UNAIR NEWS –聽Telah lama aku menunggu suratmu. Menunggu ceritamu dari tempat barumu. Sampai hari terjauh ini, berapa banyak teman barumu ? Apakah mereka ada yang sok sepertiku ? Atau kau juga merasakan hari yang sebaliknya, menjengkelkan dan penuh dengan kebosanan.
Jika kita masih bisa bercakap-cakap, kupaksakan ini adalah kelanjutan dari Piramida Warna, sebongkah fiksi persahabatan dua kawan yang tak harus dipisahkan oleh ruang waktu yang tetap akan didesak dalam lakon-lokonnya yang tak boleh terputus.
Kau ingat gang sempit itu.
鈥淗ei.. kita kesasar. Kemana ini ?鈥 ujarmu dulu.
Buta arah, tak ada peta, berat bertanya, dan motor kita pacu berputar tanpa panduan yang pasti.
鈥淜emana ini ?鈥 tanyamu lagi.
Hanya menggelengkan saja, keyakinankupun penuh buntu. Dan dipercabangan jalan kita bersilang suara hendak kemana.
鈥淔irasatku, kesana !鈥 kau menunjuk jalan ke arah Mall besar.
鈥淜ayaknya kesana deh.鈥
Sepertinya memang ketersesatan ini membuat kita menghabiskan banyak waktu dalam perasaan cemas-cemas acuh. Dan terus kini, sebab putus asanya, kupersilahkan kamu sebagai pengemudinya.
鈥淜ayakke aku pernah kenal tempat ini deh鈥 ujarmu di depan.
鈥淜emana ?鈥
鈥沦别产别苍迟补谤..鈥
Kita menepi, dan kuputuskan untuk tanya kepada seorang penjual pinggir jalan. Walhasil sedikit kecewa, ternyata kita kesasar begitu jauh, pedagang itu hanya bisa mengarahkan sepanjang jalan yang diingatnya saja.
Laju kendaraan terus kau jalankan, dan rambu-rambu jalan yang minim membawa ketersesatan ini kian panjang.
鈥淜ata Ibu tadi, dari lampu merah belok ke kanan. Kog ini belok kekanan mentok gang buntu ya ?鈥 sambil tepok jidat.
Baiklah, aku bolehkan tersenyum susah. Akhirnya ku telepon salah seorang teman untuk menjemput kita. Sebelumnya, lagi aku turun bertanya alamat tempat kita kesasar.
鈥淭耻耻迟迟迟鈥耻耻迟迟迟鈥耻耻耻迟迟鈥
Bunyi deringnya terengar lagu nyaring, namun tidak diangkat lama. Oh, sungguh takdir. Sepertinya temanku ini sedang tidak bersama ponselnya.
鈥淕imana ?鈥
鈥淓s..degan saja, dulu.鈥
Di pinggir jalan, kita tenangkan hati sejenak. Dan kebetulan saja, seperti jodoh saja, ketika mbayar dan bertanya arah pulang. Ada seorang pembeli yang nimbrung percakapan.
鈥淜emana mas ?鈥
鈥淜e Maskumambang Pak.鈥
鈥淥h..saya juga mau ke arah yang sama. Tak barengi saja kalau kesasar.鈥
Syukurlah, kita terselamatkan juga. Dan endingnya kamu kapok jika bepergian cuman berdua saja. Takut kesasar lagi. Agak geli memang mengingatnya, tapi jauh disana, kau pasti punya cerita baru yang lebih indah kau ceritakan dalam suratmu.
Dalam sebuah pesan pendek kutulis 鈥..kutunggu ceritamu鈥 .
Penulis: Sukarto





