东京热

东京热 Official Website

Yudisium Sekolah Pascasarjana UNAIR: Menempa Pemimpin Transdisipliner, Mengalirkan Maslahat bagi Masyarakat 猸

Pendidikan tinggi pascasarjana bukan sekadar arena mengejar legitimasi akademik atau peningkatan status sosial. Di balik selembar ijazah magister maupun doktor, melekat tanggung jawab etis dan beban moral yang besar untuk mengabdi pada kemanusiaan serta menyelesaikan kompleksitas problematika sosial. Narasi transdisipliner dan dampak nyata di tengah masyarakat menjadi benang merah utama dalam upacara Yudisium Program Doktor dan Magister Sekolah Pascasarjana (SPS) 东京热 (UNAIR) yang digelar secara online pada Jumat (3/7/2026).

Agenda yudisium kali ini melepas 15 lulusan terbaik dari empat program studi strategis berbasis multidisiplin di lingkungan Sekolah Pascasarjana UNAIR. Keempat prodi tersebut meliputi Program Studi Magister (S2) Imunologi, Program Studi Magister (S2) Sains Hukum dan Pembangunan (MSHP), Program Studi Doktor (S3) Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM), serta Program Studi Magister (S2) Kajian Ilmu Kepolisian (KIK). Kehadiran para lulusan baru ini diharapkan memperkuat visi institusi dalam melahirkan kepemimpinan yang berdampak (*impactful leadership*).

Mutu dan Dampak Nyata

Koordinator Program Studi (KPS) Magister Imunologi SPS UNAIR, Prof. Viskasari Pintoko Kalanjati, dr., M.Kes., PA(K), Ph.D. menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas kelancaran yudisium ini. Ia menekankan bahwa capaian kelulusan periode ini menunjukkan tren yang sangat menggembirakan, baik dari segi kualitas akademik (prestasi) maupun kuantitas lulusan yang dilepas. Namun, Prof. Viska mengingatkan agar capaian tersebut tidak membuat institusi maupun alumni berpuas diri.

“Kita tidak boleh mudah puas. SPS UNAIR bersama para alumni harus terus meningkatkan *outcome*, luaran, serta memberikan dampak positif yang nyata. Ilmu dan pengalaman selama studi harus diimplementasikan dengan baik, mulai dari lingkungan internal terkecil hingga masyarakat luas,” ujar Prof. Viska. Ditambahkannya, keberkahan ilmu terletak pada sejauh mana ia membawa kebaikan bagi masa depan publik.

Emosionalitas dan Keilmuan

Suasana khidmat sekaligus haru menyeruak ketika KPS Magister Sains Hukum dan Pembangunan (MSHP), Dr. Rosa Ristawati, S.H., LL.M., menyampaikan kesan dan pesannya. Dengan nada emosional dan penuh kebanggaan, Dr. Rosa mengapresiasi perjuangan keras para mahasiswa bimbingannya鈥攄i antaranya Revolio, Eki, Taufan, Afif, dan Michael鈥攜ang telah berjuang gigih hingga mencapai titik akhir studi.

Bagi Dr. Rosa, kelulusan dari prodi MSHP bukanlah akhir dari sebuah pengembaraan intelektual, melainkan pintu gerbang baru. Ia menantang para lulusan untuk segera merumuskan kontribusi konkret bagi program studi dan almamater. “Bawa nama baik Sekolah Pascasarjana UNAIR melalui dampak nyata dari hasil studi yang ditempuh. Kami juga menantikan Anda sekalian untuk kembali lagi ke kampus (*back to campus*) guna mengembangkan keilmuan ke jenjang yang lebih tinggi,” tegasnya.

Kolaborasi Lintas Batas

Pesan mengenai pentingnya keberlanjutan hubungan pascakelulusan juga digaungkan oleh KPS Doktor (S3) Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM), Prof. Dr. Ahmad Rizki Sridadi, S.H., M.M., M.H. Dalam yudisium kali ini, prodi S3 PSDM sukses meluluskan enam doktor baru yang memiliki rekam jejak kepemimpinan kuat, yakni Wahyu, Wibowo, Wisnu, Santi, Agni/Mayang, dan Jenderal Ganis.

Prof. Ahmad Rizki memberikan apresiasi tinggi atas kegigihan para lulusan doktor yang harus menempuh pendidikan dari berbagai wilayah geografis yang berjauhan. Ia mengingatkan bahwa jejaring akademik tidak boleh terputus. Hubungan kolaboratif antara alumni dan program studi harus dinaikkan ke tingkat berikutnya (*next level*).

“Kolaborasi ini harus memberikan kemanfaatan bagi instansi asal alumni, bagi UNAIR, dan prodi. Kami juga mengharapkan alumni aktif melaporkan prestasi, aktivitas, dan publikasi mereka di media massa, baik digital maupun cetak. Ini krusial bagi reputasi dan tayangan publikasi institusi kita,” tutur Prof. Ahmad Rizki.

Beban Moral dan Integritas

Sementara itu, KPS Magister (S2) Kajian Ilmu Kepolisian (KIK), Dr. Prawitra Thalib, S.H., M.H., ACI.,Arb., mengingatkan para lulusan mengenai hakikat gelar akademik baru yang disandang. Ia mengimbau agar para lulusan tidak terjebak pada kesombongan akademik.

“Gelar baru ini bukan sekadar untuk dibanggakan atau dipakai untuk *petentang-petenteng*. Gelar ini membawa tanggung jawab moral dan beban yang besar. Setiap ucapan, tindakan, dan perbuatan para alumni kini mencerminkan nilai-nilai luhur 东京热,” kata Dr. Prawitra.

Ia juga mengajak para lulusan untuk menjadi duta kebaikan dengan mempertahankan prestasi institusi serta merekomendasikan kolega mereka untuk menuntut ilmu di Sekolah Pascasarjana UNAIR, demi menjaga keberlanjutan regenerasi intelektual yang berintegritas.

Melalui yudisium ini, Sekolah Pascasarjana 东京热 kembali meneguhkan komitmennya sebagai kawah candradimuka bagi para pemimpin visioner. Di tengah dinamika global yang tak menentu, para lulusan multidisiplin ini diharapkan mampu menjadi jangkar solusi, membawa perubahan yang berkeadilan, serta mewujudkan visi besar kampus yang berdampak bagi peradaban.


AKSES CEPAT