东京热

东京热 Official Website

PESTRA 2026: Pesta Pora Para Pencinta Kata

Aroma kopi beradu dengan wangi kertas tua dari buku-buku yang terbuka di selasar Gedung 东京热. Di sudut panggung terbuka, riuh rendah suara panitia yang sedang menguji sistem suara terdengar seperti musik latar yang familiar. Bagi segenap fungsionaris Himpunan Mahasiswa Departemen (HMD) Bahasa dan Sastra Indonesia, atmosfer ini adalah penanda bahwa perhelatan paling agung mereka telah tiba: Pekan Bahasa dan Sastra, atau yang akrab di telinga dengan sebutan Pestra. Pestra bukan sekadar program kerja biasa. Ia adalah jantung, mahkota, sekaligus warisan turun-temurun yang menjaga eksistensi dan kreativitas mahasiswa. Setiap tahunnya, Pestra hadir sebagai wadah katarsis bagi para pencinta kata, panggung bagi mereka yang memilih merawat peradaban lewat untaian bait puisi, retorika pidato, hingga penghayatan mendalam sebuah monolog. Namun, tahun ini ada yang berbeda. Angin segar berembus di koridor organisasi Divisi Minat dan Bakat (Minbak) selaku motor penggerak sepakat bahwa Pestra kali ini tidak boleh hanya sekadar “jalan” atau sekadar menggugurkan kewajiban kalender proker. Tahun ini, Pestra harus bertransformasi menjadi gelaran yang jauh lebih keren, megah, dan berdampak luas.

Rencana besar itu dimulai tiga bulan lalu di sebuah ruang rapat sempit yang pengap oleh ide. Maka, dirancanglah sebuah konsep baru bertajuk “Sastra Tanpa Batas: Merayakan Rasa dalam Aksara dan Suara”. Minbak Sasindo Unair tidak hanya mempertahankan fondasi lomba tradisional, tetapi juga menyuntikkan elemen modernitas yang membuat Pestra tahun ini naik kelas. Jika tahun sebelumnya kepesertaan hanya mencakup wilayah Jawa Timur, tahun ini Pestra resmi meluaskan sayapnya ke kancah Nasional. Sistem pendaftaran ditransformasikan sepenuhnya secara digital menggunakan platform terintegrasi, lengkap dengan kurasi karya babak penyisihan yang melibatkan juri-juri berskala nasional鈥攎ulai dari sastrawan terkemuka, aktor teater profesional, hingga praktisi komunikasi. Perubahan besar ini langsung mendongkrak gengsi kompetisi sejak hari pertama publikasi pamflet digitalnya disebarkan.

Divisi Minbak pun merombak seluruh cabang lomba dengan inovasi yang segar. Pada cabang Cipta dan Baca Puisi, fokus penilaian tidak lagi sekadar pada penghayatan dan orisinalitas teks, melainkan juga musikalitas kata di mana babak final dilakukan secara teatrikal dengan iringan musik instrumen langsung (live). Sementara itu, lomba Pidato Retorika yang menguji ketajaman argumen dan artikulasi, kini difokuskan pada tema-tema isu global kontemporer dari sudut pandang budaya. Untuk cabang Monolog Teater, panitia memberikan panggung yang jauh lebih profesional dengan pemanfaatan tata lampu (lighting) dan teknologi mapping visual panggung untuk mendukung karakterisasi serta penjiwaan peserta. Terakhir, pada cabang Cipta Cerpen, struktur narasi dan estetika bahasa para peserta akan diuji, dengan janji bahwa karya para pemenang akan dibukukan dalam antologi ber-ISBN serta diterbitkan secara digital.

Senin pagi, Airlangga Convention Center (ACC) atau yang akrab disapa kampus B diselimuti kabut tipis sisa hujan semalam. Namun, kehangatan langsung merayap begitu gerbang Pestra dibuka. Dekorasi selasar tidak lagi menggunakan spanduk MMT biasa yang membosankan.

Divisi Minbak menyulap lorong-lorong menjadi galeri instalasi seni mikro. Kutipan-kutipan puisi dari Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, hingga gubahan mahasiswa Sasindo Unair sendiri digantung menggunakan kertas daur ulang dengan teknik pencahayaan yang estetis, sangat ramah untuk gawai anak muda yang haus akan visual aesthetic. Acara dibuka dengan penampilan memukau dari sang tuan rumah: teatrikal puisi oleh gabungan mahasiswa Minbak. Mereka memadukan gerak kontemporer dengan rapalan mantra sastra lama, sebuah simbolisasi bahwa tradisi dan modernitas bisa berjalan beriringan. Atmosfer teatrikal yang begitu kental sejak awal acara berhasil membuat para peserta, bahkan yang datang jauh-jauh dari luar kota, merasa takjub dengan keseriusan panitia dalam mengemas acara tahun ini.

Memasuki hari kedua dan ketiga, atmosfer kompetisi mulai memanas. Di ruang aula utama, lomba Monolog menjadi daya tarik utama. Tirai hitam dibentangkan, lampu sorot kuning hangat menembak ke tengah panggung. Sederet peserta dari berbagai universitas dan SMA se-Indonesia bergantian naik ke atas altar, memberikan seluruh jiwa mereka. Ada yang berperan menjadi seorang orator paruh baya yang gila karena korupsi, ada pula yang membawakan naskah klasik dengan interpretasi modern yang segar. Salah satu penampilan yang memukau penonton adalah ketika seorang peserta memanfaatkan efek bayangan (silhouette) di layar latar yang disediakan panitia, sebuah fasilitas teknis baru yang disediakan Minbak berkat kerja sama dengan komunitas teater lokal Surabaya. Di sudut lain kampus, ketenangan justru menjadi seniman utamanya. Di dalam ruang perpustakaan, para finalis Cipta Puisi dan Cipta Cerpen sedang bergelut dengan pikiran mereka sendiri. Minbak memberikan tantangan menulis spontan (impromptu) berdasarkan stimulus visual berupa lukisan abstrak yang baru dibuka saat lomba dimulai. Ini adalah ujian sejati bagi intuisi dan ketajaman pena seorang sastrawan, memaksa mereka memeras kreativitas dalam waktu yang terbatas.

AKSES CEPAT