东京热

东京热 Official Website

Peran Media Sosial dalam Komunikasi Masyarakat Saat Menghadapi Bencana Alam

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Artikel ini membahas peran media sosial dalam komunikasi masyarakat saat menghadapi bencana alam, dengan fokus pada bagaimana warga lokal memanfaatkan platform digital untuk bertukar informasi, saling membantu, dan menjaga keselamatan bersama. Kajian ini berbentuk scoping review dan menelaah 14 studi tentang penggunaan media sosial dalam berbagai bencana di Australia, seperti kebakaran hutan, banjir, siklon, dan kekeringan. Hasilnya menunjukkan bahwa media sosial bukan hanya alat komunikasi biasa, tetapi sudah menjadi bagian penting dari respons kesehatan masyarakat, pemulihan, dan ketahanan komunitas.

Secara umum, penggunaan media sosial dibagi ke dalam tiga fase: sebelum bencana, saat bencana, dan setelah bencana. Pada fase sebelum bencana, masyarakat menggunakan media sosial untuk memantau perkembangan kondisi cuaca atau ancaman yang mendekat. Warga saling berbagi informasi, seperti peringatan dini, foto, video, dan kabar terbaru tentang situasi di lapangan. Dalam tahap ini, media sosial juga menjadi tempat orang menyampaikan rasa khawatir, mencari kepastian, dan mendapatkan dukungan emosional dari orang lain. Aktivitas ini membantu masyarakat lebih siap menghadapi kemungkinan buruk yang akan datang.

Pada fase saat bencana terjadi, media sosial menjadi sarana penting untuk menjaga keselamatan. Warga aktif mencari informasi tentang jalur evakuasi, lokasi kebakaran, kondisi banjir, atau area yang aman. Mereka juga melaporkan kerusakan infrastruktur, seperti jalan, jaringan listrik, air, dan komunikasi. Selain itu, masyarakat menggunakan media sosial untuk memberi tahu keluarga dan teman bahwa mereka selamat. Hal ini sangat penting karena dalam situasi darurat, orang sering kali sulit dihubungi melalui saluran komunikasi biasa. Media sosial juga membantu warga saling memberi dukungan praktis dan memiliki fungsi sosial dan emosional yang besar. Orang tidak hanya mencari informasi, tetapi juga mencari rasa aman, kebersamaan, dan penguatan mental. Banyak unggahan berisi ucapan simpati, doa, terima kasih kepada petugas, atau dukungan kepada sesama korban. Dalam beberapa kasus, media sosial bahkan berperan seperti pertolongan psikologis awal, karena bisa mengurangi rasa takut, cemas, dan kesepian. Melalui interaksi digital, masyarakat merasa lebih terhubung dan tidak sendirian menghadapi krisis. Namun, media sosial juga menampilkan sisi lain yang penuh emosi. Dalam situasi bencana, muncul rasa marah, trauma, dan frustrasi, terutama ketika ada korban jiwa, kerusakan besar, atau lambatnya respons pemerintah. Banyak orang menggunakan media sosial untuk menyampaikan kekecewaan terhadap kebijakan pemerintah, terutama terkait kesiapsiagaan bencana dan perubahan iklim.

Pasca-bencana, fungsi media sosial berkembang ke arah pemulihan dan advokasi. Galangan dana untuk rehabilitasi lingkungan dan dukungan bagi penyintas menjadi agenda utama yang digerakkan melalui kekuatan berbagi (share). Lebih dari itu, media sosial menjadi wadah bagi warga untuk menyuarakan keresahan politik. Kritik tajam terhadap pemerintah mengenai lambannya respons bencana atau kegagalan dalam kebijakan perubahan iklim sering kali menjadi sorotan publik yang masif. Fenomena ini membuktikan bahwa media sosial kini merupakan instrumen advokasi kesehatan masyarakat yang sangat kuat. Namun, di balik manfaatnya yang besar, penelitian ini juga menyoroti tantangan yang tak bisa diabaikan. Masalah utama yang paling mengancam keselamatan adalah penyebaran misinformasi鈥攕eperti klaim kesehatan palsu鈥攜ang dapat memicu kepanikan dan mengaburkan panduan resmi otoritas. Selain itu, masalah eksklusi digital bagi kelompok lansia, warga di wilayah terpencil, atau mereka yang kurang literasi digital tetap menjadi celah yang membuat sebagian kelompok masyarakat lebih rentan dalam situasi darurat.

Sebagai kesimpulan, media sosial bukan lagi sekadar alat pelengkap, melainkan aset kesehatan masyarakat yang krusial. Temuan ini memberikan pesan kuat bagi para pengambil kebijakan untuk tidak hanya memandang media sosial sebagai gangguan, melainkan sebagai ekosistem informasi yang harus dikelola dengan bijak. Integrasi antara komunikasi resmi pemerintah dengan dinamika komunitas di media sosial dapat memperkuat resiliensi atau ketahanan masyarakat. Dengan memperkuat literasi digital dan keterlibatan aktif otoritas di ruang siber, media sosial dapat terus diandalkan sebagai garda terdepan dalam menyelamatkan nyawa dan membangun kembali komunitas yang tangguh di masa depan.

Penulis:
Nuzul Qur’aniati, S.Kep., Ns., M.Ng.,PhD

Detail tulisan ini dapat dilihat di:

AKSES CEPAT