabriella Patricia Ruswir S Psi Psikolog. (Sumber: Istimewa).
Pemaparan webinar Speak up Against Sexual Violence 鈥淒iam Bukan Berarti Konsen鈥 secara online melalui zoom oleh Gabriella Patricia Ruswir S Psi Psikolog. (Sumber: Istimewa).

UNAIR NEWS – Konsen harus dinyatakan dengan jelas dan diamnya seseorang tidak bisa dijadikan pembenaran atas kekerasan seksual. Pada Minggu (24/05/2026) 东京热 (UNAIR) mengadakan webinar dengan mengusung tema Speak up Against Sexual Violence 鈥淒iam Bukan Berarti Konsen鈥 secara online melalui zoom. Webinar ini diikuti oleh masyarakat umum yang menjadikan kesempatan ini sebagai ruang edukasi untuk belajar, diskusi, dan saling menguatkan dalam bersuara. 

Airlangga Safe Place Asap merupakan platform layanan dukungan kesehatan mental yang bertujuan untuk membantu individu menyadari kesehatan mental dan berkembang secara optimal. Pada kesempatan tersebut, hadir sebagai narasumber Gabriella Patricia Ruswir S Psi Psikolog yang aktif menjadi psikolog umum serta public speaker

Pembahasan webinar dimulai dari bentuk-bentuk kekerasan seksual (KS) yang sering dianggap biasa, mengapa KS masih dinormalisasi oleh lingkungan, dampak psikologis pada korban, cara menghadapi pelecehan, cara menjadi support system yang aman, serta cara menciptakan lingkungan yang aman dan positif. 

Gabriella menjelaskan bahwa kekerasan seksual tidak dapat dipandang secara hitam putih. Menurutnya, KS bukan sekadar dibedakan berdasarkan tingkat berat atau ringan, melainkan merupakan perilaku yang bersifat kontinu atau berkelanjutan, mulai dari level paling rendah hingga paling berat. Bentuknya pun beragam, mulai dari normalisasi, kekerasan verbal, non-verbal, digital, fisik, hingga pemaksaan.

Ia menambahkan bahwa perilaku yang sering dianggap biasa sebenarnya dapat memberikan dampak yang sama seriusnya dengan tindakan pemaksaan. Pasalnya, batas antara perilaku yang dianggap normal dan tindakan pelecehan sangat tipis sehingga berpotensi menimbulkan trauma bagi korban.

鈥淜orban seringkali kesulitan untuk melapor, karena mereka menyadari bahwa tindakan yang mereka alami dianggap wajar atau dianggap bercanda saja oleh lingkungan sekitar mereka,鈥 jelas Gabriella. 

Terdapat beberapa hal yang membuat KS seringkali dinormalisasi seperti power imbalance, rape culture dan normalisasi, tekanan norma maskulinitas, dan institutional silence. Dampak dari KS tidak sebatas psikologis saja melainkan juga trauma, krisis kepercayaan, dan fisik seperti susah tidur, nilai akademik, dan ekonomi. 

鈥淒iam merupakan mekanisme survival mode yang dilakukan oleh korban dan merasa terancam dengan sesuatu. Sehingga korban yang mengalami KS mengalami respon biologis dan hambatan psikososial yang menyebabkan korban diam atau freeze,鈥 ungkap Gabriella. 

Menciptakan Ruang Aman untuk Korban Bersuara 

Menurutnya, speak up adalah hak untuk mengungkapkan setiap tindakan dan pengalaman kekerasan seksual kepada satu orang atau lebih, baik kepada teman dekat, konselor, keluarga, institusi, maupun publik. Speak up ini juga bergantung pada respon dari lingkungannya yang menentukan mereka berani untuk mengungkapkannya atau tidak. 

鈥淪peak up membutuhkan kedua belah pihak, keberanian korban hanya bisa tumbuh jika lingkungannya layak dipercaya. Korban harus didengarkan, dipercaya sebelum meminta bukti, diberi kendali atas prosesnya sendiri, serta tidak menghakimi atas pilihan responnya, sehingga menjadi ruang yang aman bagi korban,鈥 ujar Gabriella. 

Penulis: Fauziah Kandela

Editor: Khefti Al Mawalia

AKSES CEPAT