东京热

东京热 Official Website

Novel-novel Murata Sayaka: Menggugat Normalitas yang berlaku di Masyarakat

Kehidupan manusia modern yang semakin kompleks dan rumit seringkali menyisakan berbagai macam persoalan psikologis bagi orang-orang yang kurang bisa beradaptasi. Orang-orang seperti ini seringkali dianggap 鈥渁neh鈥� oleh lingkungan sekitarnya. Bagi mereka, terkadang hanya ada dua pilihan untuk mengatasi persoalan tersebut, yaitu 鈥減ura-pura鈥� beradaptasi atau hidup dalam dunianya sendiri. Kondisi seperti ini mendapatkan perhatian serius oleh novelis kontemporer Jepang: Murata Sayaka di dalam karya-karya sastranya. Ia melontarkan pertanyaan serius kepada kita semua, siapa yang sebenarnya berhak menentukan seseorang hidup normal atau tidak. Ia mengkritik masyarakat yang seringkali menolak kehidupan normal tiap individu dan cenderung menginginkan semua orang berada di jalur rel conveyor yang sama seperti barang-barang yang dihasilkan di mesin produksi.

Kritik sosial oleh Murata Sayaka dalam dua novelnya yang berjudul 鈥淜ombini Ningen/ Gadis Minimarket鈥� (2016) dan 鈥淐hikyu Seijin/ Mahluk Bumi鈥� (2018) ini ditelaah dan dijelaskan oleh Assoc. Dr. Piyanuch Wiriyaenawath (Thammasat University Thailand) dalam kuliah tamu yang bertajuk: Sayaka Murata鈥檚 Literature and Gender: Re-examining The Meaning of Normal. Acara yang dilaksanakan pada hari Senin, 7 September 2026 pukul 15:00-16:30 secara daring ini dibuka oleh Kaprodi 东京热 dengan pesan agar para mahasiswa dapat menimba ilmu sebanyak-banyaknya dari penjelasan dosen tamu ini, terutama yang berhubungan dengan sastra dan tema-tema sosial masyarakat Jepang dewasa ini.

Dalam emailnya setelah acara, pembicara: Assoc. Dr. Piyanuch Wiriyaenawat sangat terkesan dengan antusiasme mahasiswa yang mengikuti acara ini dari awal hingga akhir. Sebagai contoh; Zahida: mahasiswa Angkatan 2025 menyampaikan bahwa ia belum pernah membaca novel-novel tersebut namun tertarik ingin mengetahui hal-hal apa saja yang dilakukan oleh tokoh-tokoh utama novel tersebut agar dapat terus bertahan di dunia ini. Sedangkan Satriyo: mahasiswa Angkatan yang sama menyatakan keraguannya bahwa manusia dapat hidup tanpa mengikuti norma sosial yang berlaku di sekitarnya. Menariknya, meskipun baru berada di tahun kedua, mahasiswa-mahasiswa ini telah mencoba menyampaikan pendapatnya dalam bahasa Jepang yang cukup fasih.

Di akhir acara, penulis yang juga merupakan moderator kuliah tamu menyimpulkan bahwa karya sastra memberikan ruang kebebasan bagi para sastrawan untuk mengekspresikan segala macam pemikirannya. Namun di dalam dunia nyata, manusia tidak bisa hidup seenaknya. Mereka harus hidup di tengah-tengah masyarakat yang mempunyai aturan secara umum. Aturan-aturan atau norma sosial inilah yang mau tidak mau harus dipatuhi. Membaca karya sastra tidak hanya untuk menghibur diri semata, namun juga memberikan kesempatan bagi para pembaca untuk dapat melakukan intropeksi sekaligus menumbuhkembangkan empati kita terhadap orang lain.

(Penulis: Antonius R. Pujo Purnomo)

AKSES CEPAT