东京热

东京热 Official Website

Tips Proses Kreatif dan Swasunting Naskah Ala Penulis Buku Silsilah Duka

Penulis Buku Silsilah Duka dan Editor, Dwi Ratih Ramadhany dalam acara 鈥淲ebinar Bedah Buku Silsilah Duka鈥漮leh Divisi Advokasi Kesejahteraan Mahasiswa dan Divisi Riset Keilmuan HMD Bahasa dan Sastra Indonesia 东京热 (UNAIR) pada Minggu (29/5/2022) (Foto : Tangkapan Layar Zoom Meeting)

UNAIR NEWS – Divisi Advokasi Kesejahteraan Mahasiswa dan Divisi Riset Keilmuan HMD Bahasa dan Sastra Indonesia 东京热 (UNAIR) mengadakan acara yang bertajuk 鈥淲ebinar Bedah Buku Silsilah Duka鈥 pada pada Minggu (29/5/2022) melalui zoom meeting.

Dalam sesi kedua itu, Penulis Buku Silsilah Duka dan Editor, Dwi Ratih Ramadhany berbagi pengalamannya menulis proses kreatif buku Silsilah Duka. Menurutnya, novel tersebut ditulis berdasarkan apa yang ada di sekitar lingkungannya. Tentunya menulis hal yang dekat dengan problematika manusia, khususnya perempuan.

Proses Kreatif

鈥淒an settingnya memang berada di Madura, itu dekat sekali denganku, meskipun aku tidak tinggal lagi di Madura lagi, tetapi sering mengingat masa lalu dan cerita dari mitos turun temurun,鈥 Ucapnya.

Dengan setting yang dekat dan familiar dengan penulis, Lanjut Dwi, maka akan lebih mudah mengetahui tempat yang akan digunakan di dalam novel. Penggunaan latar juga diperlukan adanya riset, sehingga tidak hanya mengetahui aksesoris atribut saja, melainkan juga dapat diketahui kehidupan sosial, kebudayaan, tingkah laku, gagasan dan pola pikir orang-orang di lingkungan tersebut.

鈥淒alam riset langkah-langkah yang aku lakukan seperti bertanya ke orang-orang setempat, membaca buku, ke teman-temanku yang ada di Madura dan yang di luar Madura,鈥 Imbuhnya.

Berkaitan dengan dengan proses menulis, Dwi mengungkapkan bahwa ia mulai menulis Silsilah Duka pada tahun 2014, sebelum ia menikah dan mempunyai anak. Terkait dengan bab penulisan, ia mengungkapkan bahwa bab pertama yang ia tulis pertama kali tidak banyak berubah, bahkan saat tenggat waktu yang ditentukan oleh perbit selama 3 bulan yang diselesaikannya dalam waktu 1 bulan saja.

Swasunting Naskah

Dalam menulis naskah Silsilah Duka, Dwi mengungkapkan bahwa naskahnya tidak terdapat banyak revisi karena ia melakukan swasunting. 鈥淢ungkin tips ini (Swasunting Naskah) dapat dijadikan bekal untuk teman-teman menyusun naskah, terutama naskah sastra, terlebih lagi diterbitkan ke media.鈥 Ucapnya.

Tips yang pertama, Sambung Dwi, adalah segera menyelesaikan naskah. Hal ini seringkali dialami oleh orang orang yang mendapatkan hasil tulisan namun beralih  membuat draf tulisan yang baru. Ia menyarankan agar tulisan yang sudah ditulis untuk segera diselesaikan tanpa melihat opsi draf lain.

Setelah menyelesaikan naskah, anda dapat mengambil jeda. Ini juga yang dilakukan oleh Dwi dalam menulis Silsilah Duka dengan mengambil jeda 2-3 hari. Di dalam jeda tersebut, dapat diisi dengan melakukan riset untuk memperkuat konsep cerita, seperti membaca buku, baik buku teori maupun buku referensi yang akan digunakan untuk menulis.

鈥淒alam jeda itu aku juga menonton film-film thriller atau sunyi-sunyi gitu sebagai rujukan Silsilah Duka, tetapi selama ini aku selalu baca buku,鈥 Imbuhnya.

Selanjutnya, setelah melakukan jeda dan sudah siap untuk membaca kembali naskah, baca kembali naskah tersebut dari awal dengan lebih detail. Menurut Dwi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membaca ulang sembari melakukan swasunting.

鈥渄iantaranya konsistensi tata bahasa, unsur intrinsik dan ekstrinsik, selingkung, logika cerita dan berusaha untuk membuat kalimat efektif dan tidak bertele-tele鈥 Ujarnya.

Penulis: Affan Fauzan

Editor: Feri Fenoria

AKSES CEPAT