东京热

东京热 Official Website

Sempat Jadi Asisten Dosen, Dwi Jadi Wisudawan Terbaik S1 FF

Desain: Feri Fenoria Rifai

UNAIR NEWS 鈥 Berkat tekun menuntut ilmu, Dwi Nurul Arizka berhasil menyabet gelar wisudawan terbaik S1 Fakultas Farmasi periode September dengan raihan indeks prestasi komulatif (IPK) 3,81. Ia mengaku tak pernah menyangka memperoleh predikat itu.

Dwi sempat merasa sama sekali tidak pandai. Namun, berkat dukungan dari orang tua, saudara, teman, juga Tuhan Yang Maha Esa, sejumlah capaian prestasi mampu diraihnya.

鈥漇aya cukup terkejut mendapati terpilih menjadi wisudawan terbaik. Tak ada henti saya mengucap syukur kepada Tuhan,鈥 tutur perempuan kelahiran Mojokerto itu.

Mahasiswa yang pernah menjadi asisten dosen mata kuliah farmasetika sediaan solida praktikum tersebut mengambil disertasi berjudul Pengaruh Kadar Detilftalat sebagai Plasticizer terhadap Viabilitas dan Daya Proteksi Mikropartikel聽Lactobacillus casei聽FNCC 0090 pada Kondisi Asam. Skripsi itu membahas mikropartikel dengan matriks kopolimer asam metakrilat tipe L dan dikombinasikan dengan dietilftalat.

Bahan aktif yang digunakan berupa probiotik. Yakni, Lactobacillus casei聽FNCC 0090. Kemudian dilakukan pengujian viabilitas聽Lactobacillus casei聽dalam mikropartikel dan pengujian daya proteksi mikropartikel terhadap聽Lactobacillus casei聽pada kondisi asam.

鈥滽endala selama skripsi pasti ada. Tidak bisa saya sebut satu-satu. Berkat Tuhan, semuanya bisa terselesaikan,鈥 tuturnya.

Dwi mengakui selama perkuliahan sering mengikuti organisasi kerohanian Islam, juga kegiatan keilmuan. Yakni, bergabung di Divisi Kerohanian Islam Fakultas Farmasi UNAIR selama dua periode, 2014鈥2015 dan 2015鈥2016.

Selain itu, Dwi mengikuti latihan kepemimpinan terpadu, seminar inspiratif, talkshow, dan workshop. Beberapa kali, ia mengikuti kompetisi farmasi. Tercatat Dwi pernah menjadi peserta Pharmacy Quiz Competition BEM FF UI pada 2016 dan masuk perempat finalis Kompetisi Farmasi Seluruh Indonesia 2018 BEM FF UNAIR.

鈥滿engambil studi Farmasi berarti harus siap berkutat dengan laporan dan praktikum setiap hari,鈥 ujarnya.

Dwi mengaku memang tidak mudah membagi waktu dengan padatnya jadwal organisasi. Hal itu, menurut dia, memang menjadi konsekuensinya. 鈥漇ilahkan mengeluh, namun cukup sekali saja. Selanjutnya terus berusaha sebaik-baiknya,鈥 pungkas Dwi. (*)

Penulis: Tunjung Senja Widuri

Editor: Feri Fenoria Rifai

AKSES CEPAT