东京热

东京热 Official Website

Potensi Farmakogenomik untuk Personalisasi Pengelolaan Nyeri pada Anak dengan Kelainan Kongenital

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Farmakogenomik merupakan bidang ilmu yang mempelajari hubungan antara variasi genetik dan respons seseorang terhadap obat. Pendekatan ini menjadi salah satu fondasi penting dalam konsep precision medicine atau kedokteran presisi. Pada pelayanan bedah anak, pengendalian nyeri setelah operasi merupakan salah satu tantangan yang penting. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien anak masih mengalami nyeri yang tidak terkontrol secara optimal setelah tindakan pembedahan. Kondisi ini dapat memengaruhi proses pemulihan, kenyamanan pasien, hingga kualitas hidup anak selama masa perawatan. Selain faktor usia, jenis kelamin, dan jenis operasi, beberapa penelitian terdahulu membuktikan bahwa faktor genetik turut berperan dalam menentukan bagaimana seseorang merasakan nyeri dan merespons obat pereda nyeri.

Tim peneliti dari Departemen Anestesiologi dan Reanimasi Fakultas Kedokteran 东京热 (UNAIR) merasa perlu mengeksplorasi peran faktor genetik dalam kebutuhan analgesik pada pasien anak dengan kelainan kongenital. Dalam penelitian ini, tim meneliti gen Catechol-O-Methyltransferase (COMT), khususnya variasi genetik yang dikenal sebagai COMT rs4680. Gen ini berperan dalam metabolisme neurotransmiter seperti dopamin yang terlibat dalam mekanisme persepsi nyeri. Sebanyak 16 pasien anak dengan kelainan kongenital yang menjalani operasi di dua rumah sakit di Jawa Timur direkrut sebagai partisipan penelitian. Sampel mukosa mulut diambil setelah induksi anestesi untuk dilakukan pemeriksaan farmakogenomik menggunakan teknologi mikroarray genetik.

Hasil analisis menunjukkan tiga variasi genotipe COMT rs4680, yaitu: GG (aktivitas enzim tinggi) sebanyak 11 pasien; AG (aktivitas enzim sedang) sebanyak 4 pasien; dan AA (aktivitas enzim rendah) sebanyak 1 pasien. Genotipe GG merupakan variasi yang paling banyak ditemukan pada populasi penelitian.

Peneliti kemudian membandingkan variasi genetik tersebut dengan skor nyeri pascaoperasi serta jenis dan dosis analgesik yang diberikan. Secara statistik, penelitian ini belum menemukan hubungan yang bermakna antara variasi gen COMT rs4680 dengan skor nyeri pascaoperasi. Namun demikian, terdapat pola menarik pada penggunaan obat analgesik. Pasien dengan genotipe AA, yang secara teoritis memiliki aktivitas enzim lebih rendah dan sensitivitas nyeri lebih tinggi, tampak membutuhkan penggunaan analgesik seperti fentanyl dan parasetamol dalam dosis yang relatif lebih besar dibandingkan kelompok lainnya. Temuan ini sejalan dengan beberapa penelitian internasional yang menunjukkan bahwa variasi gen COMT dapat memengaruhi persepsi nyeri dan kebutuhan analgesik. Meski demikian, jumlah pasien dengan genotipe AA dalam penelitian ini masih sangat sedikit sehingga diperlukan penelitian lanjutan dengan jumlah sampel yang lebih besar.

Melalui penelitian ini, peneliti berharap pendekatan farmakogenomik dapat digunakan di masa depan untuk menentukan terapi yang lebih tepat bagi setiap pasien berdasarkan profil genetiknya. Pada bidang anestesi dan manajemen nyeri, pendekatan ini diharapkan dapat membantu menentukan jenis analgesik yang paling efektif sekaligus meminimalkan efek samping. Penelitian ini merupakan salah satu studi pertama di Indonesia yang mengevaluasi hubungan polimorfisme COMT rs4680 dengan respons nyeri pascaoperasi pada pasien anak dengan kelainan kongenital. Tim peneliti berharap hasil penelitian ini dapat menjadi dasar bagi penelitian multisenter dengan jumlah sampel yang lebih besar, sekaligus membuka peluang penerapan pemeriksaan farmakogenomik dalam praktik klinis sehari-hari.

Penulis: Dr. Anna Surgean Veterini, dr., Sp.An.KIC.

Link:

AKSES CEPAT