¶«¾©ÈÈ

¶«¾©ÈÈ Official Website

Telusuri Jejak Budaya Pangan Mataraman

FIB NEWS – Tim peneliti Program Riset Jatim Melaju terus memperkuat pengumpulan data lapangan dalam penelitian bertajuk “Merekonstruksi Budaya Pangan Tradisional melalui Literasi Ekokultural: Model Pedagogi Bahasa, Sastra, dan Budaya untuk Memperkuat Kedaulatan Pangan Daerah (SDG 2) di Jawa Timur.” Salah satu agenda penting dilakukan melalui wawancara mendalam bersama budayawan Mataraman, Titus Tri Wibowo, di Joglo Taman Obor, Kota Madiun, pada Minggu (19/7/2026).

Kegiatan penelitian tersebut dilaksanakan oleh Dr. Nadya Afdholy, S.Hum., M.Pd., M.Hum. dari ¶«¾©ÈÈ dan Dr. Agik Nur Efendi, M.Pd. dari Universitas Islam Negeri Madura, dengan didampingi Dr. Ardi Wina Saputra, M.Pd., dosen Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) Kampus Madiun. Diskusi berlangsung sejak pagi hingga siang hari dalam suasana hangat dan penuh nuansa budaya, membahas berbagai aspek sejarah, tradisi, serta nilai-nilai ekologis yang membentuk budaya pangan masyarakat Mataraman.

Dalam perbincangan tersebut, Titus Tri Wibowo menguraikan jejak historis pecel Madiun, mulai dari asal-usulnya sebagai pangan rakyat hingga perkembangannya menjadi salah satu identitas kuliner Jawa Timur.

Dalam kesempatan tersebut, Titus Tri Wibowo juga menjelaskan asal-usul penyebutan pecel yang selama ini dikenal sebagai salah satu ikon kuliner Madiun. Menurutnya, istilah pecel tidak dapat dipastikan secara historis sebagai nama makanan sejak awal kemunculannya. Namun, kata tersebut diyakini berkaitan dengan proses pengolahan sayuran.

“Kata pecel sebenarnya tidak bisa dipastikan sudah digunakan sejak awal sebagai nama makanan. Namun, pada zaman dahulu, ketika orang membuat hidangan ini, sayur-sayurannya dipotong-potong. Dalam bahasa Jawa, ‘pecel’ berarti dipotong atau dipotong-potong. Dari proses itulah masyarakat kemudian mengenalnya sebagai pecel. Bahkan, menurut cerita yang berkembang di masyarakat, pada masa lampau pecel yang menggunakan daun kelor merupakan salah satu hidangan istimewa yang dikonsumsi para raja,” ujar Titus Tri Wibowo.

Ia menambahkan bahwa narasi tersebut menunjukkan bahwa pecel bukan sekadar makanan rakyat, melainkan bagian dari perjalanan panjang budaya pangan Nusantara yang merefleksikan pemanfaatan keanekaragaman hayati lokal. Penggunaan daun kelor dan lamtoro memperlihatkan bagaimana masyarakat sejak dahulu telah memanfaatkan tanaman yang tumbuh di lingkungan sekitar sebagai sumber pangan bergizi sekaligus membangun identitas kuliner yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Ia juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap semakin langkanya pecel gendong, tradisi berdagang pecel secara berkeliling yang dahulu menjadi bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat. Menurutnya, hilangnya praktik tersebut tidak sekadar mengurangi ragam kuliner tradisional, tetapi juga mengikis ruang interaksi sosial dan pewarisan nilai budaya antargenerasi.

Diskusi kemudian berkembang pada berbagai narasi budaya yang selama ini menjadi fondasi sistem pangan masyarakat Mataraman. Titus menjelaskan makna Legenda Dewi Sri sebagai simbol kesuburan, kemakmuran, dan penghormatan masyarakat terhadap alam sebagai sumber kehidupan. Selain itu, ia mengulas Legenda Baru Klinthing yang sarat dengan pesan moral mengenai keseimbangan antara manusia dan lingkungan, serta kisah-kisah dalam Cerita Panji yang memperlihatkan hubungan erat antara perjalanan hidup manusia, lanskap budaya, dan pengelolaan sumber daya alam.

Tidak hanya berhenti pada aspek folklor, wawancara juga menyingkap dinamika sejarah pangan masyarakat Mataraman pada berbagai periode penting bangsa. Titus memaparkan bagaimana masyarakat bertahan menghadapi keterbatasan pangan pada masa penjajahan, perubahan sosial yang terjadi setelah peristiwa tahun 1965 di Madiun, kebijakan pangan pada masa Orde Baru, hingga tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini. Menurutnya, setiap periode sejarah meninggalkan jejak yang membentuk cara masyarakat memproduksi, mengolah, mengonsumsi, dan memaknai pangan sebagai bagian dari identitas budaya.

Bagi tim peneliti, berbagai narasi tersebut menunjukkan bahwa budaya pangan tradisional tidak dapat dipahami semata sebagai persoalan kuliner. Di balik setiap makanan, tradisi, maupun cerita rakyat tersimpan pengetahuan ekologis, pengalaman sejarah, nilai-nilai sosial, serta strategi masyarakat dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan memenuhi kebutuhan pangan secara turun-temurun.

Dr. Agik Nur Efendi menjelaskan bahwa wawancara bersama budayawan menjadi bagian penting dalam proses merekonstruksi budaya pangan tradisional Jawa Timur melalui perspektif literasi ekokultural. Menurutnya, informasi yang diperoleh tidak hanya memperkaya dokumentasi budaya pangan, tetapi juga menjadi dasar dalam merumuskan model pedagogi yang mengintegrasikan bahasa, sastra, budaya, dan kearifan lokal sebagai sumber belajar.

Senada dengan itu, Dr. Nadya Afdholy menegaskan bahwa dokumentasi pengetahuan para budayawan memiliki arti strategis dalam upaya pelestarian warisan budaya takbenda. Pengetahuan lokal yang selama ini hidup dalam tradisi lisan perlu direkam, diteliti, dan ditransformasikan menjadi sumber belajar agar tetap relevan bagi generasi muda sekaligus mendukung penguatan kedaulatan pangan daerah.

Melalui rangkaian penelitian ini, tim berharap dapat menyusun dokumentasi ilmiah yang komprehensif mengenai budaya pangan tradisional Jawa Timur sekaligus menghasilkan Model Pedagogi Literasi Ekokultural yang mampu menghubungkan bahasa, sastra, budaya, dan nilai-nilai ekologis dalam pembelajaran. Dengan demikian, pelestarian budaya pangan tidak hanya berhenti sebagai upaya menjaga warisan masa lalu, tetapi juga menjadi bagian dari strategi membangun kesadaran ekologis, memperkuat identitas budaya, dan mendukung pencapaian Sustainable Development Goal (SDG) 2: Zero Hunger melalui penguatan kedaulatan pangan berbasis kearifan lokal.

AKSES CEPAT