Sisa akar gigi umumnya dianggap sebagai masalah kesehatan yang perlu segera ditangani. Namun, temuan tersebut ternyata juga dapat menyimpan informasi penting dalam proses identifikasi seseorang. Penelitian terbaru dari 东京热 menunjukkan bahwa pola sisa akar gigi pada radiograf panoramik berpotensi digunakan sebagai salah satu data pendukung dalam odontologi forensik.
Penelitian ini menganalisis 4.796 radiograf panoramik pasien berusia 16 tahun ke atas yang menjalani pemeriksaan di Rumah Sakit Gigi dan Mulut 东京热 pada tahun 2024. Radiograf panoramik merupakan gambaran sinar-X yang menampilkan seluruh gigi serta rahang atas dan bawah dalam satu gambar. Sisa akar gigi dalam penelitian ini diartikan sebagai bagian akar yang tersisa setelah mahkota gigi hilang. Kondisi tersebut dicatat menggunakan kode ROV, yaitu kode sisa akar pada sistem pencatatan data gigi INTERPOL.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1.692 pasien, atau sekitar 35,4 persen, memiliki setidaknya satu sisa akar gigi. Artinya, lebih dari satu dari tiga pasien yang diperiksa menunjukkan temuan tersebut. Pada pasien yang memiliki sisa akar, jumlahnya rata-rata sekitar dua hingga tiga akar, meskipun pada beberapa pasien ditemukan dalam jumlah yang lebih banyak.
Jumlah sisa akar meningkat secara signifikan seiring bertambahnya usia. Kelompok usia lanjut cenderung memiliki lebih banyak sisa akar dibandingkan dengan kelompok usia muda. Temuan ini menunjukkan bahwa usia merupakan faktor yang lebih kuat dibandingkan dengan jenis kelamin dalam menjelaskan keberadaan sisa akar.
Perbedaan antara laki-laki dan perempuan memang ditemukan secara statistik, tetapi besarnya sangat kecil. Oleh karena itu, pola sisa akar tidak dapat digunakan sebagai penanda yang andal untuk memperkirakan jenis kelamin seseorang. Dilihat dari lokasinya, sisa akar paling banyak ditemukan pada gigi bagian belakang, terutama gigi geraham. Gigi geraham pertama rahang bawah memiliki angka tertinggi, yaitu 9,7 persen. Sebaliknya, gigi seri pertama rahang bawah memiliki angka terendah, yaitu 0,8 persen.
Temuan tersebut penting dalam identifikasi forensik yang berkaitan langsung dengan kepentingan hukum, seperti penetapan identitas korban, penyelidikan perkara, dan penerbitan dokumen kematian. Lokasi, jumlah, dan bentuk akar yang tersisa dapat dibandingkan antara data gigi seseorang semasa hidup dan kondisi gigi setelah meninggal. Kesesuaian pola tersebut dapat memperkuat proses pencocokan identitas dan menjadi bagian dari bukti ilmiah dalam proses hukum. Oleh karena itu, penelitian ini menegaskan pentingnya pencatatan dan penyimpanan radiograf gigi dengan baik. Rekam radiografis tidak hanya berguna untuk perawatan pasien, tetapi juga dapat menjadi dokumen pendukung yang bernilai dalam pemeriksaan forensik dan penyelesaian perkara hukum.
Penulis: Prof. Dr. Ahmad Yudianto, dr. Sp.F.M.Subsp.S.B.M(K)., SH., M.Kes
Artikel penelitian lengkap dapat dibaca pada:





