东京热

东京热 Official Website

Selenggarakan Kuliah Tamu, FEB UNAIR Kenalkan Prospek Karier Filantropi

UNAIR NEWS – Departemen Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) 东京热 (UNAIR) selenggarakan kuliah tamu 鈥淧rospek Pengembangan SDM Ekonomi Syariah di Dunia Filantropi Islam鈥. Acara itu berlangsung pada Kamis (15/6/2023) dan menyasar Mahasiswa S2 dan S3 Ekonomi Islam UNAIR.

Direktur dan Senior Consultant PT Inspirasi Melintas Zaman (IMZ) Fatchuri Rosidin menjadi pembicara dalam kuliah tamu tersebut. IMZ merupakan satu lembaga social enterprise, yakni perusahaan yang menerapkan strategi komersial untuk kepentingan sosial. 

Rosidin menjelaskan bahwa prospek karier dunia filantropi Indonesia memiliki potensi yang besar. Masyarakat Indonesia terkenal dermawan dan banyak melakukan amal. Bahkan, sedekah sudah menjadi bagian dari masyarakat.聽

鈥淜ita beruntung tumbuh di tengah kelas menengah muslim. Sekarang ini sedekah sudah menjadi gaya hidup, ini menjadi peluang yang sangat besar bagi kalian yang ingin bekerja di bidang filantropi,鈥 jelasnya.

Indonesia sebagai Negara Paling Dermawan di Dunia

Charities Aid Foundation (CAF) menobatkan Indonesia lima tahun berturut-turut sebagai negara paling dermawan di dunia. Artinya, banyak masyarakat Indonesia yang menyumbangkan tenaga, uang, dan waktunya untuk amal.

鈥淚ndonesia berkali-kali menjadi negara paling dermawan. Salah satu yang jadi ukurannya adalah mengeluarkan dana untuk membantu orang yang tidak mereka kenal,鈥 ujarnya.

Sayangnya, fakta itu masih belum bisa secara signifikan untuk mengatasi kemiskinan. Maka dari itu, Rosidin mengungkapkan tujuan utama IMZ sebagai perusahaan sosial memiliki tujuan utama untuk mengatasi kemiskinan. 

鈥淩iset tahun 2022, dana zakat terhimpun 12,4 triliun. Dari semua dana, hanya lima persen dana yang tersalurkan untuk mengatasi kemiskinan. Padahal, dengan jumlah dana yang terhimpun banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mengatasi kemiskinan鈥 sambungnya.

Keterampilan untuk Berkarier di Bidang Filantropi

Untuk sukses berkarier di dunia filantropi, sambung Rosidin, ada enam keterampilan yang harus mahasiswa miliki. Keenam skill tersebut adalah adaptif, solutif, komunikatif, leadership, inovatif dan kreatif, serta pengetahuan di bidangnya.

鈥淒unia filantropi membutuhkan itu, pengetahuan baru di nomor enam. Skill-skill yang lain akan kalian dapatkan di luar kuliah. Jadi kuliah jangan cuma kampus, perpus, kos,鈥 ungkapnya.  

Kompetensi untuk Berkarier di Bidang Filantropi 

Lebih lanjut, Rosidin juga menerangkan bahwa dunia filantropi membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki technical skill, soft skill, dan maturity. Sayangnya, generasi muda zaman sekarang masih sangat lemah di poin ketiga dan banyak yang harus jadi perhatian bersama.

鈥淵ang ketiga ini adalah PR generasi sekarang, yaitu PR kematangan. Dari tingkat maturity-nya, anak kuliah zaman sekarang sama kayak SMA zaman dulu. Lembur sedikit katanya ngga baik buat mental health, akhirnya seminggu kerja udah out,鈥 terangnya. 

Tidak Jadikan Gaji sebagai Ukuran

Rosidin menceritakan bahwa gaji tidak bisa jadi ukuran untuk berkarier di dunia filantropi. Bagaimanapun, ia menyadari bahwa di luar banyak karier yang dapat menjanjikan lebih jika menjadikan gaji sebagai tolok ukurnya. Menurutnya, berkarier di dunia filantropi bukan hanya bekerja tapi juga beramal.

鈥淧enting sekali memilih pekerjaan yang bukan hanya karena uang. Kerja harus punya mission, tahu apa yang akan kita lakukan dan yang jadi tujuan. Jadikan pekerjaan dan karier sebagai jalan menuju surga,鈥 pungkasnya. (*)

Penulis : Muhammad Badrul Anwar

Editor : Nuri Hermawan

Baca Juga: Puluhan Ribu Mahasiswa Peserta Kampus Mengajar Selesai Tunaikan Tugas

AKSES CEPAT