东京热

东京热 Official Website

Sains Forensik Baru: Lewat CT Scan Rahang Atas, Jenis Kelamin Korban Kini Bisa Terungkap Lebih Akurat

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Penentuan jenis kelamin pada jenazah yang rusak atau kerangka manusia yang tidak utuh kerap menjadi tantangan paling rumit bagi tim forensik di lapangan. Namun, penemuan sains terbaru berhasil menawarkan solusi inovatif: memanfaatkan teknologi pemindaian 3D pada tulang rahang atas (maksila).

Melalui studi pionir yang dipublikasikan dalam jurnal internasional Forensic Imaging tahun 2026, kolaborasi tim peneliti dari 东京热 dan Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), Malaysia mengembangkan metode Geometric Morphometrics (GM) berbasis pemindaian Computed Tomography (CT) 3D. Metode ini mampu membaca perbedaan struktur tulang rahang atas antara pria dan wanita secara presisi, bahkan dengan tingkat akurasi mencapai lebih dari 80 persen.

Dalam berbagai kasus bencana alam, kecelakaan massal, kecelakaan penerbangan, atau tindak kejahatan berat, kondisi jenazah sering kali ditemukan dalam keadaan rusak parah atau terfragmentasi. Secara konvensional, ahli antropologi forensik mengandalkan tulang panggul (pelvis) atau tengkorak bagian atas untuk mengidentifikasi jenis kelamin. Tulang panggul dianggap sebagai petunjuk paling akurat karena perbedaan fungsi biologis terkait proses melahirkan, sementara tengkorak bagian atas memberikan gambaran tegas mengenai tingkat maskulinitas struktur tulang dahi dan rahang bawah.

Namun, masalah utama di lapangan adalah tulang-tulang tersebut sangat rentan hancur akibat benturan keras, reruntuhan bangunan, atau paparan suhu ekstrem pada kasus kebakaran. Di sinilah tulang maksila鈥攖ulang yang membentuk bagian tengah wajah dan menopang susunan gigi atas鈥攎enjadi penyelamat penting. Tulang ini memiliki struktur anatomi yang relatif tebal, kokoh, serta terlindungi oleh jaringan lunak wajah dan organ sekitarnya, sehingga lebih sering ditemukan dalam kondisi relatif bertahan utuh di lokasi kejadian perkara.

Penelitian ini menganalisis citra pemindaian CT Scan dari 413 spesimen individu dewasa (210 laki-laki dan 203 perempuan) yang berusia antara 20 hingga 60 tahun pada populasi Malaysia. Menggunakan perangkat lunak pemetaan digital khusus, tim peneliti menempatkan 45 titik penanda (landmarks) 3D pada permukaan model rekonstruksi tulang maksila. Titik penanda ini berfungsi untuk mengisolasi dan menganalisis variabel bentuk (shape) dan ukuran (size) secara terpisah melalui pendekatan Geometric Morphometrics (GM).

Dari analisis statistik yang mendalam, tim peneliti mengungkap sejumlah perbedaan anatomis khas (dimorfisme seksual) yang sangat mendasar antara pria dan wanita:

  • Ukuran Keseluruhan (Centroid Size):

Tulang maksila pada pria terbukti memiliki ukuran sentroid yang secara signifikan lebih besar dibandingkan wanita (). Fenomena ini dipengaruhi oleh dorongan hormon androgen selama masa pubertas pria yang memicu masa pertumbuhan lebih panjang dan pembentukan massa tulang yang lebih tebal.

  • Batas Tepi Gigi (Margin Alveolar):

Pada pria, area margin alveolar (tempat melekatnya akar gigi-gigi atas) terlihat jauh lebih kasar, tebal, dan menonjol mengikuti kontur gigi. Sebaliknya, pada wanita, permukaan batas tepi gigi ini terlihat jauh lebih halus dan rata.

  • Lubang Saraf Wajah (Infraorbital Foramen):

Saluran atau lubang kecil tempat perlintasan pembuluh darah dan saraf di bawah rongga mata (infraorbital foramen) menunjukkan perbedaan bentuk yang mencolok. Pada pria, saluran ini cenderung berbentuk bulat sempurna, sedangkan pada wanita bentuknya lebih memanjang atau berbentuk oval.

  • Sambungan Tulang Pipi (Sutura Zigomaksilaris):

Persendian yang menghubungkan rahang atas dengan tulang pipi (sutura zigomaksilaris) pada wanita memiliki kemiringan sudut yang jauh lebih tajam dibandingkan pada pria.

  • Prosesus Frontalis:

Struktur tulang rahang atas yang mengarah ke atas menuju dahi (prosesus frontalis) pada pria tampak lebih membulat dan datar, sementara pada wanita bagian ini cenderung membentuk sudut yang lebih tajam dan melengkung.

Penggunaan algoritma klasifikasi Discriminant Function Analysis (DFA) yang dikombinasikan dengan teknik validasi silang (cross-validation) dalam studi ini mencatatkan tingkat akurasi prediksi yang sangat menjanjikan. Metode ini mampu mengklasifikasikan jenis kelamin dengan tingkat keberhasilan sebesar 83.3% untuk pria dan 81.8% untuk wanita (secara keseluruhan di atas 80%).

Keunggulan utama metode morfometri geometris 3D ini terletak pada kepastian datanya. Pada pengukuran manual tradisional, penguji sering mengandalkan jangka sorong atau pengamatan visual secara langsung yang rentan terhadap kesalahan manusia (human error) dan subjektivitas penilai. Sebaliknya, pemindaian CT Scan 3D yang dikombinasikan dengan koordinat spasial memberikan data digital yang dapat disimpan, dianalisis ulang, serta direproduksi (reproducible) kapan saja oleh tim ahli yang berbeda di seluruh dunia tanpa merusak fisik sampel tulang aslinya.

Penelitian ini juga menegaskan betapa krusialnya memiliki basis data antropologi forensik yang spesifik terhadap populasi lokal. Variasi morfologi kerangka manusia sangat dipengaruhi oleh faktor ras, etnis, genetika, hingga gaya hidup dan pola makan geografis. Selama ini, banyak negara berkembang yang masih mengandalkan basis data rujukan kerangka populasi Kaukasoid dari Eropa atau Amerika Utara, yang sering kali menghasilkan tingkat akurasi rendah ketika diterapkan pada populasi Asia Tenggara.

Tersedianya basis data baru berbasis populasi Malaysia ini menjadi pijakan vital bagi ilmuwan forensik regional. Metode ini tidak hanya membantu kepolisian dan tim medis DVI (Disaster Victim Identification) dalam mengidentifikasi korban bencana alam atau kejahatan, tetapi juga membuka peluang penerapan teknologi rekonstruksi wajah 3D yang lebih akurat di bidang kedokteran forensik.

Keberhasilan pemetaan 3D pada tulang maksila ini menandai pergeseran penting menuju era forensik digital. Dengan mengintegrasikan analisis citra medis modern dan pemrosesan komputasi matematika, tantangan identifikasi jasad yang dahulu memerlukan waktu lama kini dapat dilakukan lebih cepat, terukur, dan berbasis bukti ilmiah yang kokoh di pengadilan.

Di masa depan, pendekatan morfometri geometris 3D ini diharapkan dapat terus dikembangkan pada bagian-bagian tulang fragmen kecil lainnya. Inovasi ini membuktikan bahwa bahkan dari sekeping tulang rahang atas yang tersisa, sains mampu membaca “identitas rahasia” pemiliknya dan membantu mengembalikan nama serta martabat para korban yang telah tiada.

Ditulis oleh: Arofi Kurniawan, drg., Ph.D

Dikutip dari artikel ilmiah berjudul: A novel sex determination method: Geometric morphometrics of maxillary bone via CT scans in Malaysia

AKSES CEPAT