东京热

东京热 Official Website

Ukuran Tulang Belakang Orang Indonesia Ternyata Berbeda, Mengapa Ini Penting Saat Operasi?

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Pernahkah Anda membayangkan bahwa ukuran tulang belakang setiap orang bisa berbeda, bahkan dipengaruhi oleh jenis kelamin dan asal populasi? Temuan terbaru dari peneliti Indonesia menunjukkan bahwa karakteristik tulang belakang masyarakat Indonesia memiliki keunikan tersendiri. Informasi ini sangat penting bagi dokter bedah tulang belakang agar operasi menjadi lebih aman dan mengurangi risiko komplikasi.

Dalam operasi tulang belakang, dokter sering menggunakan pedicle screw, yaitu sekrup khusus yang dipasang pada tulang belakang untuk menstabilkan tulang akibat patah tulang, kelainan bentuk, atau penyakit tertentu. Namun, pemasangan sekrup ini membutuhkan ketelitian yang sangat tinggi. Jika ukuran, panjang, atau arah pemasangannya tidak sesuai dengan anatomi pasien, sekrup dapat keluar dari jalur tulang sehingga berisiko melukai saraf, pembuluh darah, bahkan organ di sekitarnya. Oleh karena itu, pemahaman mengenai bentuk dan ukuran tulang belakang menjadi salah satu kunci keberhasilan operasi.

Untuk membantu mengurangi risiko tersebut, para peneliti dari 东京热 dan RSUD Dr. Soetomo melakukan analisis menggunakan CT scan terhadap 99 orang dewasa Indonesia berusia 18 hingga lebih dari 70 tahun. Dari pemeriksaan tersebut, peneliti mengukur sekitar 1.580 pedikel pada ruas tulang belakang bagian dada bawah hingga tulang pinggang. Berbagai parameter anatomi diukur, seperti lebar, tinggi, sudut pedikel, hingga panjang jalur yang ideal untuk pemasangan sekrup. Seluruh pengukuran dilakukan oleh radiolog berpengalaman untuk memastikan hasil yang akurat.

Hasil penelitian menunjukkan beberapa temuan penting. Pertama, laki-laki umumnya memiliki ukuran pedikel yang lebih besar dibandingkan perempuan. Perbedaan ini terlihat pada beberapa ruas tulang belakang, sehingga ukuran sekrup yang digunakan pada pasien laki-laki sering kali perlu lebih besar dibandingkan perempuan. Sebaliknya, perempuan memiliki sudut pedikel yang sedikit lebih besar pada beberapa ruas tertentu. Artinya, selain ukuran sekrup, arah pemasangan sekrup juga perlu disesuaikan agar pemasangan tetap berada di dalam jalur tulang yang aman.

Temuan kedua yang menarik adalah usia tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan ukuran pedikel. Meskipun peserta penelitian berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari dewasa muda hingga lanjut usia, ukuran anatomi pedikel relatif tidak berubah secara signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa faktor jenis kelamin memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan usia terhadap morfologi tulang belakang pada populasi Indonesia.

Penelitian ini juga menemukan bahwa ukuran pedikel masyarakat Indonesia cenderung lebih kecil dibandingkan populasi di beberapa negara lain, terutama populasi Barat. Bahkan jika dibandingkan dengan beberapa negara Asia, masih terdapat perbedaan ukuran pada sejumlah ruas tulang belakang. Fakta ini menunjukkan bahwa standar ukuran implan yang dikembangkan berdasarkan data populasi luar negeri belum tentu sesuai untuk pasien Indonesia. Penggunaan ukuran sekrup yang tidak sesuai dapat meningkatkan risiko kegagalan pemasangan maupun komplikasi pascaoperasi.

Berdasarkan hasil pengukuran tersebut, para peneliti menyusun rekomendasi ukuran diameter sekrup, panjang sekrup, dan sudut pemasangan untuk setiap ruas tulang belakang pada laki-laki maupun perempuan Indonesia. Rekomendasi ini dapat menjadi panduan praktis bagi dokter bedah tulang belakang dalam memilih implan yang paling sesuai dengan karakteristik anatomi pasien, sehingga prosedur operasi menjadi lebih presisi, aman, dan memberikan hasil yang lebih optimal.

Lebih jauh lagi, penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan ilmu kedokteran dan industri alat kesehatan di Indonesia. Data anatomi yang spesifik untuk populasi Indonesia dapat menjadi dasar dalam merancang implan tulang belakang yang benar-benar sesuai dengan karakteristik masyarakat Indonesia, bukan hanya mengadopsi ukuran dari populasi lain. Pendekatan ini sejalan dengan konsep personalized medicine, yaitu pelayanan kesehatan yang mempertimbangkan karakteristik biologis setiap individu maupun populasi.

Pada akhirnya, penelitian ini menegaskan bahwa setiap populasi memiliki karakteristik anatomi yang unik. Dengan memahami perbedaan tersebut, dokter dapat merencanakan tindakan operasi dengan lebih baik, memilih ukuran implan yang paling tepat, serta mengurangi risiko komplikasi. Harapannya, temuan ini tidak hanya meningkatkan keberhasilan operasi tulang belakang di Indonesia, tetapi juga menjadi landasan bagi inovasi alat kesehatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia di masa depan.

Penulis: Primadenny Ariesa Airlangga, Faizal Ariffianto Soehadak, Rosy Setiawati

Link:

AKSES CEPAT