东京热

东京热 Official Website

Cegah Stunting Sejak Usia Sekolah, FKH UNAIR Lakukan Pemeriksaan Antropometri Siswa SDN Bendo di Bojonegoro

Bojonegoro, 6 Juli 2026. Pencegahan stunting tidak hanya menjadi perhatian pada masa balita, tetapi juga memerlukan pemantauan berkelanjutan selama anak berada pada usia sekolah. Sebagai bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) 东京热 (UNAIR) bersama dosen Fakultas Kedokteran 东京热 melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk 鈥淧emeriksaan Antropometri untuk Deteksi Status Gizi Anak di Sekolah Bendo sebagai Upaya Pencegahan Stunting.鈥 Kegiatan berlangsung di SDN Bendo, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, dengan melibatkan 47 siswa kelas V dan VI sebagai peserta utama.

Program pengabdian masyarakat tersebut merupakan bagian dari komitmen 东京热 dalam mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat melalui pendekatan promotif dan preventif. Melalui pemeriksaan antropometri, tim pengabdian berupaya mendeteksi kondisi status gizi anak sejak dini sehingga potensi gangguan pertumbuhan dapat diketahui lebih cepat dan menjadi dasar dalam menentukan langkah intervensi yang tepat.

Kegiatan mendapat sambutan hangat dari pihak sekolah. Kepala sekolah beserta seluruh guru memberikan dukungan penuh selama pelaksanaan program dengan membantu koordinasi peserta, mengatur alur pemeriksaan, serta mendampingi siswa selama mengikuti setiap tahapan kegiatan. Sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah tersebut menjadi salah satu faktor penting yang mendukung kelancaran pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat.

Tim pelaksana terdiri atas dosen Fakultas Kedokteran Hewan 东京热 yang berkolaborasi dengan dosen Fakultas Kedokteran 东京热. Kolaborasi lintas fakultas tersebut menunjukkan pentingnya pendekatan multidisiplin dalam menyelesaikan persoalan kesehatan masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan status gizi dan pertumbuhan anak.

Pada kegiatan ini, setiap peserta menjalani serangkaian pemeriksaan antropometri yang meliputi pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas (LiLA), lingkar pinggang, dan lingkar panggul. Seluruh pemeriksaan dilakukan menggunakan alat ukur yang terstandar dengan prosedur yang sesuai sehingga menghasilkan data yang valid untuk menggambarkan kondisi pertumbuhan dan status gizi siswa.

Pengukuran berat badan dan tinggi badan dilakukan untuk mengetahui kondisi pertumbuhan anak berdasarkan indikator antropometri sesuai kelompok umur. Data tersebut selanjutnya dapat digunakan untuk menilai apakah pertumbuhan anak telah berlangsung secara optimal atau terdapat indikasi gangguan pertumbuhan yang memerlukan perhatian lebih lanjut. Selain itu, pengukuran lingkar lengan atas (LiLA) dilakukan sebagai salah satu indikator sederhana dalam menilai status gizi dan cadangan massa otot pada anak. Pengukuran ini memiliki peran penting dalam mengidentifikasi risiko kekurangan gizi maupun masalah gizi lainnya sehingga dapat menjadi bagian dari upaya deteksi dini.

Tim pengabdian juga melakukan pengukuran lingkar pinggang dan lingkar panggul. Kedua parameter tersebut memberikan informasi mengenai distribusi lemak tubuh serta kondisi komposisi tubuh anak. Meskipun stunting identik dengan gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis, pemantauan komposisi tubuh tetap diperlukan sebagai bagian dari evaluasi kesehatan secara menyeluruh, terutama di tengah meningkatnya prevalensi gizi lebih pada anak usia sekolah.

Seluruh hasil pemeriksaan dicatat secara sistematis sebagai bahan evaluasi status gizi peserta. Data tersebut diharapkan dapat menjadi informasi awal bagi sekolah maupun orang tua dalam memantau pertumbuhan anak secara berkala. Apabila ditemukan kondisi yang memerlukan perhatian lebih lanjut, hasil pemeriksaan dapat menjadi dasar untuk melakukan konsultasi dengan tenaga kesehatan sehingga intervensi dapat diberikan sedini mungkin.

Anak usia sekolah merupakan kelompok yang masih mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Pada fase tersebut, kebutuhan zat gizi harus terpenuhi secara optimal agar pertumbuhan fisik, perkembangan otak, serta kemampuan belajar berlangsung dengan baik. Oleh karena itu, pemantauan status gizi secara berkala menjadi bagian penting dalam upaya menciptakan generasi yang sehat dan berkualitas. Stunting merupakan salah satu bentuk gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis yang berlangsung dalam waktu lama. Dampaknya tidak hanya berupa tinggi badan yang lebih rendah dibandingkan standar usia, tetapi juga berpengaruh terhadap perkembangan kognitif, sistem kekebalan tubuh, prestasi belajar, hingga produktivitas ketika memasuki usia dewasa. Oleh sebab itu, pencegahan stunting memerlukan pendekatan yang komprehensif melalui edukasi, pemantauan pertumbuhan, serta peningkatan kesadaran seluruh elemen masyarakat.

Melalui kegiatan ini, 东京热 menunjukkan komitmennya dalam mendukung program pemerintah untuk mempercepat penurunan angka stunting di Indonesia. Perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus mitra masyarakat dalam memberikan edukasi berbasis bukti ilmiah serta pendampingan yang berkelanjutan. Kolaborasi antara Fakultas Kedokteran Hewan dan Fakultas Kedokteran 东京热 juga menjadi contoh implementasi kerja sama lintas disiplin dalam menjawab tantangan pembangunan kesehatan. Berbagai persoalan kesehatan masyarakat pada dasarnya memerlukan pendekatan yang terintegrasi sehingga solusi yang diberikan menjadi lebih komprehensif dan berkelanjutan.

Peran guru dalam kegiatan ini juga sangat penting. Selama proses pemeriksaan berlangsung, para guru membantu mengatur jalannya kegiatan, mendampingi siswa, serta memastikan setiap peserta mengikuti seluruh tahapan pemeriksaan dengan baik. Dukungan tersebut menunjukkan bahwa sekolah merupakan mitra strategis dalam membangun budaya hidup sehat sejak usia dini. Sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlangsungnya proses pembelajaran, tetapi juga menjadi lingkungan yang efektif untuk membentuk kebiasaan hidup sehat. Dengan adanya pemantauan status gizi secara berkala, sekolah dapat memperoleh gambaran mengenai kondisi kesehatan peserta didik sekaligus memperkuat program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) melalui berbagai kegiatan promotif dan preventif.

Kegiatan pengabdian masyarakat ini juga sejalan dengan komitmen 东京热 dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Program pemeriksaan antropometri dan edukasi gizi memberikan kontribusi terhadap SDG 2 (Zero Hunger) melalui upaya peningkatan status gizi anak serta pencegahan berbagai bentuk malnutrisi, termasuk stunting. Selain itu, kegiatan ini mendukung SDG 3 (Good Health and Well-being) dengan meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya deteksi dini status gizi, pemantauan pertumbuhan, serta penerapan pola hidup sehat sejak usia sekolah. Anak yang sehat memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh menjadi individu yang produktif dan mampu berkontribusi bagi pembangunan bangsa. Program ini juga berkaitan erat dengan SDG 4 (Quality Education). Status gizi yang baik berpengaruh terhadap kemampuan belajar, daya konsentrasi, serta perkembangan intelektual anak. Dengan demikian, upaya menjaga kesehatan dan gizi peserta didik merupakan bagian penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang berkualitas dan mendukung peningkatan prestasi akademik. Di sisi lain, sinergi antara Fakultas Kedokteran Hewan 东京热, Fakultas Kedokteran 东京热, SDN Bendo, serta para guru menjadi wujud nyata implementasi SDG 17 (Partnerships for the Goals). Kolaborasi antar lembaga menjadi fondasi penting dalam membangun program pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini, 东京热 kembali menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan tinggi yang tidak hanya unggul dalam pendidikan dan penelitian, tetapi juga aktif mengimplementasikan hasil keilmuan untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Pemeriksaan antropometri di SDN Bendo menjadi langkah nyata dalam mendukung deteksi dini status gizi anak sekaligus memperkuat upaya pencegahan stunting melalui pendekatan edukatif, kolaboratif, dan berbasis bukti ilmiah.

Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dengan cakupan sekolah yang lebih luas sehingga semakin banyak anak usia sekolah yang memperoleh manfaat dari pemantauan status gizi dan edukasi kesehatan. Dengan kolaborasi yang kuat antara perguruan tinggi, sekolah, tenaga pendidik, tenaga kesehatan, orang tua, dan pemerintah, upaya menciptakan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan bebas stunting akan semakin mudah diwujudkan. Pengabdian masyarakat ini menjadi bukti bahwa kontribusi perguruan tinggi tidak hanya hadir di ruang kelas dan laboratorium, tetapi juga nyata dirasakan oleh masyarakat melalui program-program yang memberikan manfaat langsung bagi peningkatan kualitas kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

Penulis,

Mufasirin, Dosen Divisi Parasitologi Veteriner

FKH UNAIR

AKSES CEPAT