UNAIR NEWS –聽鈥淜enapa kau memandangiku begitu鈥. Muka lonjong ini ganti aneh, ia menatapku seperti seorang psikolog. Entah apa yang ia tulis, tapi ia ulangi tingkahnya hingga beberapa kali. Memandangiku sejenak menulis, dan kuhitung lebih dari lima kali hingga rentetan bait tulisan penuh mengumpulkan sari pati isi ke dalam kertasnya itu.
鈥淏agaimana ?鈥
鈥淭ak ada order lagi.鈥
鈥淪udahlah, jawabannya akan kita tunggu kapanpun, semua tak ada yang akan mau merendah鈥
鈥淎ku keluar dulu鈥 tiba-tiba ada teriakan itu terdengar, salah seorang dari kami itu terlihat mulai tak sabaran.
Yang lain bertanya. 鈥淯ntuk apa ?鈥
鈥淲aktu sudah mendesak, kita dikejar tempo. Kalau rapat resmi esok hari tidak menghasilkan keputusan. Ini sama saja gagal鈥 ucapnya dengan ekspresi kelelahan.
鈥淟ebih baik gagal鈥, si lonjong yang sibuk tadi kini ikut menambah kebuntuan. 鈥淭anggungjawab kita bukan untuk gagal atau bersepakat, kita harus memilih integritas dari pada menuruti order-order yang beresiko tadi鈥
鈥淎pa kita akan mengambil resiko ?鈥
Lonjong berseru tegas. 鈥淚ya, lebih baik disalahkan atau kita bubar. Itu lebih mulia鈥. Intonasi terbata-bata 鈥淚-N-T-E-G-R-I-T-A-S鈥
鈥淭idak mungkin kita mengambil keputusan yang bermasalah. Mungkin tentang integritas tapi itu bermasalah dan juga menimbulkan permasalahan鈥
Jam 12.30. Waktu mulai larut, penghuni kafe juga makin sepi. Malam mulai terasa dingin, sepoi deburan titik-titik halus dari embun AC membasahi dinding kaca depan kafe. Ku kenakkan jaketku untuk menghalau kantuk.
鈥淪ampai pagi-pun kita tidak akan sepakat.鈥
鈥淎dakah besok, seorang ksatria yang berjiwa baja untuk mensudahi segalanya鈥
鈥淛angan berharap. Dirimu saja masih kolot dan keras, bagai karang yang kesepian di terpa deburan ombak, bukan makin mengalah, justru malah memecah-mecah partikel kokoh deburan air yang digerakkan oleh energi gelombang tersebut鈥
Karena memang tidak ada kesempatan untuk menyepakati sebuah keputusan yang berarti. Malam sepanjang-panjangnya di ulur-ulur oleh perdebatan yang melahap dari detik demi detik waktu, dari es teh sampai kopi pengulur kantuk, dari suguhan potato hingga makanan ringan yang sama sekali tidak mengenyangkan isi perut.
Ujian untuk memutuskan, diputuskan, dan untuk menjadikan musyawarah mufakat sebagai konsensus penting, atau untuk mensudahi gelap mata kita tentang voting yang meluap-meluap hingga menimbulkan hasil kembar.
鈥淪erahkan saja semua kepada yang kita percayai punya otoritas鈥. Karena kita tidak percaya pada kekuatan diri sendiri, kepada kemurnian objektivitas nilai tentang ukuran kebaikan dan penciri keunggulan yang harus diberat sebelahi. Tidak salah golongan atau keputusan itu, tapi salah pada rumus kejujuran yang kita belakangi. Nurani sejati tak akan pernah berbohong. (*)
Penulis: Sukartono (Alumni Matematika 东京热)
bersambung





