UNAIR NEWS – Panji Waluyo Jati, alumnus S1 n 东京热 angkatan 2012 adalah sosok yang berkontribusi signifikan terhadap peningkatan produktivitas perusahaan budidaya udang. Sejak bergabung sebagai teknisi tambak di PT Suri Tani Pemuka (STP), anak usaha Japfa Comfeed Indonesia, pada 2017, Panji mendapatkan kepercayaan untuk menangani berbagai unit produksi strategis hingga mengelola dua farm di Panarukan dan Jangkar, Situbondo, dengan total lahan sekitar 9 hektare.
Kontribusi Panji terhadap produksi perusahaan tercermin dari capaian yang berhasil ia raih di lapangan. Di tambak yang berada di bawah tanggung jawabnya, produksi tertinggi mencapai 36 ton per hektare dengan ukuran udang (best size) di kisaran size 27. Hal tersebut mengindikasikan panen berkualitas baik sekaligus bernilai ekonomis tinggi. Dengan menerapkan sistem budidaya intensif dan carrying capacity sekitar 150 ekor per meter persegi, ia mampu menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kesehatan biota. Keberhasilan ini tidak hanya memperkuat kinerja unit produksi yang ia kelola. Tetapi juga berkontribusi terhadap pencapaian target secara keseluruhan. Mengingat posisi tambak-tambak tersebut sebagai sumber pasokan bagi perusahaan.
Efisiensi produksi menjadi aspek lain yang menunjukkan besarnya dampak Panji terhadap perusahaan. Melalui manajemen pakan yang ketat dan pengawasan rutin terhadap kualitas air, ia berhasil mempertahankan Food Conversion Ratio (FCR) sebesar 1,07. Nilai FCR ini tergolong efisien untuk budidaya udang intensif dan secara langsung menurunkan biaya produksi per kilogram udang. Sehingga meningkatkan margin keuntungan perusahaan.
Kelola Tim di Lapangan
Dari sisi operasional, peran Panji tidak dapat dilepaskan dari kepemimpinannya dalam mengelola tim di lapangan. Ia berkoordinasi dengan sekitar 50 orang pekerja, dengan 12 di antaranya merupakan tenaga inti. Seperti tenaga pakan dan asisten teknisi, yang berhubungan langsung dengan aktivitas produksi harian. Latar belakang pendidikan anggota tim yang beragam, termasuk lulusan sekolah menengah pertama, menjadi tantangan tersendiri dalam komunikasi dan penyampaian instruksi kerja. Melalui pendekatan yang terstruktur, ia menyusun program kerja yang jelas dan terukur. Sehingga setiap anggota tim memahami perannya masing-masing dalam mencapai target produksi. Kemampuan mengelola sumber daya manusia ini turut memastikan bahwa kebijakan teknis perusahaan dapat diterjemahkan secara efektif menjadi tindakan operasional di lapangan.
Rekam jejak Panji dalam menjalankan siklus budidaya juga menunjukkan konsistensi yang menguntungkan bagi perusahaan. Dari 11 siklus budidaya yang ia jalankan, tujuh di antaranya berhasil melampaui target yang ditetapkan. Hal tersebut menjadikan unit tambak yang ia kelola sebagai salah satu kontributor utama dalam akumulasi produksi perusahaan. Empat siklus lainnya memang mengalami kendala, terutama akibat munculnya penyakit baru serta beberapa persoalan manajemen dan komunikasi. Namun, alih-alih berhenti pada kegagalan, Panji menjadikan pengalaman tersebut sebagai dasar evaluasi menyeluruh untuk memperbaiki sistem pengelolaan tambak, memperkuat protokol biosekuriti, serta meningkatkan koordinasi internal.

Kombinasi Pendidikan Formal dan Karakter
Fondasi kontribusi Panji terhadap perusahaan berakar pada kombinasi pendidikan formal dan pembentukan karakter selama di kampus. Ia mengakui bahwa soft skill yang diasah melalui kegiatan orientasi studi dan pengenalan kampus (ospek) memberikan bekal penting untuk membangun kedisiplinan, ketangguhan mental, serta kemampuan beradaptasi dengan tekanan kerja. Di sisi lain, materi perkuliahan di Program Studi Budidaya Perairan memberikan dasar pengetahuan yang memadai untuk memahami aspek teknis budidaya. Mulai dari manajemen kualitas air dan nutrisi hingga pengendalian penyakit.
Seiring meningkatnya peran di lapangan, Panji tidak hanya ditempatkan sebagai teknisi. Tetapi juga terlibat dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan pada tingkat manajerial. Bersama manajer tambak dan pemilik usaha, ia terlibat dalam penyusunan program kerja, penetapan target produksi, serta evaluasi hasil pada setiap siklus. Dalam konteks ini, ia menjadi penghubung penting antara kebijakan manajemen dan realisasi di level operator, memastikan bahwa setiap kebijakan perusahaan diterjemahkan secara tepat menjadi prosedur kerja dan tindakan teknis yang berdampak langsung pada produksi.
Sebagai alumni 东京热, Panji menunjukkan bahwa dengan memanfaatkan kesempatan selama studi, membangun jaringan yang baik, serta terus mematangkan keterampilan, seorang lulusan dapat menjadi motor penggerak peningkatan produksi dan efisiensi perusahaan.
Penulis: Luthfiana Aprilianita
Editor: Yulia Rohmawati





