Indonesia merupakan salah satu negara megabiodiversitas yang memiliki kekayaan sumber daya alam luar biasa. Berbagai tanaman obat dan produk alami yang dihasilkan memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai inovasi di bidang kesehatan. Salah satu produk yang kini semakin mendapat perhatian adalah propolis, yaitu resin yang dikumpulkan oleh lebah tanpa sengat (Trigona spp.) dari berbagai jenis tanaman. Kandungan kimia propolis sangat dipengaruhi oleh vegetasi di sekitarnya. Oleh karena itu, propolis yang berasal dari kawasan dengan tanaman kelor (Moringa oleifera) memiliki karakteristik yang unik karena kaya akan senyawa antioksidan, seperti flavonoid, polifenol, dan berbagai metabolit sekunder yang berpotensi sebagai imunomodulator alami.
Potensi tersebut menjadi semakin penting ketika dikaitkan dengan upaya penanggulangan penyakit infeksi. Salah satu penyakit yang masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat adalah toksoplasmosis, yaitu penyakit yang disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii. Parasit ini mampu menginfeksi manusia maupun berbagai jenis hewan berdarah panas. Sebagian besar infeksi memang tidak menimbulkan gejala, namun pada ibu hamil dan individu dengan sistem imun yang lemah, toksoplasmosis dapat menyebabkan gangguan serius, bahkan mengancam keselamatan janin maupun penderita.
Selama ini pengobatan toksoplasmosis masih bergantung pada obat antiparasit, seperti kombinasi pyrimethamine dan sulfadiazine atau kotrimoksazol. Meskipun efektif, penggunaan obat tersebut dalam jangka panjang dapat menimbulkan efek samping berupa gangguan fungsi hati, gangguan sumsum tulang, hingga munculnya resistensi obat. Kondisi tersebut mendorong para peneliti untuk mencari alternatif terapi yang lebih aman, mudah diperoleh, dan berasal dari sumber daya alam lokal.
Salah satu penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti Fakultas Kedokteran Hewan 东京热 mengevaluasi potensi ekstrak etanol propolis Trigona spp. yang berasal dari kawasan budidaya kelor di Lombok, Nusa Tenggara Barat, sebagai imunomodulator pada mencit yang terinfeksi Toxoplasma gondii. Penelitian ini melibatkan 36 ekor mencit yang dibagi menjadi enam kelompok, yaitu kelompok kontrol sehat, kelompok terinfeksi tanpa terapi, kelompok yang mendapat terapi kotrimoksazol, serta tiga kelompok yang diberikan ekstrak etanol propolis dengan dosis 1 mg, 2 mg, dan 4 mg per ekor. Selanjutnya, peneliti mengamati ekspresi sitokin proinflamasi, yaitu Tumor Necrosis Factor-alpha (TNF-伪) dan Interferon-gamma (IFN-纬), menggunakan metode flow cytometry.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol propolis mampu menurunkan kadar sitokin proinflamasi, khususnya TNF-伪 dan IFN-纬. Efek terbaik diperoleh pada kelompok yang menerima dosis 4 mg per ekor. Menariknya, kadar kedua sitokin tersebut pada kelompok propolis dosis tertinggi lebih rendah dibandingkan kelompok yang memperoleh terapi kotrimoksazol. Temuan ini menunjukkan bahwa propolis berpotensi membantu mengendalikan respons inflamasi yang berlebihan selama infeksi tanpa menghambat mekanisme pertahanan tubuh secara keseluruhan.
Selain itu, penelitian juga mengevaluasi ekspresi caspase-3 sebagai indikator apoptosis. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada ekspresi caspase-3 di antara seluruh kelompok perlakuan. Demikian pula pada jaringan hati, ekspresi TNF-伪, IFN-纬, maupun caspase-3 tidak menunjukkan perbedaan signifikan pada hari kelima setelah infeksi. Peneliti menduga bahwa pada waktu pengamatan tersebut fase inflamasi akut mulai menurun sehingga respons imun di jaringan hati telah mengalami penyesuaian. Meskipun demikian, secara keseluruhan penelitian ini membuktikan bahwa propolis mampu memodulasi respons imun sistemik melalui penurunan sitokin proinflamasi.
Kemampuan tersebut diduga berasal dari kandungan senyawa bioaktif propolis, terutama flavonoid, polifenol, dan Caffeic Acid Phenethyl Ester (CAPE) yang memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi. Senyawa-senyawa tersebut diketahui mampu menghambat pembentukan radikal bebas serta menekan aktivasi jalur NF-魏B yang berperan penting dalam produksi sitokin proinflamasi. Dengan demikian, kerusakan jaringan akibat proses inflamasi berlebihan dapat diminimalkan sehingga peluang terjadinya komplikasi juga semakin kecil.
Pengembangan propolis sebagai kandidat terapi alami memiliki nilai strategis yang tidak hanya terbatas pada bidang kesehatan, tetapi juga mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Penelitian ini sejalan dengan SDG 3 (Good Health and Well-being) karena berkontribusi pada pengembangan terapi berbasis bahan alam yang berpotensi lebih aman dan terjangkau bagi masyarakat. Selain itu, pemanfaatan propolis lokal mendukung SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui optimalisasi sumber daya hayati Indonesia secara berkelanjutan dan bernilai tambah tinggi. Di sisi lain, budidaya lebah tanpa sengat juga mendorong pelestarian vegetasi lokal dan keanekaragaman hayati sehingga berkontribusi terhadap SDG 15 (Life on Land).
Meskipun hasil penelitian ini sangat menjanjikan, pengembangan propolis sebagai terapi pendukung masih memerlukan penelitian lanjutan. Peneliti menyampaikan bahwa penelitian ini belum mengevaluasi jumlah parasit di dalam jaringan maupun melakukan penilaian histopatologi hati secara kuantitatif, sehingga hubungan antara penurunan sitokin dengan tingkat infeksi masih perlu dipelajari lebih lanjut. Uji praklinis lanjutan, identifikasi senyawa aktif secara lebih mendalam, serta uji klinis pada manusia menjadi tahapan penting sebelum propolis dapat diaplikasikan secara luas sebagai produk kesehatan.
Melalui pemanfaatan kekayaan biodiversitas Indonesia yang didukung oleh penelitian ilmiah yang berkelanjutan, propolis Trigona spp. dari vegetasi kelor berpotensi menjadi salah satu inovasi unggulan nasional di bidang kesehatan. Inovasi ini tidak hanya membuka peluang lahirnya terapi alami yang lebih aman untuk penyakit infeksi, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi hasil perlebahan, memberdayakan masyarakat, serta memperkuat peran Indonesia dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.
Penulis: Lita Rakhma Yustinasari, drh., M.Vet., Ph.D.





